Perubahan dalam Otak yang dapat Memicu Migrain

Kemungkinan Anda merasa frustasi lantaran mengalami migrain yang berat dan diberitahu hal itu berulang-ulang kali sebagai sesuatu yang tampak “normal”. Penderita mingrain seringkali merasa tidak dipahami atau menyebabkan prasangka fitnah, karena mereka menghabiskan waktu berjam-jam atau berhari-hari di tempat tidur dan tidak dapat berfungsi normal karena sebuah kelainan yang tidak dikenali dalam manifestasi medis yang ada, kepada dunia luar. Ketika kami menemui pasien di klinik, kami menemukan hasil pemeriksaan neurologis yang normal dan gambar otak yang normal. Namun, kami sangat memahami bahwa proses fundamental kimia dari saraf otak yang mengambil alih, sehingga menyebabkan rasa sakit yang berat pada para penderita migrain.

Migrain adalah ajang ilmiah di mana kemajuan besar telah dilakukan selama beberapa dekade terakhir. Hal ini mendorong perkembangan dari pemahaman yang lebih tinggi mengenai penyakit dan lebih banyak pengobatan yang spesifik dan efektif. Neurobiologi merupakan salah satu arena yang menarik dari anatomi dan fisik manusia. Patofisiologi dari migrain merupakan peran dari berbagai tingkat kerumitan dari sistem saraf.

Menurut sejarah, diyakini rasa nyeri dari migrain merupakan akibat dari ekspnasi pembuluh darah besar (disebut vasodilation atau vasodilasi) yang memberikan suplai pada otak. Ekspansi itu kemudian mendorong terjadinya peregangan dari serat saraf yang menempel pada pembuluh darah tersebut, sehingga menimbulkan persepsi nyeri. Pengobatan diarahkan pada konstriksi atau mempersempit aksi ekspansi pembuluh darah tersebut.

Pada awal tahun 1990-an, eksperimen yang dilakukan menunjukkan, ketika saraf-saraf tersebut diaktivasi, mereka juga melepaskan neurotransmitter atau transmiter saraf yang menyebabkan pembesaran dan peradangan pada pembuluh darah. Interaksi antara transmiter saraf dan pembuluh darah ini dirasakan berperan dalam trigemino-vascular junctin atau penggabungan trigemin vaskular. Serat saraf yang berada di sekeliling pembuluh darah adalah cabang dari saraf trigeminal. Ketika mereka diaktivasi, gelombang listrik berjalan pada saraf trigeminal menuju brain stem atau batang otak bagian bawah, yang merupakan bagian paling sederhana otak. Ukuran batang otak itu hanya sebesar ibu jari Anda, tetapi beberapa fungsi penting terjadi di wilayah central nervous system (CNS) atau sistem saraf pusat ini. Saraf trigeminal memiliki tiga cabang: bagian ophthalmic atau mata, yang memberikan suplai pada area di sekitar mata dan dahi; bagian maxillary atau rahang atas, yang menyuplai pipi dan rahang bagian atas; dan bagian mandibular, yang memberi suplai untuk rahang bagian bawah. Informasi itu kemudian diteruskan pada sel yang juga akan menerima informasi dari kepala, muka, kulit kepala, sinus, dan leher.

Sesaat setelah penurunan itu dimulai, maka sangat mudah melihat munculnya berbagai gejala yang mengganggu para penderita migrain. Banyak penderita migrain merasakan sakit pada leher, kulit kepala yang melunak, nyeri pada wajah, muka yang bengkak, rasa dirobek dan menetesnya cairan dari hidung. Banyak dari gejala-gejala tersebut menakutkan bagi para penderita, namun sebenarnya hal itu masuk akal jika Anda memahami anatomi dair migrain dan bagaimana rasa nyeri itu mulai dan berkembang.

Baru-baru ini para ahli menyakini bahwa neuron yaitu sel dalam sistem saraf dalam tak emnjadi hyper-excitable atau terlalu mudah terangsang di antara serangan migraine, dan situasi tersebut membuat sel-sel tersebut rentan terhadap proses yang mendorong terjadinya migrain. Membtan yang mengelilingi sel-sel ini memiliki saluran mikroskpis melalui yang dilalui elektrolit dan tempat menempelnya neurotransmiter atau transmiter saraf, yang kemudian mendorng pada serangkaian reaksi kimia. Ketika saluran-saluran tersebut tidak normal, maka disebut sebagai channelopathy. Telah diusulkan bahwa migrain merupakan salah satu tipe dari channelpathy. Kondisi channelpathy akan membuat neuron tidak stabil dan rentan terhadap aktivasi spontan atau disfungsi. Jika kondisi tak berfungsi itu tampak pada permukaan otak, maka secara perlahan “gelombang” otak yang bergerak kemungkinan menyebar ke berbagai bagian otak. Fenomena ini disebut sebagai spreading cortical depression atau penyebaran depresi pada selaput otak, dialami sebagai aura oleh banyak orang. Aura bisa disertai dengan cahaya berkilat atau berkedip yang bergerak perlahan dalam penglihatan. Penyebaran depresi pada selaput otak mampu mengaktivasi serat saraf trigeminal, sebuah mekanisme yang menjelaskan mengapa sakit kepala muncul setelah aura dimulai. Hingga saat ini belum diketahui bagaimana sitem trigeminal itu diaktivasi tanpa adanya aura, namun peneliti masih berusaha untuk menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut.

Banyak zat dan reseptor memainkan peranan dalam penyebaran migrain. Calcitonin gene-related peptide (CGRP) atau gen kalsitonin terkait peptide diketahui dilepaskan dari bagian akhir saraf trigeminal saat serangan migrain. Neurotransmiter ini dianggap sebagai bagian utama yang menyebabkan dilasi dari pembuluh darah. Di antara beberapa reseptor yang penting yaitu serotonin atau 5-hydroxytryptamine (5-HT) receptor yang berada di dalam pembuluh darah dan tepat berada di bagian akhir ujung saraf trigeminal. Obat terbaru yang digunakan untuk mengobati migrain, disebut triptans, secara spesifik akan menyertai reseptor 5-HT, yang akan mendorong penyempitan dari pembuluh darah.

Selama bertahun-tahun, sakit kepala diyakini sebagai sebuah manifestasi psikologi terhadap neurotisisme atau sebagai refleksi dari sebuah kelemahan karakter dari seseorang secara individual. Kemajuan ilmiah dan genetik dalam memahami migrain telah membawa kita semakin menjauh dari menyalahkan korban, dan hasil pengobatan telah merevolusi manajemen terhadap sindrom rasa sakit yang menghancurkan ini. Tidak mengherankan, seketika setelah migrain disebut secara ilmiah sebagai penyakit neurologis, semakin banyak perhatian dan sumber daya ditujukan untuk lebih memahami secara ilmiah dan manajemen dalam menghentikan penyakit tersebut.

Migrain | Penyebab Migrain

This entry was posted in Migrain. Bookmark the permalink.