Polip Hidung

Polip hidung adalah pertumbuhan berbentuk tetesan air yang biasanya mulai dari membran mukosa di rongga sinus dan meluas ke hidung. Tidak ada hubungan antara polip hidung dengan polip di usus. Polip hidung yang kecil sering tidak menimbulkan gejala dan tidak diketahui keberadaannya, sedangkan polip yang lebih besar dapat menyumbat saluran hidung secara menyeluruh. Meskipun asal polip sebenarnya tidak diketahui, sebagian besar polip sering timbul pada pasien yang mengidap peradangan sinus kronis. Kita tahu berkisar antara 30% dan 50% pasien dengan polip hidung memiliki tes kulit positif terhadap alergen, menandakan bahwa alergi merupakan penyebab pada sebagian besar pasien. Polip hidung lebih sering timbul pada orang dewasa, pasien asma, pasien dengan reaksi alergi terhadap aspirin dan obat anti-inflamasi non steroid (misal: ibuprofen), dan orang dengan riwayat keluarga polip hidung. Polip sangat jarang terjadi pada anak kecuali ada fibrosis kistik. Gejala polip hidung yang paling sering adalah hidung berair (konsistensi sering kental dan berwarna kuning), hidung mampet, hilangnya rasa pengecapan dan penciuman, post nasal drip, nyeri wajah, dan mendengkur. Dari semua gejala ini, yang paling menandakan keberadaan polip adalah menurunnya pengecapan dan penciuman.

Diagnosis polip hidung biasanya dibuat jika dokter melihat polip saat melakukan pemeriksaan hidung rutin. Namun, sekali polip diduga, pemeriksaan lebih detail sering dilakukan, meliputi endoskopi hidung (oleh ahli THT atau alergi) atau CT scan sinus. Bila polip dibiarkan tidak diterapi, pasien akan berisiko sering mengalami infeksi sinus berulang, obstructive sleep apnea (henti napas saat tidur), dan kasus yang paling berat yaitu perubahan struktur wajah (seperti pelebaran pangkal hidung). Pengobatan polip hidung hampir selalu memakai steroid intranasal. Obat ini akan mengecilkan polip atau menghilangkannya secara sempurna. Namun, jika kortikosteroid hidung tidak efektif, dokter dapat meresepkan kortikosteroid oral untuk pemberian jangka pendek (5 sampai 10 hari), seperti prednisone, yang mungkin diberikan tersendiri atau dengan kombinasi dengan semprot steroid intranasal. Dokter juga mungkin meresepkan obat lain untuk mengobati kondisi yang disertai inflamasi kronis di dalam sinus atau saluran hidung, seperti obat antihistamin untuk mengobati alergi, antibiotika untuk mengobati infeksi kronis atau berulang, atau obat anti fungal untuk mengobati gejala infeksi jamur. Jika terapi obat tidak mengecilkan atau menghilangkan polip hidung, dokter dapat merekomendasikan operasi. Jenis operasi tersebut tergantung pada besar, jumlah, dan lokasi polip. Untuk polip kecil, banyak dokter akan memilih melakukan polipektomi (eksisi polip), yang biasa dilakukan di tempat praktek. Untuk kasus yang lebih luas, terutama bila ada peradangan sinus kronis yang besar, operasi endoskopi sinus dapat direkomendasikan. Setelah operasi, Anda kemungkinan perlu memakai steroid intranasal untuk mencegah kekambuhan polip hidung. Selain itu, jika Anda mengidap alergi yang berarti, maka pengobatan vaksin alergi dapat berguna untuk mengendalikan gejala alergi yang terjadi bersamaan.

Sinusitis dan Hubungannya dengan Alergi | Hubungan antara Sakit Kepala Kronis, Asma Bronkial, dan Tidur dengan Alergi pada Hidung

This entry was posted in Alergi. Bookmark the permalink.