Resiko APS terhadap Janin

Menurut Dr. Karmel, sebenarnya antibodi antifosfolipid itu adalah kumpulan protein yang dibentuk oleh sistem kekebalan tubuh (sistem imun) untuk memerangi substansi yang dianggap asing oleh tubuh seperti kuman, bakteri, virus. Namun bisa terjadi tidak hanya bakteri atau virus saja yang dianggap “musuh”/ benda asing yang perlu disingkirkan, tetapi juga sel-sel tubuh sendiri. Mekanisme “salah menilai inilah yang terjadi pada kasus-kasus APS. Jadi, tubuh mengeluarkan antibodi antifosfolopid untuk menyerang fosfolipid yang dianggap sebagai “musuh”, padahal fosfolipid tersebut merupakan bagian dari membran sel. Dan munculnya antibodi antifosfolipid membuat darah yang bersangkutan menjadi lebih kental.

Dampak dari pengentalan darah ini adalah gangguan pembekuan darah di pembuluh arteri, vena, maupun jantung. Dengan demikian si ibu hamil menjadi terancam keluhan yang bisa mematikan, seperti jantung, preeklamsia (keracunan akibat kehamilan yang disertai kejang-kejang), atau stroke. Jika pembekuan darah terjadi di pembuluh darah sekitar mata, maka akan terjadi gangguan penglihatan yang bisa berakibat kebutaan. Karena itu diperlukan kerja sama antara dokter ahli kandungan dan kebidanab dengan dokter-dokter terkait. Contohnya, jika ada gangguan jantung pada pasien penyandang APS, maka pasien segera dirujuk ke dokter ahli  jantung agar tidak terjadi serangan jantung. Jika keluhan pada mata, maka pasien dirujuk ke dokter ahli mata untuk meminimalkan resiko kebutaan.

Disisi lain, tidak boleh meremehkan resiko terhadap janin. Demikian menurut Dr. Judi Junaidi. Ibu hamil yang mengidap APS dikhawatirkan tidak dapat mencukupi suplai darahnya ke plasenta bagi janin. Padahal kebutuhan makanan bagi janin lewat plasenta akan terus meningkat dengan seiring dengan pertumbuhan tubuhnya/ bertambahnya usia kehamilan. Sementara itu, disaat yang bersamaan antibodi antifosfolipid yang terbentuk semakin banyak sehingga akan terjadi kesenjangan yang semakin besar. Dan tak dapat diketahui dengan pasti samapai kapan janin mampu bertahan terhadap kondisi tersebut.

Menurut Dr. Judi, pada kasus-kasus APS, bisa terjadi janin yang sudah dalam bentuk embiro tidak lagi berkembang, alias sudah meninggal sebelum mencapai usia kandungan 8 mingggu. Namun, jika dapat bertahan pun janin sewaktu-waktu bisa gugur atau lahir prematur dengan berat badan rendah. Kemungkinan besar meninggal begitu dilahirkan.

APS tidak menimbulkan cacat pada janin. Ibu hamil pengidap APS tidak akan melahirkan bayi yang cacat, tidak seperti ibu hamil yang mengidap penyakit infeksi yang disebabkan toksoplasma misalnya. Namun dapat dipastikan kehamilan penderita APS termasuk kehamilan beresiko tinggi. Plasenta cenderung mudah rusak, dan kerusakannya dapat terjadi sewaktu-waktu, tidak dapat diprediksi. Sementara kelangsungan hidup janin sangat tergantung pada plasenta . Menurut Dr. Judi, pantauan di awal kehamilan sulit dilakukan. Sampai 12 minggu usai kehamilan si Ibu tidak bisa mengetahui apakah perkembangan janin dikandungnya baik atau tidak karena  boleh dikatakan tidak ada perkembangan fisik yang berarti. Perkembangan fisik baru bisa dirasakan setelah kehamilan agak besar dengan dapat dirasakannya gerakan janin. Misalnya, gerakana janin melemah atau berkurang sedangkan untuk menilai pertumbuhan janin terganggu atau tidak, dilakukan pengukuran kesesuaian tinggi rahim dengan usian kehamilan. Ibu hamil yang tubuhnya kurus lebih mudah dinilai apakah besar kehamilannnya cukup atau tidak , sedangkan ibu yang bertubuh subur, penilaian bisa terkecoh oleh tumpukan lemak tubuh.

Menurut Dr. Judi, melalui penilaian bisa sekaligus dipantau apakah ada komplikasi preeklamsia yang menyertai atau tidak, terutama jika berat badan si Ibu meningkat tapi janin tidak berkembang.

Dokter Karmel maupun Dr. Judi sepakat bahwa ibu hamil dengan APS tidak perlu mengkhawatirkan anak-anak yang dilahirkannya. Namun, memang bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan APS sebaiknya menjalani pemeriksaaan untuk mengetahui apakah bayi tersebut mengidap APS atau tidak. Untungnya kasus APS pada anak jarang ditemukan, demikian Prof. Karmel. Satu hal yang pasti, anak-anak yang lahir dari penderita APS beresiko lebih tinggi menderita penyakit ini dibandingkan anak lainnya.

Dengan penanganan pengobatan yang terkontrol dan terpadu di antara para dokter ahli, kelainan yang disandang para ibu hamil dengan APS bisa ditangani dengan baik. Dengan terapi obat dan sutikan, diharapkan darah ibu hamil dengan APS menjadi semakin encer seiring bertambahnya usia kehamilan. Tetapi dengan catatan, si Ibu harus rajin kontrol kandungannya  dan menjalani terapi secara teratur. Demikian kata Dr. Judi. Namun diakui bahwa pantauan di awal-awal kehamilan memang sulit. Dalam 12 minggu pertama usia kehamilan, si ibu tidak mengetahui perkembangan janinnya apakah baik atau tidak karena relatif tak ada  perubahan fisik yang berarti, yaitu sama saja dengan ibu hamil pada umumnya. Setelah kehamilan agak besar, barulah si ibu dapat merasakan gerakan janin. Gerakan janin yang berkurang atau pengukuran kesesuaian tingggi rahim dengan usia kehamilan, merupakan faktor-faktor untuk menilai apakah pertumbuhan janin tergnggu atau tidak. Ibu yang bertubuh kurus, mudah dinilai, namun ibu yang tubuhnya subur tumpukan lemak sering mengecoh. demikian menurut Dr. Judi.

Dari penilaian ini juga dapat sekaligus di pantau apakah ada komplikasi preeklamsia pada si ibu, apakahmsi ibu mengalami pertambahan berat badan yang berlebihan sementara janinnya tidak berkembang.

Namun ibu hamil dengan APS tak perlu kelewat khawatir atau pesimis. Dengan terapi pengobatan yang terkontrol dan terpadu antar para dokter ahli, kelainan ini dapat ditangani.

Bahkan menurut Dr. Karmel yang mengkhususkan diri di bidang APS dan yang mengamati anak-anak yang lahir dari ibu penyandang APS, mereka tidak menunjukkan kelainan apa pun. Tak ada kecacatan fisik maupun mental dan intelektual. “Karena obat dan suntikan itu ditujukan untuk memperbaiki aliran darah ibu ke janin lewat plasenta. Makin cepat terdeteksi, makin cepat pula aliran darah diperbaiki,” demikian Dr. Karmel. Jadi, para ibu hamil dengan APS tidak perlu pesimis, apalagi sampai bermaksud menggugurkan kandungannya.

Obat bagi Penderita Sindrom Darah Kental | Ibu dengan APS yang Ingin Hamil Lagi

This entry was posted in Sindrom Darah Kental. Bookmark the permalink.