Seluk Beluk Impotensi

Seluk Beluk Impotensi

Impotensi adalah penyakit yang serius bagi lelaki. Walaupun tidak secara langsung mengganggu fisik tetapi penyakit ini memiliki pengaruh dan dampak psikis yang jauh lebih bear bagi penderitanya. Selain itu, ditambha dengan mitos-mitos yang tidak benar dan berkembang pesat di kalangan masyarakat, menjadikan penderita impotensi semakin menutup diri dan tidak segera memperoleh penanganan yang semestinya.

Gangguan seksual tidak hanya berdampak pada lelaki tetapi juga berdampak terhadap pasangannya sehingga dapat menyebabkan gangguan psikis yang berat.

Riset menunjukkan bila jumlah populasi usia lanjut yang meningkat tajam maka insiden (rerata angka kejadian) impotensi cenderung akan meningkat dan kebutuhan mendapatkan pengobatan juga cenderung akan meningkat.

Di Jepang, sekitar 71% dari 700 kaum lelakinya dilaporkan menderita impotensi. Di Amerika, sekitar 52% pria berusia antara 40 – 70 tahun mengalami impotensi atau pernah mengalami gangguan fungsi ereksi.

Di Boston, daerah Massachusetts, studi epidemiologi pada tahun 1999 menunjukkan prevalensi (persentase populasi yang menderita) impotensi pada pria berusia 40 tahun dan naik menjadi 67% pada usia sekitar 70 tahun. Jelaslah bahwa usia merupakan faktor resiko yang dominan pada impotensi.

Lebih menyedihkan lagi, sebagai gambaran saja, pada tahun 2005 jumlah laki-laki yang mengalami impotensi di Eropa diperkirakan mencapai 43 juta orang dan ada sekitar 322 juta lelaki menderita impotensi di seluruh dunia. Angka yang cukup fantastis!

Di Indonesia belum ada data pasti tentang jumlah lelaki yang mengalami impotensi. Namun, diduga lebih kurang 10% lelaki yang menikah di Indonesia mengalami impotensi dan disfungsi (gangguan atau kelainan) seksual lainnya. Ketidakpastian data ini karena sebagian besar lelaki di Indonesia yang menderita impotensi lebih memilih menutup diri, bungkam seribu bahasa, atau melakukan terapi secara tersembunyi. Walaupun ada sejumlah data medis di rumah-rumah sakit atau dokter yang menangani tetapi data ini sangat jauh dari kenyataan yang ada di lapangan. Kondisi seperti ini mirip dengan fenomena gunung es sehingga hanya sebagian kecil saja kasus yang muncul atau tampak di permukaan, padahal di dalam sangatlah tidak terhitung banyaknya.

Impotensi merupakan ketidakmampuan yang menetap atau terus-menerus untuk mencapai atau mempertahankan ereksi penis yang berkualitas sehingga dapat mencapai hubungan seksual yang memuaskan.

Kondisi impotensi akan meningkat sesuai umur. Pada studi cross-sectional (penelitian dengan satu waktu tertentu yang berbasis komunitas di antara lelaki berusia 40 – 49 tahun, prevalensi impotensi berat (complete atau severe) sebesar 5%, sedangkan impotensi sedang (moderate) sebesar 17%. Pada lelaki berusia 70 – 79 tahun, prevalensi impotensi berat (complete atau severe) sebesar 15%, sedangkan impotensi sedang (moderate) sebesar 34%.

Impotensi | Impotensi – Akhir dari Segalanya

This entry was posted in Impotensi. Bookmark the permalink.