Serangan Jantung Akibat Polusi Udara dan Darah Beku

Serangan Jantung akibat Polusi Udara

Faktor resiko klasik untuk penyakit jantung koroner, sudah lama diketahui yaitu kolesterol, hipertensi, diabetes, merokok, pria, wanita menopause, asam urat pada orang yang gemuk, beberapa kondisi karena gangguan metabolisme serta biomolekuler banyak juga diteliti seperti homosistein, Ip(a), hs-CRP, semua hal tersebut bertujuan untuk deteksi dini penyakit jantung serta terapi lebih awal. Ternyata dalam ‘real world’, sehari-hari, faktor resiko serangan jantung tidaklah cukup dengan faktor resiko di atas. Penelitian terbaru menunjukkan kombinasi polusi udara, stres, bising dan berbagai faktor sosial lain, pemicu utama serangan jantung di kota-kota besar terutama dengan tingkat kemacetan lalu lintas yang parah. Hal ini terbukti dengan kekerapan serangan jantung lebih banyak di kota-kota besar. Dimana kadar anti oksidan sebagai penangkal timbulnya kerak arterosklerosis di pembuluh koroner lambat laun tergerus habis di’makan’ oksidasinya polusi udara, ibarat mobil, mobil di perkotaan yang besar dan padat lebih cepat karatan dibanding mobil di kota kecil dengan tingkat kemacetan serta polusi yang rendah.

Awas Thrombofilia alias Darah Beku

Bicara mengenai serangan jantung pasti menyangkut trombosit yang berfungsi menutup permukaan ‘luka’ sehingga luka tersebut tidak terus mengucurkan darah lalu mempunyai waktu untuk jadi sembuh. ‘Luka’ di pembuluh koroner jantung sebagai akibat pecahnya kerak aterosklerosis, melalui mekanisme yang sama pula, trombosit pergi ke pembuluh darah yang ‘terluka’ tetapi maksud ‘mulia’ ini ternyata berakibat fatal karena dia telah menyumbat pembuluh darah koroner yang sebenarnya merupakan sebuah saluran darah ‘gang buntu’ (end artery). Tidak cukup dengan mekanisme ‘pergi-sumbat’ koroner, terdapat pula beberapa orang yang mempunyai gangguan darah cepat beku sehingga seolah-olah trombosit yang biasanya berdampingan menjadi berdempetan sehingga membentuk jaringan bekuan darah yang disebut thrombin, trombosis yang menggumpal itu membentuk jaringan fibrin seperti lem (sticky). Jadi yang membuat penggumpalan tidak harus karena koroner yang ‘luka’ atau jumlah trombosit yang banyak (>= 500.000/mm 3), tetapi gangguan fungsi pun bisa membuat masalah, sehingga disebut dengan TROMBOFILIA. Tentu terapinya harus seterusnya mengkonsumsi anti bekuan darah yang disebut dengan anti platelet, salah satunya disebut dengan ASPIRIN.

Waspadai Serangan Jantung Mendadak

This entry was posted in Penyakit Jantung. Bookmark the permalink.