Sinusitis dan Hubungannya dengan Alergi

Sinus paranasal adalah rongga berisi udara terletak di dalam tulang tengkorak manusia. Kita tidak tahu pasti semua fungsinya, yang kita tahu bahwa kantong udara di dalam struktur padat memberikan peningkatan kekuatan dan mengurangi berat. Empat sinus utama yang penting yaitu sinus maksilaris (di pipi), sinus frontalis (di dahi), sinus ethmoid anterior dan posterior (yang merupakan kumpulan rongga yang sangat kecil di antara kedua mata), dan sinus sphenoid (di belakang hidung dan di bawah otak). Sinusitis adalah suatu keadaan yang ditandai oleh peradangan dinding mukosa satu atau lebih sinus ini.

Sinusitis akut adalah infeksi bakteri sinus paranasal yang terjadi setelah flu. Sedangkan flu biasanya sembuh dalam 5 sampai 7 hari, pasien dengan sinusitis akut biasanya memiliki gejala nyeri wajah yang berat dan lendir hidung kuning atau hijau. Sinusitis akut umumnya didiagnosis dengan dasar klinis, dan sinar-X (Roentgen) umumnya tidak diperlukan.

Sinusitis kronis adalah yang paling sering diduga ketika pasien mengidap beberapa kombinasi gejala saluran pernapasan atas meliputi postnasal drip tidak berwarna, hidung mampet (kongesti), wajah terasa penuh atau sakit kepala, batuk dan/atau sakit tenggorokan lebih dari 3 bulan. Patogenesis sinusitis kronis belum seluruhnya dimengerti, tetapi ada peningkatan bukti yang mendukung gagasan bahwa alergi menimbulkan kecenderungan seseorang mengidap peradangan sinus menetap. Alergi menimbulkan hal itu dengan cara menyebabkan pembengkakan daerah saluran sinus ke hidung, sehingga menghambat keluarnya lendir dari sinus. Sangat mirip dengan rinitis alergi, rinitis bukan alergi dapat menimbulkan hal yang sama, mencetus peradangan menetap saluran drainase sinus.

Penyebab lain infeksi sinus berulang meliputi kelainan struktur dalam saluran hidung dan sinus seperti deviasi septum (struktur yang membagi saluran hidung menjadi dua sisi) dan kelainan tulang lain yang menghambat drainase sinus. Kelainan ini biasanya ditemukan dengan CT Scan sinus, dan kelainan ini memerlukan operasi. Banyak pasien mengidap refluks asam lambung, yang dalam kasus berat dapat langsung menuju ke atas ke tenggorokan dan hidung dan mengakibatkan peradangan menetap. Masalah fungsi imun yang rendah, khususnya melibatkan pembentukan antibodi, dapat membuat orang mudah terkena berbagai macam infeksi, termasuk sinusitis. Dalam kasus yang jarang terjadi, fibrosis kistik, yang menyebabkan suatu kelainan genetik dalam kekentalan lendir, dan masalah utama ciliary (bulu getar), yang mengakibatkan ketakmampuan pembersihan lendir, dapat menyebabkan masalah sinus yang kronis.

Suatu pendekatan terhadap pasien sinusitis kronis mencakup cuci hidung dengan saline (larutan garam fisiologis), steroid intranasal, dan antibiotika spektrum luas jangka panjang (paling sedikit 3 minggu). Kira-kira pada separuh pasien dengan sinusitis kronis ditemukan uji kulit positif terhadap alergen di udara. Hal ini menunjukkan prevalensi alergi sangat tinggi pada sinusitis kronis, tampaknya berarti untuk melakukan tes alergi pada semua pasien dengan kondisi ini. Jika hasilnya memperlihatkan pasien alergi terhadap alergen dapat dihindari, khususnya alergen yang ada sepanjang tahun, seperti tungau debu rumah, hewan peliharaan di dalam rumah, jamur di dalam ruangan, tindakan penghindaran alergen yang agresif harus dimulai dengan tepat dan cepat. Sejumlah kecil penelitian klinis menunjukkan terapi vaksin alergi (suntikan alergi) dapat menurunkan sinusitis kronis yang berat, sebagian besar dokter mulai mencoba pengobatan ini pada pasien dengan tes kulit positif. Jika program permulaan penghindaran alergen, obat-obatan, dan imunoterapi tidak berhasil setelah beberapa minggu dicoba, maka operasi sinus endoskopi dapat dilakukan untuk membuang jaringan mukosa yang sakit, terutama dari saluran drainase yang sangat sempit yang mengosongkan sinus ke hidung.

Semua tindakan pengobatan sinusitis kronis :
* Irigasi hidung
* Steroid intranasal
* Antibiotika oral
* Penghindaran alergen dan imunoterapi (jika alergik)

Cairan Kronis di Kedua Telinga dan Keperluan Orthodontia pada Anak | Polip Hidung

This entry was posted in Alergi. Bookmark the permalink.