Stres

Pengertian Stres

Istilah stres telah menjadi bagian yang lazim dalam kehidupan modern. Kemanapun Anda menoleh, maka Anda akan banyak membaca atau mendengar mengenai stres. Anda mungkin pernah mendengar tentang stres yang dapat memicu migrain.

Jadi apakah sebenarnya stres itu? Definisi secara luas, stres adalah cara bagaimana kita menafsirkan dan merespons perubahan dan tuntutan dalam hidup. Banyak berbagai jenis stres yang ada, termasuk stres yang disebabkan oleh perubahan emosi, stres akibat dari perubahan fisik, dan bahkan stres yang disebabkan oleh perubahan lingkungan. Stres adalah usaha kita untuk menyesuaikan diri dengan perubahan, dan hal itu merupakan bagian normal dalam hidup. Hans Selye, seorang dokter yang memelopori berbagai penelitian penting mengenai stres mengatakan “Tanpa stres, maka tak akan ada kehidupan”. Meskipun jumlah tertentu dari stres dapat diperkirakan dalam kehidupan sehari-hari, stres yang berat atau kronis dapat mengakibatkan banyak penyakit medis dan psikologis, termasuk lelah, tekanan darah tinggi, disfungsi daya tahan tubuh, depresi, gelisah, dan masalah tidur. Stres juga dapat memicu berbagai kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya, termasuk migrain.

Sumber dari stres termasuk kondisi kesehatan yang buruk, kecelakaan atau trauma, kekhawatiran finansial, konflik perkawinan atau keluarga, kesulitan pekerjaan atau hubungan, kehilangan atau perceraian. Ada juga penyebab stres psikologis seperti marah, depresi, dan gelisah. Sebagai tambahan, stres juga dapat disebabkan oleh kejadian sehari-hari seperti lalu lintas, suara berisik, kerumunan dan hidup di dalam dunia yang tidak bisa ditebak. Sebagian dari sumber stres melibatkan kejadian positif, seperti menjelang pernikahan, relokasi atau pekerjaan baru. Stres adalah bagian hidup sehari-hari. Bagaimana kita menghadapinya dan bereaksi terhadap stres akan menentukan bagaimana efeknya terhadap kesehatan.

Stres Emosional Berperan dalam Migrain

Stres emosional merupakan faktor pemicu yang umum dalam episode migrain dan berbagai jenis sakit kepala. Bahkan, dalam berbagai cara, stres berperan dalam seluruh masalah medis, dengan kisaran sekitar 80% dari semua masalah kesehatan yang sekarang dipertimbangkan dipengaruhi oleh stres. Stres kronis dan kejadian emosional yang intens merupakan penyebab utama dari sisi psikologis untuk para penderita migrain. Sebagian besar penderita migrain biasanya akan mampu mengidentifikasi faktor stres emosional yang dapat memicu migrain. Seringkali migrain menjadi lebih buruk pada waktu saat terjadi transisi dalam kehidupan seseorang, misalnya lulus dari sekolah atau kuliah, pernikahan, perceraian, pekerjaan baru, atau perubahan dalam pekerjaan, keluarga, atau status keuangan.

Stres kronis dapat memproduksi perubahan emosional dan biologis, sehingga dapat mempengaruhi migrain secara langsung. Perubahan fisik yang timbul dari stres kronis termasuk peradangan, perubahan dari fungsi vaskular atau aliran darah dan pelepasan zat kimiawi otak yang dapat mengubah ambang nyeri. Semua perubahan tersebut memengaruhi serangan dan tingkat keparahan migrain.

Siapa yang dapat mengatakan mereka tidak pernah mengalami stres emosional dalam sebagian hidup mereka? Stres tidak dapat dihindari, dan setiap orang bereaksi terhadap kejadian yang sangat menekan dalam kejadian hidup mereka dengan caranya masing-masing. Bagaimana cara kita melihat dan bereaksi pada stres adalah yang terpenting dan menentukan dampaknya pada kesehatan emosi dan fisik kita.

Daftar dari kejadian yang umumnya memicu stres. Kejadian ini berdasarkan peringkat dari atas ke bawah secara berurutan, berdasarkan jumlah dari kemungkinan jumlah stres yang menyebabkannya.

Penyebab stres umum :

* Kematian pasangan
* Perceraian
* Perpisahan dalam perkawinan
* Kemarian anggota keluarga dekat
* Cedera pribadi atau sakit
* Perkawinan
* Kebakaran di tempat kerja
* Rekonsiliasi perkawinan
* Pensiun
* Perubahan kondisi kesehatan pada anggota keluarga
* Kehamilan
* Gangguan seks
* Memiliki anggota keluarga baru
* Penyesuaian bisnis
* Perubahan kondisi finansial
* Kematian teman dekat
* Perubahan dari bidang kerja
* Perubahan dari jumlah pertengkaran dengan pasangan
* Jumlah hipotek yang besar
* Penyitaan hak tanggungan yang besar
* Perubahan tanggung jawab dalam pekerjaan
* Anak meninggalkan rumah
* Masalah dengan saudara ipar
* Kemajuan pribadi yang mengagumkan
* Awal atau akhir sekolah
* Perubahan dalam kondisi hidup
* Perbaikan dalam kebiasan pribadi
* Masalah dengan atasan di tempat kerja
* Perubahan jam atau kondisi kerja
* Pindah rumah
* Pindah sekolah
* Perubahan lokasi rekreasi
* Perubahan aktivitas keagamaan
* Perubahan kebiasaan tidur
* Perubahan waktu bersama keluarga
* Perubahan kebiasaan makan
* Liburan
* Pelanggaran hukum ringan

Bagaimana Stres Emosional Memicu Migrain?

Melalui kombinasi perubahan rumit yang terjadi pada otak dan tubuh, semakin jelas bahwa stres dapat menyebabkan meningkatnya frekuensi migrain, dan juga semakin intens rasa sakit kepala yang timbul. Ketika orang tengah mengalami stres tingkat tinggi, maka tubuh mereka mencapai respons lawan atau lari (fight or flight responses). Kondisi bergairah ini ditandai dengan perubahan yang diatur oleh sistem saraf otonom (autonomic nervous system), termasuk peningkatan dari ketegangan otot, detak jantung, tekanan darah dan pernapasan. Respons gawat darurat alami ini melengkapi kita untuk menghadapi kejadian berpotensi berbahaya, dan sangat efektif untuk menghadapi situasi gawat darurat karena tubuh kita bergerak untuk bertahan hidup. Namun, untuk orang yang berada dalam kondisi stres kronis pada pekerjaan, kesehatan, keuangan, psikologis atau hubungan, respons ini seringkali aktif secara berkesinambungan. Dalam kondisi tersebut, aktivasi yang tidak berhenti dari sistem saraf otonom, dapat menyebabkan perubahan psikologis yang dapat berkontribusi dan memperpanjang serangan migrain dan gangguan kesehatan lainnya. Kini, banyak orang-orang yang hidup dengan stres kronis, sehingga hal itu dapat memberatkan kesehatan emosi dan fisik mereka.

Stres berkontribusi pada ketegangan otot dan rasa sesak di bagian kepala, leher dan kulit kepala yang ditemukan pada sakit kepala bertekanan, dan juga pada berbagai jenis sakit kepala migrain. Ketegangan otot juga dapat menyebabkan rasa tidak nyaman dan nyeri. Rasa nyeri itu seringkali diikuti oleh kegelisahan mengenai berapa lama dan intensitas sakit kepala yang dapat memperlama penurunan perubahan dalam tekanan otot dan aliran darah, yang pada awalnya memicu migrain, sehingga menjadi siklus yang rumit dari stres emosi dan nyeri.

Beberapa perubahan susunan kimiawi saraf (perubahan pada zat kimia otak atau neurotransmiter) juga dihubungkan dengan stres dan migrain. Seperti disebutkan sebelumnya, sistem saraf otonom, yang terkait dengan mengatur stres dalam tubuh bertanggung jawab dalam respons lawan atau lari. Selama respons stres tersebut, otak melepaskan zat kimiawi yang disebut, catecholamines yang dapat menurunkan ambang rasa sakit dan dapat menerima rasa sakit lebih banyak. Sistem saraf otonom itu juga mengatur rasa gelisah, takut, rasa marah, konsentrasi, gangguan tidur dan depresi, semua jenis gejala umum pada sebagian besar penderita migrain.

Ini mungkin terdengar sedikit berlebihan dan membuat Anda bertanya-tanya, “Apa yang dapat saya lakukan?” Anda harus memahami bahwa respons-respons lawan atau lari terhadap stres, bukanlah satu-satunya cara menghadapi stres. Pertanyaan dan bagian berikutnya akan mengidentifikasi cara yang dapat Anda lakukan untuk merespon stres, sehingga dapat mencegah dan meminimalisir intensitas serangan migrain. Belajar untuk membangkitkan respons relaksasi sangat penting, dalam membalikkan dan mengatur efek stres bagi kesehatan fisik dan emosional Anda.

Contoh dari Stres Emosional yang Terkait sebagai Pemicu

Seperti yang dapat Anda lihat, daftar dari pemicu emosional sangatlah panjang. Anda harus mengidentifikasi (mungkin dengan menggunakan catatan harian sakit kepala), faktor stres emosional atau situasi apa yang berpotensi menyulitkan bagi Anda. Setiap orang bereaksi terhadap tantangan dan stres dalam hidup dengan caranya masing-masing. Dengan mengetahui situasi emosional mana atau penyebab stres yang berpotensi berbahaya sebagai pemicu migrain, maka Anda dapat mulai mengubah dan menyesuaikan perilaku serta belajar untuk menghadapi dengan lebih efektif, terhadap kejadian membuat stres yang tidak dapat dihindari (dan sebagian besar memang tidak dapat dihindari) di dalam hidup Anda. Contoh dari sumber stres psikologis dan emosional adalah konflik interpersonal, adu pendapat dengan anggota keluarga, teman, rekan kerja, gangguan harian yang dialami semua orang, dan waktu penyesuaian selama perubahan status di sekolah, tempat kerja, keuangan dan kesehatan. Akan menikah, perceraian, memiliki anak, dan menjalankan peran orang tua adalah pemicu potensial juga. Kita juga dapat merasa stres dari cara kita berpikir, merasakan atau bertindak, ketika kita mengalami tekanan dalam hidup. Stres emosional tidak dapat dihindari, namun belajar menghadapi dengan strategi baru dan lebih baik dapat membantu Anda mengendalikan semua jenis stres.

Pemicu Migrain | Makanan yang Dapat Menyebabkan Migrain

This entry was posted in Migrain. Bookmark the permalink.