Stroke

Pendahuluan Stroke

Dulu, penyakit stroke hanya menyerang kaum lanjut usia. Seiring dengan berjalannya waktu, kini ada kecenderungan bahwa stroke mengancam usia produktif, bahkan di bawah usia 45 tahun. Penyakit stroke ternyata bisa menyerang siapa saja tanpa memandang jabatan ataupun tingakatan sosial ekonomi.

Di Indonesia, stroke menduduki peringkat ketiga sebagai penyakit mematikan, setelah jantung dan kanker. Bahkan, menurut survei tahun 2004, stroke merupakan pembunuh no. 1 di RS Pemerintah di seluruh penjuru Indonesia. Diperkirakan ada 500.000 penduduk yang terkena stroke. Dari jumlah tersebut, sepertiganya bisa pulih kembali, sepertiga lainnya mengalami gangguan fungsional ringan sampai sedang, dan sepertiga sisanya mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan penderita terus menerus terbaring di tempat tidur.

Menurut Yayasan Stroke Indonesia, terdapat kecenderungan meningkatnya jumlah penyandang stroke di Indonesia dalam dasawarsa terakhir. Kecenderungannya menyerang generasi muda yang masih produktif sehingga berdampak terhadap menurunnya tingkat produktifitas serta dapat mengakibatkan terganggunya sosial ekonomi keluarga. Tidak dapat dipungkiri bahwa peningkatan jumlah penderita stroke di Indonesia identik dengan wabah kegemukan akibat pola makan kaya lemak atau kolesterol yang melanda di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Stroke menduduki urutan ketiga terbesar penyebab kematian setelah penyakit jantung dan kanker, dengan laju mortalitas 18% sampai 37% untuk stroke pertama dan 62% untuk stroke berulang. Pada kasus yang tidak meninggal dapat terjadi beberapa kemungkinan seperti Stroke Berulang (Recurrent Stroke), Dementia, dan Depresi. Stroke berulang merupakan suatu hal yang mengkhawatirkan pasien stroke karena dapat memperburuk keadaan dan meningkatkan biaya perawatan.

Diperkirakan 25% orang yang sembuh dari stroke yang pertama akan mendapatkan stroke berulang dalam kurun waktu 5 tahun. Hasil penelitian epidemiologis menunjukkan bahwa terjadinya resiko kematian pada 5 tahun pasca-stroke adalah 45% – 61% dan terjadinya stroke berulang 25% – 37%.

Menurut studi Framingham, insiden stroke berulang dalam kurun waktu 4 tahun pada pria 42% dan wanita 24% mendapatkan kejadian stroke berulang 29,52%, yang paling sering terjadi pada usia 60 – 69 tahun (36,5%), dan pada kurun waktu 1 – 5 tahun (78,37%) dengan faktor resiko utama adalah hipertensi (92,7%) dan dislipidemia (34,2%).

Faktor-faktor resiko stroke berulang belum didefinisikan dengan jelas, tetapi tampaknya hampir sama dengan faktor primer penyebab stroke. Faktor resiko stroke berlaku juga pada kejadian stroke berulang dan pengendalian faktor resiko dapat menurunkan angka kejadian stroke berulang. Resiko tinggi stroke berulang berhubungan dengan tekanan darah tinggi, penyakit katup jantung, dan gagal jantung kongestif, fibrilasi atrium, hasil CT scan yang abnormal dan riwayat penyakit diabetes mellitus.

Resiko stroke berulang tidak berhubungan dengan umur, jenis kelamin, tipe patologi stroke, dan riwayat penyakit jantung atau fibrilasi atrium sebelumnya tidak berhubungan secara pasti dengan stroke berulang, dalam kurun waktu 30 hari sampai tahun-tahun pertama.

Seseorang yang pernah terserang stroke mempunyai kecenderungan lebih besar akan mengalami serangan stroke berulang, terutama bila faktor resiko yang ada tidak ditanggulangi dengan baik. Karena itu, perlu diupayakan prevensi sekunder yang meliputi gaya hidup sehat dan pengendalian faktor resiko, yang bertujuan mencegah berulangnya serangan stroke pada seseorang yang sebelumnya pernah terserang stroke.

Dengan pertimbangan hal-hal diatas perlu dilakukan penelitian tentang beberapa faktor resiko yang memengaruhi kejadian stroke berulang, meliputi faktor resiko yang dapat diubah dan tidak dapat diubah.

Purtier Placenta | Pengertian Stroke (Bagian 1)

This entry was posted in Stroke. Bookmark the permalink.