Tanda dan Gejala Lupus

Berikut ini beberapa gejala penting lupus :

* Fatique, yaitu rasa lelah yang berkepanjangan. Biasanya ini merupakan respons terhadap steroid, penggunaan antimalaria.

* Perubahan berat badan, bisa kehilangan berat badan dan bisa juga kenaikan berat badan.

* Kehilangan berat badan yang disebabkan :
– rasa mual sehingga kehilangan nafsu makan
– efek samping obat
– penyakit gastrointestinal
– kehilangan banyak cairan akibat dari obat-obatan antidiuretik.

* Meningkatnya berat badan disebabkan :
– retensi air dan garam yang berhubungan dengan penyakit ginjal
– meningkatnya nafsu makan dengan adanya penggunaan steroid.

* Demam, paling sering terjadi pada pasien lupus SLE. Bisa disebabkan oleh SLE yang aktif (demam berulang kali), baisanya diobati dengan NSAIDS/Acetaminophen dan disebabkan oleh efek samping obat (demam berkepanjangan), biasanya antimalaria.

* Arthritis, biasanya diikuti dengan pembengkakan sendi-sendi yang mengalami radang.

* Ruam fotosensitivitas dan hipersensitivitas terhadap cahaya (UV) yang mampu merusak sel kulit (keratinosit) dan menyebabkan sel kulit mati. Pada orang sehat, sel yang mati akan segera disingkirkan dengan segera dan inflamasi yang diinduksi oleh matahari akan menginduksi kerusakan kulit dengan cepat (sun burn). Pada pasien lupus yang kulitnya sensitif terhadap sun burn dan dengan adanya peningkatan sel yang mati (apoptosis) yang tidak dibersihkan secara efisien berakibat isi dari sel yang mati akan dilepaskan dan menyebabkan inflamasi. Selain itu, sel memiliki DNA dan molekul-molekul – termasuk Ro – yang secara normal tidak terpapar pada sel imun sehingga menyebabkan reaksi imun. Akibatnya pasien lupus akan mengalami ruam fotosensitivitas.

* Fenomena Raynaud, adalah kondisi yang menurunkan kecepatan aliran darah ke ekstremitas saat terpapar dingin, stres, rokok, dan kafein. Fenomena Raynaud merupakan masalah yang sering terjadi pada pasien SLE mendahului tampilan penyakitnya. Akibatnya jari-jari tangan dan kaki menjadi pucat, biru, atau merah. Ada 2 jenis Fenomena Raynaud, yaitu Fenomena Raynaud primer yang tidak terkait dengan penyakit lain dan Fenomena Raynaud sekunder yang terkait dengan penyakit lain.

* Alopecia (kebotakan). Ada berbagai macam alopecia, namun yang berkaitan dengan autoimun seperti lupus dan alergi adalah Alopecia areata. Yaitu suatu penyakit autoimun di mana sistem imun menyerang folikel rambut sehingga folikel menjadi sangat kecil, akibatnya produksi rambut menjadi lambat dan kehilangan rambut (rontok) selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Namun folikel biasanya bisa kembali normal dan rambut akan tumbuh kembali dalam waktu satu tahun. Catatan : pengobatan arthritis juga bisa menimbulkan kerontokan rambut. Contoh obat-obatan yang dapat membuat rambut rontok adalah methotrexate (Rheumatrex), arava, leflunomide, plaquenil (hidroksikloroquin), NSAIDS.

* Ginjal. Agregat kompleks imun akan disaring di ginjal, dan mengendap di membran basal glomerulus. Kompleks lainnya mengaktifkan komplemen dan menarik granulosit, yang lalu menimbulkan reaksi inflamasi dengan glomerulonefritis. Kerusakan pada ginjal ini menimbulkan proteinuri dan kadang perdarahan. Kadar gejala penyakit bisa berubah-ubah sesuai dengan kadar kompleks imun. Kelainan ginjal juga dapat menyebabkan kulit gatal, sakit, atau nyeri dada, sulit berpikir, mual, dan muntah.

* GI tract pada saluran pencernaan. Ini disebabkan pemakaian steroid dan NSAIDs.

* Plumo atau paru-paru. Ada dua jenis :

– Pleuritis, yaitu nyeri dada yang diperburuk dengan menarik napas dalam. Pleuritis dapat berasal dari inflamasi saluran pernapasan dan di dalam dada.

– Napas pendek. Penumpukan cairan di ruang paru-paru (efusi pleura) dapat memengaruhi pengembangan paru. Inflamasi kantung udara (pneumonitis) atau disfungsi dan luka pada jaringan penyokong antara kantung udara (penyakit paru-paru intersial) dapat menyebabkan kesulitan bernapas. Hipertensi pulmonari juga dapat menyebabkan napas pendek yang biasanya terjadi pada saat pendesakan.

* Kardiovaskuler. Ada tiga macam :

– Nyeri dada selama latihan. Namun nyeri dada yang terjadi tiba-tiba bisa diidentifikasikan sebagai serangan jantung (miocardiac infark). Lainnya adalah nyeri dada akibat inflamasi sekeliling jantung (pericarditis)

– Napas pendek akibat penyakit pada katup jantung, kerusakan atau penyempitan katup janutng. Ini dapat terjadi akibat kerusakan lapisan ruang jantung dan permukaan katup halus (endocardium). Kondisi ini dikenal sebagai endocarditis verrucous.

– Sistem saraf. Cemas, depresi, bingung, hilang ingatan, halusinasi, kejang, lemah, matirasa merupakan akibat SLE pada CNS (central nervous system). Lemah dan matirasa disebabkan rusaknya satu atau lebih saraf pada tangan atau kaki, juga disebabkan masalah di CNS (sumsum tulang dan otak). Akibat SLE yang paling sering terjadi adalah kesulitan untuk konsentrasi dan berpikir jernih.

* Mata. Gejala SLE paling sering adalah mata kering dengan rasa berpasir, ketiadaan airmata atau berkurangnya airmata (keratoconjuctivitis sicca). Yang jarang terjadi adalah inflamasi pembuluh darah di retina (yang menyebabkan kerusakan penglihatan). Scleritis juga bisa terjadi pada pasien lupus, yaitu inflamasi pada bagian putih mata.

* Darah. Jumlah darah yang menurun sehingga terjadi anemia, leucopenia, trombositopenia. Anemia menyebabkan napas pendek dan fatique. Leukopenia menyebabkan mudah terkena infeksi. Sedangkan trombositopenia menyebabkan mudah memar dan mengalami perdarahan.

Systemic Lupus Erythematosus (SLE) | Faktor Resiko SLE

This entry was posted in Lupus. Bookmark the permalink.