Terapi Latihan di Air bagi Penderita Stroke

Terapi latihan adalah latihan yang terdiri gerakan tubuh atau bagian tubuh tertentu untuk mengatasi gangguan atau memperbaiki fungsi. Terapi latihan telah digunakan sejak zaman purba. Di abad ke-19 terjadi perkembangan pesat gerakan gimnastik yang dipelopori Ling dan munculnya spesialisasi di abad ke-20 lebih memajukan peran terapi latihan dalam penatalaksanaan berbagai kondisi penyakit. Prinsip umum dalam membuat resep terapi latihan perlu diperhatikan beberapa faktor, seperti pemilihan jenis latihan, urutan latihan, jumlah latihan, lama istirahat di antara setiap set latihan, intensitas latihan, pemanasan (warming-up), dan pendinginan.

Penderita stroke akan lebih mudah berjalan di dalam air daripada di darat karena pengaruh gaya apung air membuat tubuh lebih ringan. Jika berjalan di darat, tubuh manusia lebih berat karena mengalami gaya tarik bumi atau gravitasi. Itu sebabnya penderita stroke yang mengalami kelumpuhan cenderung sulit berjalan jika di darat. Selain itu, ketika masuk dalam kolam air sebatas pusar, berat tubuh tinggal 50% nya. Apabila kita berendam dalam kolam air setinggi dada, berat tubuh akan berkurang sekitar 70%. Oleh karena itu, latihan yang sulit dilakukan di darat dapat dilakukan di dalam air.

Selama melakukan terapi latihan di air, seorang penderita stroke idealnya dibantu oleh empat orang pelatih, tiga orang berada di kolam renang, sedangkan satu orang berada di luar kolam untuk memantau setiap keadaan yang dialami penderita stroke. Pelatih yang di luar kolam bertugas mengawasi keadaan yang ada di dalam kolam. Hal ini dilakukan apabila terjadi sesuatu, misalnya keadaan darurat, bisa segera diambil tindakan yang cepat.

Penderita stroke yang baru pertama kali berlatih berjalan diterapi di kolam dengan kedalaman 90 cm. Penanganan satu kasus dengan kasus lainnya berbeda-beda. Untuk itu, terlebih dahulu pasien harus berkonsultasi dengan dokter rehabilitasi medik.

Selanjutnya, program-program latihan baru diberikan. Program terapi latihan tersebut adalah sebagai berikut : terapi latihan dilakukan dengan jangka waktu 6 -8 minggu dengan durasi 2 kali seminggu, sekali terapi waktunya 1 jam. Pada penderita stroke, waktu pemulihan tergantung berat ringan dan jenis strokenya, apakah akibat perdarahan atau penyumbatan.

Gerakan yang dilakukan pada penderita stroke adalah secara rileks, sesuai kemampuan, dan bertahap. Selain jenis penyakitnya, pemulihan stroke juga bergantung dari motivasi pasien sendiri. Dalam setiap satu sesi terapi, instruktur selalu mengajak penderita stroke melakukan evaluasi program. Begitu seterusnya sampai program yang ditentukan berakhir. Kunci keberhasilan penyembuhan ada pada semangat dan kedisiplinan pasien, terutama dalam hal berlatih. Pada praktiknya, di setiap sesi terapi latihan di dalam air pasien mendapatkan sistem one-on-one, artinya satu terapis untuk satu penderita stroke.

Menurut dokter spesialis olahraga, renang merupakan salah satu terapi air (hydrotherapy), bagian dari proses penyembuhan saraf yang terganggu atau bahkan rusak, seperti penderita stroke. Proses penyembuhan dalam air merangsang saraf sensorik, lalu merangsang sel-sel otak. Di dalam air, tekanan tubuh menjadi lebih ringan sehingga bisa menguatkan ketahanan otot. Anggota tubuh di dalam air akan lebih mudah digerakkan dan dilatih kelenturannya untuk menguatkan otot-otot dan sendi-sendi tubuh karena hilangnya gravitasi tubuh. Seorang penderita stroke ketika di air, yang sebelumnya tidak bisa berdiri, maka akan lebih mudah berdiri dan berlatih gerak yang lain. Terapi latihan bisa dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan pasien. Melatih tangan dulu sebagian, baru kemudian seluruhnya, begitu juga dengan kaki.

Terapi latihan di air seperti renang banyak manfaat yang di dapat. Beberapa manfaat tersebut adalah ketersediaan oksigen dalam tubuh menjadi lebih baik sehingga meningkatkan daya kerja otot dan oksigenasi otak. Renang juga memperlancar sirkulasi darah dan meningkatkan penyerapan oksigen ke dalam jaringan saraf, mengurangi kekakuan otot, membuat jaringan sendi menjadi lebih lentur, menurunkan rasa nyeri, memberikan efek relaksasi, dan meningkatkan kemampuan gerak anggota tubuh. Namun, terapi ini biasanya dilakukan sebagai ‘alat’ bantu. Obat-obatan tetap dibutuhkan untuk mengurangi rasa sakit. Untuk waktu pemulihan bergantung pada kondisi penderita stroke. Setiap orang memerlukan waktu yang berbeda.

Dalam beberapa jam sampai beberapa bulan setelah stroke banyak penderita stroke secara bertahap mengalami perbaikan sebagian atau menyeluruh dari kelainan saraf, misalnya kelumpuhan, hilang rasa, dan kekacauan mental. Tujuan terapi latihan di air adalah membantu mempercepat pemulihan. Badan adalah bagian yang paling peka di dalam menerima pengaruh terapi latihan setelah 6 bulan pertama terjadi stroke, sehingga apabila ada usaha yang terkonsentrasi untuk memperbaiki saraf yang kurang berfungsi maka cacat akan terhindarkan.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa stroke adalah gejala-gejala defisit fungsi susunan saraf yang diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah otak dan bukan oleh yang lain dari itu. Terapi latihan dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan penderita stroke. Beberapa manfaat terapi di air bagi penderita stroke adalah ketersediaan oksigen dalam tubuh menjadi lebih baik sehingga meningkatkan daya kerja otot dan oksigenasi otak, memperlancar sirkulasi darah dan meningkatkan penyerapan oksigen ke dalam jaringan saraf, mengurangi kekakuan otot, membuat jaringan sendi jadi lebih lentur, menurunkan rasa nyeri, merangsang saraf sensorik, memberikan efek relaksasi, dan meningkatkan kemampuan gerak anggota tubuh.

Manfaat Jalan Kaki Secara Rutin | Krisis Global Sebabkan Penderita Stroke Meningkat

This entry was posted in Stroke. Bookmark the permalink.