Tes Alergi

Untuk menentukan seorang pasien alergi terhadap apa, dokter perlu melakukan tes alergi. Tes alergi menilai apakah seorang pasien memiliki antibodi IgE terhadap zat alergen tertentu. Tes alergi yang paling umum dilakukan adalah uji cukit kulit (prick / puncture skin test). Dalam uji ini setetes cairan alergen ditempatkan di atas kulit dan sebuah jarum kecil steril atau jarum plastik ditusukkan ke kulit.

Setelah menunggu 15 sampai 20 menit, tes dibaca oleh dokter atau asisten dokter. Tes positif ditandai oleh sebuah bentol kecil kemerahan, juga disebut “flare response” (respons kulit berwarna merah dan melebar), yang biasanya amat gatal. Saat dokter berusaha menentukan apakah seorang pasien dengan tersangka rinitis alergi memiliki alergi dan bahan apa yang harus dihindari, sebuah tes skrining dilakukan, biasanya terdiri dari 10 sampai 15 alergen. Kemungkinan lain, jika tes alergi dilakukan untuk membuat sebuah vaksin terapeutik (suntikan alergi), kira-kira 50 sampai 70 tes biasanya dilakukan, bergantung pada lokasi geografi tempat pasien tinggal. Uji cukit kulit memiliki tingkat kepercayaan tinggi dan akurat, dan dianggap standar baku tertinggi untuk tes alergi.

Bila uji cukit kulit negatif dan alergi diduga kuat, maka dokter dapat melakukan tes tambahan menggunakan metode intradermal. Tes tipe ini dilakukan dengan menyuntik sejumlah kecil cairan alergen ke dalam kulit pasien dan tunggu 15 sampai 20 menit. Sebuah tes positif memerlukan adanya bentol dan kemerahan. Sementara uji intradermal negatif sangat berguna untuk memastikan tidak adanya alergi terhadap bahan yang diberikan, uji intradermal positif tidak terlalu membantu karena banyak pasien yang sebenarnya tidak alergi terhadap alergen tertentu masih dapat memperlihatkan hasil uji positif terhadap bahan itu. Karena alasan ini, uji intradermal hanya dilakukan dan dinilai oleh dokter yang memiliki pengalaman tinggi dalam diagnosis penyakit alergi. Uji cukit kulit dan uji intradermal tidak dapat dilakukan pada pasien dengan penyakit kulit menyeluruh atau mereka minum obat yang dapat menghambat respons alergi (umumnya antihistamin, seperti benadryl, atau antidepresan trisiklik seperti doxepin).

Cara lain tes alergi kulit adalah dengan uji darah. Di dalam uji ini, sedikit sampel darah pasien dites untuk mengetahui adanya antibodi IgE. Di masa lalu pemeriksaan uji berdasarkan radioimmunosorbent test (RAST). Saat ini, laboratorium telah menciptakan sebuah teknik baru yang dinamakan tes ImmunoCAP, yang tidak lagi mengandalkan radioisotop. Tes baru ini dianggap sangat akurat, tetapi dibandingkan uji cukit kulit, ada penyimpangan sampai 20% antibodi IgE terhadap alergen yang dipilih. Uji darah untuk alergi dapat dilakukan walaupun kulit sedang sakit, dan hasil uji tidak dipengaruhi oleh obat seperti antihistamin. Kelemahan uji darah untuk alergi adalah biayanya lebih mahal dan hasil uji baru akan didapat setelah beberapa hari sampai minggu.

Beberapa laboratorium menawarkan uji darah yang mengukur antibodi immunoglobulin G (IgG) terhadap zat alergen. IgG tidak pernah dibuktikan sebagai penyebab penting reaksi alergi; faktanya, IgG memberikan perlindungan dalam pengaturan derajat beratnya respons alergi. Tes antibodi IgG belum secara akurat memprediksi kejadian reaksi alergi dan tidak terbukti berguna dalam membedakan individu alergi dengan bukan alergi. Karena alasan ini, uji antibodi IgG jangan digunakan sebagai suatu tes laboratorium diagnostik dan juga hasil uji ini jangan digunakan sebagai rekomendasi untuk pengobatan.

End-point titration intadermal skin testing (uji kulit intradermal dengan menggunakan nilai titrasi akhir) adalah metode alternatif tes kulit yaitu menyuntikan ekstrak alergen dengan konsentrasi yang ditingkatkan secara bertahap. Jika uji ini positif pada konsentrasi alergen sangat rendah, berarti hasilnya sebanding dengan uji yang dilakukan dengan metode tusuk kulit. Namun, jika uji hanya positif pada konsentrasi alergen lebih tinggi, berarti hasilnya positif palsu dan tidak akurat mewakili sensitivitas alergi yang sebenarnya. Karena alasan ini, metode cukit kulit lebih disukai pemakaiannya.

Penyebab Sumbatan Hidung Kronis pada Bayi dan Akhir Usia 60 Tahunan | Langkah Utama Pengobatan Alergi pada Hidung

This entry was posted in Alergi. Bookmark the permalink.