Tes Diagnostik untuk Mendiagnosis Asma

Tes diagnostik yang paling berguna untuk pasien yang dicurigai menderita asma adalah tes fungsi paru, yang sering dihubungkan dengan PFTs dan PFT tunggal yang paling penting untuk diagnosis dan follow-up asma adalah spirometri. Tes media lainnya yang berguna termasuk tes darah dan pemeriksaan sinar X. Tambahan, studi yang lebih khusus dapat diperoleh tergantung pada gambaran klinis. Contoh dari studi khusus adalah tes tusuk kulit untuk alergi yang dicurigai. Tes darah sangat penting dalam mendapatkan gambaran keseluruhan kesehatan seseorang, serta mengeluarkan diagnosis lainnya yang tidak tepat. Penilaian fungsi imun dan alergi, misalnya, dapat dilakukan melalui tes darah. Pemeriksaan sinar X meliputi sinar X dada konvensional, serta CT scan memberikan informasi mengenai anatomi atau struktur paru-paru dan saluran napas yang lebih besar. Dalam keadaan, asma terkendali, foto sinar X dada seharusnya normal. Begitu juga gambar pencitraan dada yang dihasilkan CT scan. Selama eksaserbasi, tampilan paru pada sinar X dapat memperlihatkan apa yang disebut ahli radiologi sebagai hiperinflasi, dan CT scan mungkin menunjukkan udara yang terkurung. Kedua temuan itu mencerminkan pengisian dan pengosongan paru yang tidak merata saat bernapas karena inflamasi dan penyempitan saluran udara.

Pencitraan resonansi magnetik, pemindaian, pemindaian tomografi emisi positron berguna untuk jenis peyakit paru lainnya, tetapi tidak diperlukan dalam mendiagnosis asma. Demikian pula dengan pemindaian kedokteran nuklir, seperti pemindaian ventilasi dan perfusi serta pemindai galium.

CT scan (pemindai tomografi terkomputerisasi)
Sebuah teknik pencitraan  tiga dimensi yang menyediakan detail anatomi yang sangat tepat yang menggunakan teknologi sinar-X. Gambar pencitraan sinus dan paru-paru yang dihasilkan oleh CT scan menyedikan dokter informasi yang akurat tentang bagaimana struktur tersebut terlihat.

Hiperinflasi
Istilah distensi paru yang berlebihan kadang-kadang digunakan bergantian dengan istilah udara yang terperangkap, sebagai akibat udara terperangkap terjadi hiperinflasi. Asma yang tidak terkendali atau buruk dapat menyebabkan hiperinflasi yang harus diredakan dengan perawatan.

Tes fungsi paru (PFT)
Tes yang meliputi pengukuran volume paru, spirometri, difusi, dan kadang-kadang gas darah arteri.

Diagnosis Asma | Pengukuran Tes Fungsi Paru (PFTs), Spirometri, dan Arus Puncak Ekspirasi (PEF)

This entry was posted in Asma. Bookmark the permalink.