Usia Rawan Impotensi

Berapa Usia Rawan Impotensi?

Setiap lelaki yang sudah baligh atau dewasa dapat dikatakan rawan impotensi. Ini dikarenakan impotensi dapat terjadi bukan hanya karena sesuatu yang bersifat fisik, tetapi juga psikis. Oleh karena itu, setiap lelaki yang sudah dewasa wajib manjaga kesehatan dan kondisi tubuhnya. Hanya diri sendirilah yang tahu dan memahami bagaimana memanajemen kesehatan dirinya sendiri.

Hidup sehat dengan pola hidup dan gaya hidup sehat sangat dianjurkan. Istirahat cukup, makan bergizi, berolahraga secara teratur juga salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menjaga keseimbangan tubuh. Tentu saja juga sangat penting untuk selalu menjaga pikiran dan emosi agar tidak mudah stres.

Sejalan dengan bertambahnya umur, seorang lelaki memerlukan waktu yang lebih lama untuk mendapatkan ereksi dan memerlukan rangsangan fisik dan psikologis lebih banyak untuk dapat mempertahankannya. Hal seperti ini tidak perlu dikhawatirkan karena merupakan sesuatu yang alami dan akan terjadi pada setiap lelaki. Justru kalau yang bersangkutan mencemaskan kondisi tersebut, dia dapat mengalami impotensi secara permanen. Itu karena dia tidak dapat menerima kondisi jasmaninya yang jelas bertambah menua.

Pada saat lelaki berumur 20 tahunan, mencapai ereksi sangatlah mudah. Pada saat berumur melewati 40 tahunan, maka hasrat seksual dan kemampuan ereksinya tidak akan sebaik sebelumnya. Pada umur-umur ini, banyak lelaki menjadi cemas dan khawatir, karena di antara mereka banyak yang berpotensi divonis impotensi oleh dokter.

Pada kondisi tersebut, biasanya 75% di antara mereka tidak mampu mempertahankan ereksinya dengan baik. Ini membuat mereka sering menduga-duga dirinya terkena “impotensi”. Padahal sebenarnya yang mereka alami adalah kondisi temporer semata. Keadaan itu telah memukul “harga diri” mereka. Kebanyakan lelaki lebih siap dan mampu mengatasi kehilangan sebelah kaki daripada impotensi.

Hanya sedikit lelaki di usia 30 – 40 tahuan yang mengalami impotensi. Banyak hal yang bisa diperbuat agar tidak mengalami impotensi. Walau sudah mengalami impotensi, tetap ada peluang untuk disembuhkan.

Pada masa lampau, dokter dan kalangan medis secara eksklusif menganggap impotensi sebagai masalah psikologis. Namun sekarang mereka percaya bahwa sekurangnya tujuh di antara sepuluh kasus impotensi memiliki penyebab fisik, termasuk diabetes, gangguan kelenjar gondok, aterosklerosis, atau cedera pada penis. Artinya, impotensi disebabkan oleh sesuatu yang bersifat fisik. Tentu saja, ini semakin menegaskan bahwa impotensi merupakan penyakit yang mirip penyakit lainnya, dapat ditangani dan disembuhkan secara medis dan profesional.

Pengobatan, konsumsi alkohol, merokok, dan faktor-faktor psikologis seperti depresi, stres, dan kecemasan dalam pekerjaan dapat memperumit masalah. Metabolisme tubuh dan peredaran darah akan terganggu. Yang menjadi inti dalam permasalahan impotensi adalah bahwa apapun yang menghentikan aliran darah ke penis akan memperkecil peluang untuk mendapatkan ereksi. Namun bila seseorang merawat dirinya dengan baik, ia akan tetap mampu berhubunagn seks hingga usia lanjut.

Klasifikasi Impotensi | Mitos-mitos Impotensi

This entry was posted in Impotensi. Bookmark the permalink.