Zat Tambahan pada Makanan Terhadap Reaksi Alergi

Zat tambahan pada makanan termasuk pengawet, perasa, dan pewarna buatan dan pemanis, ditemukan dalam semua proses makanan. Secara umum dapat dikatakan bahwa zat tambahan pada makanan adalah penyebab yang tidak biasa dari gejala yang berkaitan dengan makanan. Namun, dalam situasi di mana tidak ada protein makanan yang dapat diidentifikasi sebagai penyebab reaksi makanan, maka zat tambahan harus dipertimbangkan.

Zat tambahan yang paling sering terlibat dalam reaksi merugikan terhadap makanan adalah kelompok zat kimia yang disebut “sulfites”. Kelompok ini diperdagangkan sebagai sodium dan potasium bisulfite, sodium, dan potasium metabisulfite, dan sulfur dioxide, zat-zat ini digunakan untuk mencegah oksidasi makanan, mencakup tetapi tidak terbatas hanya pada anggur putih, buah-buahan kering, dan kentang kering. Zat-zat tersebut juga dipakai untuk buah segar, seperti sayur-sayuran dalam salad bars, makanan laut segar, dan makanan laut segar, dan kentang yang sudah dikupas kulitnya, untuk mencegah perubahan warna. Reaksi yang paling sering karena makan sulfites adalah timbulnya mengi akut pada pasien pra-asma. Sangat jarang, sulfites dianggap sebagai penyebab reaksi sistemik akut dan berat. Pewarna buah, terutama tartrazine (pewarna kuning no.5) telah terbukti kadang memperburuk urtikaria kronis. Pewarna ini sering digunakan dalam makanan, seperti permen yang keras, dan juga ditambahkan pada obat-obat tertentu, mencakup berbagai sirup obat (bahkan obat yang digunakan untuk mengobati gejala alergi).

Monosodium glutamate (MSG) adalah perasa tambahan yang digunakan dalam berbagai masakan makanan dan umumnya merupakan bumbu masak di restoran Cina. Dimulai pada tahun 1970-an, orang-orang melaporkan bahwa MSG menyebabkan gejala akut sementara yaitu sakit kepala, disorientasi, dan kadang-kadang nyeri dada. Namun uji klinis yang dilakukan dengan teliti telah gagal menunjukkan kesimpulan adanya hubungan antara MSG dan gejala-gejala ini. Apapun pertimbangannya, banyak restoran tidak lagi menambahkan MSG pada makanan mereka yang dimasak segar. Dengan demikian, orang lebih mudah menghindari zat tambahan ini.

Butylated hydroxyanisole (BHA) dan butylated hydroxytoluene (BHT) umumnya dipakai sebagai pengawet yang diduga menyebabkan biduran / kaligata. Namun, penelitian memperlihatkan zat tambahan ini dapat ditoleransi dengan baik dan tampaknya tidak mencetuskan kemerahan atau berbagai gejala lain.

Intoleransi zat kimia harus menjadi bahan pertimabngan pada pasien-pasien dengan reaksi akut terhadap makanan. Namun, konfirmasi pasti bahwa zat tambahan pada makanan adalah penyebab kumpulan gejala fisik, biasanya sangat sulit. Setelah dapat ditegakkan (established) bahwa zat tambahan tertentu terdapat pada suatu makanan sebelumnya timbulnya gejala, maka selanjutnya harus terbukti bahwa zat tambahan itu adalah penyebab yang masuk akal dari gejala pada pasien. Misalnya, sodium metabisulfite adalah penting pada seorang pasien dengan serangan asma tetapi mungkin kurang berkaitan dengan pasien yang sakit kepala. Sayangnya, tidak ada evaluasi laboratorium yang baik, seperti tes kulit atau darah, untuk diagnosa sensitivitas zat tambahan ini. Oleh karena itu, diagnosis awal mungkin berdasarkan observasi klinis bahwa zat tambahan itu menyebabkan kumpulan gejala spesifik pada lebih dari satu kejadian dan bahwa gejala ini tidak muncul ketika zat tambahan itu dihindari. Setelah observasi ini, suatu pengujian oral terhadap zat tambahan itu mungkin dapat dipertimbangkan untuk mengkonfirmasi diagnosis bersangkutan. Pengujian ini memakan waktu dan memerlukan persyaratan teknis dan membutuhkan bahan baku khusus; karena alasan ini, pengujian dilakukan di pusat spesialisasi.

Makanan yang Menimbulkan Alergi pada Pasien | Alergi Terhadap Kacang Tanah

This entry was posted in Alergi. Bookmark the permalink.