Alergi Hidung pada Wanita Hamil dan Menyusui

Wanita mengalami sejumlah perubahan fisiologi dan imunologi penting sewaktu hamil. Volume darah dan nilai estrogen meningkat sewaktu hamil, yang seringkali mengakibatkan pembengkakan membran mukosa hidung. Oleh karena itu, banyak wanita yang tidak memiliki riwayat rinitis mengalami kongesti (sumbatan) hidung waktu hamil. Wanita hamil dengan rinitis alergi menjadi bertambah buruk gejala hidungnya, walaupun diperkirakan secara kasar sama dengan jumlah wanita tidak hamil yang mengalami peningkatan, penurunan, atau tidak ada perubahan pada gejala alergi hidungnya. Dalam pengalaman praktik dokter, sebagian besar wanita bertambah buruk gejalanya sewaktu hamil, biasanya karena adanya kongesti hidung.

Pengobatan rinitis alergi sewaktu hamil harus selalu mempertimbangkan efek terapi tersebut pada janin yang tengah bertumbuh. Karena banyak obat-obatan yang dapat menimbulkan efek potensial terhadap perkembangan janin, maka penting untuk menentukan alergi si calon ibu itu terhadap apa, berkenaan dengan penentuan program penghindaran alergen. Jika pasien belum pernah dites alergi, dokter sarankan tidak melakukan tes alergi kulit karena adanya risiko reaksi sistemik yang kecil tetapi dapat timbul. Yang lebih baik adalah melakukan uji darah yang dapat berfungsi sebagai dasar yang masuk akal untuk tindakan pengendalian lingkungan terhadap tungau debu rumah, serpih kulit mati binatang, jamur, dan tepung sari.

Di samping menghindari alergen yang berkaitan, sebagian besar wanita dengan alergi hidung berarti, memerlukan obat-obatan untuk keberhasilan pengobatan gejalanya. FDA telah membuat sistem peringkat yang mengelompokkan semua obat sejak tahun 1980 ke dalam lima kategori, yang dirujuk sebagai A, B, C, D dan X. Obat kategori A dianggap paling aman sedangkan obat kategori X adalah kontraindikasi mutlak dalam berbagai keadaan. Tidak ada obat-obatan yang digunakan untuk rinitis alergi yang dikelompokkan dalam kategori A, dan sebagian besar obat untuk rinitis dimasukkan dalam kategori B dan C. Kami selalu mencoba mulai dengan obat kategori B, menambahkan kebutuhan obat lain yang diberi label C. Tetap mengingat keamanan, obat-obat harus ditujukan pada gejala spesifik. Bila hidung bersin-bersin, berair, dan mata gatal dan gejala hidung yang paling menonjol, pemakaian semprot intranasal cromolyn atau antihistamin oral cukup memuaskan. Cromolyn hidung, yang dijual bebas, tidak diserap dalam berbagai tingkatan yang signifikan ke dalam aliran darah dan dengan demikian dianggap salah satu obat alergi yang paling aman untuk dipakai waktu hamil. Loratadine dan cetirizine adalah obat kategori B, dan loratadine biasanya lebih disukai karena sudah lebih lama digunakan pada kehamilan. Difenhidramine dan chlorpheniramine adalah obat tertua yang telah digunakan secara luas pada kehamilan. Namun kedua obat ini menimbulkan rasa ngantuk dan lelah yang berarti dan tidak dapat ditoleran dengan baik oleh beberapa pasien. Jika kongesti hidung adalah gejala yang paling menonjol, seperti yang sering terjadi selama kehamilan, maka pemberian steroid hidung dilakukan. Budesonide (Rhinocort Aqua) termasuk dalam kategori B, sedangkan steroid intranasal lainnya, mencakup ciclesonide, fluticasone propionate, mometasone furoate, dan triamcinolone acetonide, adalah kategori C. Obat lain yang efektif untuk kongesti nasal meliputi pseudoefedrin, harus dihindari pada kehamilan trimester pertama sebab meningkatkan risiko gastroschisis (hernia usus di luar tubuh).

Bila Anda hamil waktu menjalani suntikan alergi, suntikan dapat dilanjutkan dengan dosis berapapun yang sekarang diberikan dan dosis tidak boleh dinaikkan sampai setelah bayi lahir karena khawatir berkaitan dengan reaksi sistemik. Untuk alasan yang sama, suntikan alergi tidak boleh dimulai sewaktu hamil. Jika Anda hamil dan memiliki pertanyaan mengenai suntikan alergi dan obat-obat alergi, Anda harus berkonsultasi dengan dokter yang menangani. Dokter ahli kebidanan, dokter lini pertama, dan mungkin konsultan ahli alergi mungkin mereka semua dapat memberikan panduan mengenai permasalahan pengobatan ini. Yang terbaik adalah tidak menghentikan atau mengubah pengobatan Anda kecuali Anda telah mendiskusikan kemungkinan perubahan itu dengan mereka.

Kategori Obat menurut FDA untuk Pemakaian pada Kehamilan

Kategori A :
Adekuat, penelitian yang dikontrol dengan seksama pada wanita hamil tidak memperlihatkan peningkatan risiko janin cacat dalam berbagai trimester kehamilan.

Kategori B :
Penelitian hewan memperlihatkan tidak ada bukti berbahaya bagi janin; namun tidak ada penelitian yang dikontrol dengan seksama dan adekuat pada wanita hamil.
ATAU
Penelitian hewan memperlihatkan efek samping, tetapi penelitian kontrol baik dan adekuat pada wanita hamil tidak menunjukkan risiko janin dalam berbagai trimester.

Kategori C :
Penelitian hewan memperlihatkan efek samping dan tidak ada penelitian yang dikontrol dengan seksama dan adekuat pada wanita hamil.
ATAU
Tidak ada penelitian hewan yang dilakukan dan tidak ada penelitian yang dikontrol dengan seksama pada wanita hamil.

Kategori D :
Penelitian observasional dan yang dikontrol dengan seksama dan adekuat pada wanita hamil memperlihatkan risiko pada janin. Namun, manfaat terapi lebih banyak daripada risiko yang mungkin terjadi. Contoh, obat dapat diberikan jika diperlukan dalam situasi yang mengancam nyawa atau penyakit serius di mana obat yang lebih aman tidak dapat dipakai atau tidak efektif.

Kategori X :
Penelitian observasional atau yang dikontrol dengan seksama dan adekuat pada hewan atau wanita hamil menunjukkan bukti atau risiko positif cacat janin. Pemakaian produk dikontraindikasikan untuk wanita hamil atau akan hamil.

Obat-obatan itu semua dapat digunakan saat Anda menyusui bayi. Namun, sebagian besar obat ini akan lewat aliran darah masuk ke dalam air susu dan menyebabkan efek samping sistemik sama dengan yang terlihat pada ibu. Karena itu, antihistamin kuno dan sedasi seperti diphenhydramine dan chlorpheniramine dapat menimbulkna sedasi yang signifikan pada bayi yang disapih. Obat tipikal, seperti steroid intranasal dan antihistamin intranasal, tidak diserap baik ke dalam aliran darah dan karenanya memiliki efek minimal pada bayi.

Alergi Hidung pada Anak | Alergi Hidung Bertambah Buruk ketika Terbang

This entry was posted in Alergi. Bookmark the permalink.