Alergi terhadap Aspirin, Penisilin dan Lateks

Aspirin, yang merupakan suatu jenis obat yang dikenal sebagai obat Anti Inflamasi Non Steroid (AINS), adalah salah satu obat yang paling sering digunakan di seluruh dunia dan zat yang sangat penting dalam pencegahan serangan jantung dan stroke. Hipersensitivitas aspirin umumnya ada dua bentuk yang terpenting, yaitu aspirin-exacerbated respiratory disease (AERD) = penyakit pernafasan yang diperburuk oleh aspirin dan reaksi sistemik.

AERD adalah jenis reaksi yang paling sering terhadap aspirin, terjadi pada pasien yang mengidap asma, sinusitis kronis, dan polip hidung. Pada pasien ini, meskipun dosis kecil aspirin dan AINS lain dapat menimbulkan kongesti hidung, berair dan kadang-kadang reaksi berat atau konstriksi bronkial dengan mengi yang dapat mengancam nyawa. Pada pasien dengan sindrom AERD, seorang dokter dapat mendesensitisasi pasiennya terhadap aspirin dengan memberikan sedikit dosis dan kemudian dosis dinaikkan secara bertahap sampai dosis penuh (biasanya dua tablet, dua kali sehari). Prosedur desensitisasi ini, harus dilakukan di rumah sakit oleh dokter yang dilatih khusus, desensitisasi tidak hanya dilakukan pada pasien pencegahan stroke atau serangan jantung, tetapi juga memiliki efek manfaat pada pasien dengan polip hidung dan asma.

Reaksi sistemik terhadap aspirin dan AINS adalah biduran, pembengkakan kulit, dan kadang-kadang pembengkakan tenggorok atau tekanan darah turun. Orang-orang yang mengalami biduran atau reaksi sistemik yang lebih berat akibat minum AINS adalah bukan calon untuk desensitisasi.

Sedikitnya 105 orang di Amerika Serikat menderita alergi terhadap penisilin berdasarkan laporan dari orang tua bahwa anak mereka mengalami reaksi sejak bayi.Walaupun sejumlah besar pasien ini mengalami kulit kemerahan karena minum beberapa obat golongan penisilin saat mereka bayi, terutama amoxicillin, pada kebanyakan waktu kemerahan itu disebabkan infeksi virus ketimbang obat. Karena itu pasien-pasien ini sejak awal sebenarnya bukan alergi penisilin dan mendapat label keliru sejak usia dini. Beberapa pasien dengan kulit kemerahan setelah minum turunan penisilin, terutama mereka yang mendapat biduran yang sangat cepat, adalah alergi terhadap penisilin yang sebenarnya. Dengan berlalunya waktu, sensitisasi alergi terhadap obat cenderung menurun, dan dalam kasus penisilin, 80% pasien tidak lagi alergi dalam waktu 10 tahun sejak awal mengalami reaksi alergi. Dalam banyak kasus, dokter akan memilih antibiotika lain untuk mengobati pasien dengan riwayat alergi penisilin pada masa anak. Namun dalam beberapa kasus, pasien beranggapan bahwa mereka juga alergi terhadap berbagai macam antibiotika, termasuk penisilin dan tidak merasa nyaman minum berbagai antibiotika. Dalam kasus ini, sebaiknya penderita berkonsultasi dengan ahli alergi untuk menjalani uji kulit penisilin. Jika uji ini negatif, pasien dapat minum penisilin atau turunannya dengan resiko reaksi sistemik minimal.

Setelah membersihkan gigi, mulut menjadi bengkak dan pernah mengalami hal yang sama saat meniup balon. Kedua kejadian ini melibatkan kontak oral dengan karet lateks. Alergi lateks disebabkan oleh timbulnya antibodi IgE terhadap protein tertentu yang ditemukan dalam karet alami, suatu produk yang dibuat dari cairan berwarna putih susu berasal dari pohon karet (Havea brasiliensis) ditemukan di Afrika dan Asia Tenggara. Produk yang mengandung lateks yaitu sarung tangan karet, balon, pengikat karet, dan kondom adalah sumber gejala alergi yang paling banyak. Produk karet keras seperti sepatu olahraga, ban dan bola karet, biasanya tidak menyebabkan alergi pada banyak orang. Produk yang mengandung karet buatan manusia, seperti cat lateks, tidak menyebabkan reaksi karena cat tersebut tidak mengandung protein lateks alami. Alergi lateks pertama mungkin muncul sebagai biduran atau pembengkakan kulit, atau mungkin menimbulkan gejala sistemik, mulai dari gejala bersin-bersin sampai anafilaksis.

Sebagian pasien mengalami peningkatan resiko timbulnya alergi lateks. Kelompok beresiko paling tinggi adalah anak-anak dengan spina bifida, yaitu anak yang lahir dengan cacat pada perkembangan tulang belakang. Anak dengan spina bifida berulang kali terpajan pada produk lateks waktu waktu tindakan bedah dan kateterisasi saluran kencing, dan kira-kira setengah dari mereka menjadi alergi terhadap lateks. Kelompok dengan prevalensi alergi lateks kedua tertinggi adalah tenaga kesehatan, yang terutama terpajan pada lateks dalam bentuk sarung tangan lateks. Jika diduga adanya alergi terhadap lateks, alergi dapat dipastikan dengan uji kulit, yang dilakukan oleh spesialis alergi, atau tes darah.

Bagaimana alergi lateks diobati? Alergi lateks tidak dapat disembuhkan, jadi penting untuk menurunkan pajanan lateks. Sebagian besar produk lateks memiliki pengganti yang cocok. Jika pekerjaan anda berkaitan dengan pemakaian produk karet lateks, bicarakan kepada pemilik dan diskusikan untuk mengurangi jumlah produk lateks yang mungkin terpajan terhadap anda sewaktu anda bekerja. Jika anda harus memakai sarung tangan waktu bekerja, pilihlah sarung tangan yang dibuat tanpa lateks. Sarung tangan vinil berefek baik dalam beberapa situasi, tetapi sarung tangan vinil tidak efektif untuk melindungi anda dari hepatitis atau penularan HIV. Beberapa jenis sarung tangan sintetik yang lain berefek sama baiknya dengan sarung tangan lateks untuk menghentikan penularan penyakit, tetapi sarung tangan sintetik lebih mahal. Jauhilah kawasan tempat anda bekerja dimana pekerja lainnya sedang menggunakan sarung tangan karet. Mohon pada orang rekan kerja anda untuk memakai sarung tangan yang tidak dibedaki dengan tepung jagung; bedak dengan mudah bertebaran dan menimbulkan peningkatan pajanan lateks di udara.

Selain menghindari lateks waktu bekerja, anda harus memberitahu tenaga ahli kesehatan, termasuk dokter dan dokter gigi, tentang alergi lateks anda. Anda juga perlu memakai gelang peringatan kesehatan. Anda harus selalu menyimpan identifikasi (kartu di dompet atau gelang kesehatan) yang dengan jelas memberikan peringatan berbagai alergi yang anda idap.

Terakhir, pemakaian kondom bukan lateks. Jika anda alergi terhadap lateks, pertimbangkan penggunaan polyurethane atau kondom kulit domba, atau jenis alat kontrasepsi lain. Namun, ingatlah kondom yang dibuat dari produk alternatif ini tidak melindungi terhadap penyakit penularan seksual sebaik kondom lateks. Pastikan untuk membaca etiket pada kemasan untuk melihat kondom dibuat dari apa dan apakah dilabelisasi untuk pencegahan penyakit.

Alergi Terhadap Anestesi Lokal dan Antibiotik | Biduran dan Penyebabnya

This entry was posted in Alergi. Bookmark the permalink.