Biduran dan Penyebabnya

Biduran juga disebut “urtikaria”, adalah suatu jenis kemerahan pada kulit yang terlihat merah bentol berukuran diameter dari setengah inchi sampai 2 atau 3 inchi. Seringkali, biduran sangat gatal tetapi kadang-kadang terasa panas terbakar. Lesi biduran dapat bertahan selama antara satu jam sampai 12 jam dan akan menghilang tanpa ada bekas tanda atau perubahan warna. Jika biduran bertahan lebih lama dari 24 jam, nyeri, dan meninggaljan memar harus diduga kondisi lebih serius, seperti vaskulitis (peradangan pembuluh darah).

Biduran disebabkan oleh pelepasan histamin dan kemungkinan zat kimia lain, seperti leukotrien ke dalam lapisan luar kulit. Zat kimia ini menimbulkan dilatasi pembuluh darah, yang timbul sebagai pembengkakan kulit, dan perangsangan saraf tepi, yang menimbulkan gatal. Ketika jenis pembengkakan yang sama terjadi dalam lapisan kulit lebih dalam, tidak ada biduran yang kecil, terpisah sendiri-sendiri dan tampak pembengkakan yang menyebar luas. Manifestasi ini disebut angioedema dan paling sering terjadi pada bagian tubuh yang kulitnya lebih longgar melekat pada dasar jaringan ikat seperti sekitar mulut dan mata. Sebab angioedema terjadi pada lapisan kulit terdalam jenis pembengkakan ini butuh waktu lebih lama untuk sembuh daripada biduran.

Biduran dan angiodema dapat dibagi menjadi dua kategori berdasarkan lama gejala: akut dan kronis. Biduran akut didefinisikan sebagai lesi yang timbul dan hilang dalam waktu 6 minggu atau kurang, dan sekingkali keadaan akut hanya berlangsung selama beberapa jam atau hari. Biduran yang berlangsung selama beberapa jam sampai hari sering kali disebabkan oleh alergi terhadap makanan atau sengatan serangga, sedangkan biduran yang berlangsung antara beberapa hari dan 2 minggu terutama pada alergi obat atau setelah infeksi virus.

Angiodema dan biduran kronis didefinisikan berlangsung lebih dari 6 minggu. Pasien-pasien dalam kelompok ini mengidap biduran saja ada 40 % kasus, biduran dan angiodema ada 40% kasus, dan angiodema saja ada 20% kasus. Dalam dua pertiga orang-orang dengan biduran kronis, tidak ada penyebab spesifik yang dapat diidentifikasi (juga disebut “idiopatik”). Kira-kira 20-30% pasien dengan biduran kronis dianggap mengidap biduran autoimun; pasien ini memiliki antibodi yang secara langsung melawan target molekul dalam kulit mereka. Dalam aturan umum pasien ini tidak berkembang menjadi penyakit autoimun yang lebih serius seperti, sistemik lupuseritematosus atau rheumatoid arthritis. Penyebab paling sering selanjutnya dari kekeambuhan biduran kronis adalah rangsangan fisik. Pencetus ini meliputi tekanan pada kulit, pajanan terhadap aira atau udara dingin, atau peningkatan temperatur tubuh karena air panas atau olahraga. Rangsangan ini yang paling sering dihadapi adalah tekanan fisik juga disebut “dermatografi”. Penyebab dasar tekanan fisik yang menyebabkan biduran tidak diketahui dengan baik. Penyebab lain biduran kronis yang tidak terlalu sering adalah penyakit sistemik seperti gangguan hormonal (seperti penyakit tiroid) dan infeksi kronis (parasit usus). Yang penting, ketika penyakit sistemik menyebabkan biduran atau angiodema, biasanya ada tanda-tanda atau gejala lain yang menunjukkan masalah dasar tambahan terhadap biduran.

Selain penyakit-penyakit ini ada gangguan yang sangat jarang, disebut “angiodema herediter”, dimana tidak hadirnya protein darah penting (protein penghambat C1 esterase) menimbulkan serangan akut berulang pembengkakan kulit dalam. Pasien ini mungkin mengidap angiodema kulit, tenggorok, lidah, dan/atau saluran pernafasan tanpa ada biduran dan gangguan biasanya menimbulkan gejala dekade kelima dalam kehidupan.

Evaluasi biduran kronis harus selalu dimulai dari riwayat kesehatan dan uji fisik; namun dalam sebagian besar kasus penyebab tersebut tidak dapat diidentifikasi. Sebagian besar dokter akan melakukan pemeriksaan panel umum darah meliputi darah lengkap dan hitung jenis sel darah putih, laju endap darah, panel kimia, panel tiroid dan analisa air seni, untuk menyingkirkan penyakit sistemik mayor. Jika semua uji ini normal, seperti kebanyakan memang demikian, sejumlah uji yang lebih khusus perlu dipertimbangkan.

Pertama, dan yang paling penting adalah tes yang disebut tes kulit serum autologous. Seperti namanya, pada tes ini darah diambil dari pasien dan disentrifugal untuk memisahkan del-sel darah dari serum; serum pasien sendiri dalam jumlah sangat sedikit disuntikkan intradermal dan diamati selama 15 menit. Jika reaksi alergi terjadi pada tempat suntikanm ini adalah bukti baik bahwa pasien memiliki antibodi dalam darah yang menempel pada komponen-komponen kulit dan menyebabkan sel mast melepaskan histamin dan kimia-kimia lain. Prosedur ini secara khusus hanya dikerjakan oleh ahli alergi dengan pengalaman ekstensif dalam mengobati biduran kronis. Sebagai alternatif dari tes kulit ini, suatu tes adarah komersial telah dikembangkan (indeks Urtikaria Kronis, IBT Labs), yang akan mendeteksi apakah pasien memiliki autoantibodi langsung terhadap komponen-komponen kulit. Jika hasil tes adarah atau kulit positif, berarti memastikan diagnosis biduran autoimun.

Jika pasien menemukan biduran atau angiodema timbul konsisten setelah makan, dan terutama jika gejala timbul lebih episodik, lalu pemeriksaan alergi lewat darah atau kulit terhadap makanan dapat berguna. Dalam banyak kasus, makanan yang diseleksi untuk pemeriksaan berdasarkan hasil catatan makanan harian (lihat pertanyaan 64), dimana pasien mencatat semua episode lesi kulit bersama dengan semua makanan yang dimakan selama periode 2 sampai 4 minggu. Makanan yang dimakan kurang dari 4 jam sebelum biduran akan diseleksi sebelum pemeriksaan. Jika pasien mengalami biduran dan/ atau angiodema setiap hari, akan tetapi tanpa koneksi temporal yang jelas dengan makanan, lalu tes alergi terhadap makanan jarang berguna. Pasien-pasien yang memiliki angiodema terisolasi, terutama bagi mereka yang mengidap pembengkakan tenggorok atau perut, harus dipertimbangkan mengalami angiodema herediter, dan tes spesial sistem komplemen (pengujian fungsional komponen C4 dan penghambat C1) perlu dikerjakan.

Alergi terhadap Aspirin, Penisilin dan Lateks | Pengobatan untuk Biduran

This entry was posted in Alergi. Bookmark the permalink.