Cairan Kronis di Kedua Telinga dan Keperluan Orthodontia pada Anak

Infeksi telinga tengah akut (otitis media akut) biasanya terjadi setelah flu, dan kadang-kadang cairan dalam ruang telinga tengah menetap untuk periode waktu yang lama. Cairan telinga tengah kronis, dinamakan otitis media dengan efusi, didefinisikan sebagai peradangan telinga tengah ringan dengan cairan tetapi tanpa gejala demam, nyeri, dan infeksi. Gejala yang paling umum dari cairan telinga tengah kronis pada bayi adalah iritabilitas atau gangguan tidur, kegagalan respon yang tepat terhadap suara atau bunyi lingkungan, keseimbangan masalah, kejanggalan yang tidak dapat dijelaskan, keterlambatan perkembangan kecakapan motorik kasar, bicara atau berbahasa, dan tanda-tanda kehilangan pendengaran lain (seperti pendengaran terhadap televisi dengan suara sangat keras). Keluhan umum pada seorang anak berumur 5 tahun dengan cairan telinga tengah menetap adalah mengosok telinga, nyeri telinga hilang timbul yang ringan, telinga terasa penuh atau “meletup” dan persoalan dengan prestasi sekolah. Namun, pada sekitar separuh anak-anak dengan cairan telinga tengah menetap, baik anak-anak tersebut maupun orang tuanya tidak mendeskripsikan keluhan yang berarti.

Banyak faktor yang berkontribusi terhadap kemungkinan berkembangnya cairan telinga tengah kronis pada seorang anak, termasuk umur dan latar belakang genetik anak tersebut, bentuk struktur telinga tengah, di samping pajanan terhadap infeksi virus, alergen di udara, dan iritan (misalnya asap tembakau). Banyak penelitian memperlihatkan bahwa anak dengan alergi pada hidung meningkat risikonya terhadap timbulnya cairan telinga tengah kronis, khususnya anak berusia lebih dari 3 tahun. Sedangkan hubungan antara alergi dan cairan telinga tengah adalah belum jelas sekali, kita paham bahwa alergi pada hidung dapat mengakibatkan pembengkakan tuba eustachi, yang mengubah tekanan dalam telinga tengah dan memiliki kecenderungan akumulasi cairan di ruang telinga.

Pada anak dengan cairan telinga kronis yang juga mengidap gejala hidung menetap, ada manfaatnya menjalani uji alergi. Jika tes memperlihatkan hasil positif, dokter akan anjurkan keluarga melakukan tindakan penghindaran alergen dan meresepkan obat yang tepat. Jika langkah ini tidak dapat menghilangkan gejala alergi anak, dokter akan mempertimbangkan pemberian imunoterapi alergi. Pada keadaan di mana seorang pasien tidak memiliki gejala rinitis alergi, dokter tidak akan melakukan tes alergi; dokter tidak juga meresepkan obat anti alergi.

Anak akan mengalami sumbatan hidung kronis karena berbagai alasan, meliputi rinitis alergi, rinitis bukan alergi, atau pembesaran kelenjar adenoid (amandel). Ketika anak berbaring untuk tidur, sumbatan sering menjadi berat karena peningkatan aliran darah ke jaringan mukosa hidung disebabkan gravitasi, yang menyebabkan membran membengkak. Sumbatan dapat juga bertambah berat karena faktor posisi yang menyebabkan pembesaran kelenjar adenoid mengganggu saluran napas atas. Ketika sumbatan hidung menjadi berat, pada waktu malam atau sepanjang hari, pola pernapasan berpindah dari pernapasan melalui hidung ke pernapasan utama lewat mulut, yang berakibat mendengkur, mulut kering, dan sakit tenggorokan. Pernapasan mulut membuat rongga mulut berada dalam kondisi stres yang berarti dan akhirnya menyebabkan langit-langit mulut menjadi sempit dan melengkung tinggi dan rahang bawah bergeser ke belakang kearah leher. Perubahan anatomi ini akhirnya menyebabkan gigi-gigi menjadi bertumpuk padat dan menimbulkan terjadinya overbite (saling tumpah tindih antara gigi rahang bawah dengan gigi rahang atas). Masalah mulut seperti ini sering ditemukan pada umur sekitar 4 atau 5 tahun; sekali terjadi, masalah ini memerlukan perluasan langit-langit mulut dan peralatan orthodontic lain untuk memperbesar langit-langit mulut dan memperkuat gigi. Masalah orofacial ini sangat penting dalam diagnosis dan pengobatan sumbatan hidung pada anak kecil.

Alergi Hidung Bertambah Buruk ketika Terbang | Sinusitis dan Hubungannya dengan Alergi

This entry was posted in Alergi. Bookmark the permalink.