Faktor Resiko, Perbedaan, dan Jenis Polisitemia

Ada beberapa faktor resiko yang membuat seseorang rentan terkena polisitemia.

– Hipoksia penyakit paru yang kronis (berkepanjangan) dan merokok. Terutama merokok merupakan faktor resiko yang signifikan untuk polisitemia.

РPaparan karbonhidroksida (CO) yang kronis. Masalahnya, hemoglobin mempunyai  daya menariknya yang lebih tinggi/besar untuk CO daripada untuk oksigen. Kemungkinan kompensesi pengangkutan oksigen yang rendah, hemoglobin lalu menarik CO dan mengangkutnya. Paparan karbonhidrosikda yang kronis biasanya dialami oleh mereka yang bekerja di terowongan bawah tanah atau di tempat-tempat parkir mobil, dijalanan yang macet dan berpolusi tingggi, dan para pekerja pabrik.

– Mereka yang bertempat tingggal di dataran tingggi kemungkinan beresiko mengembangkan polisitemia karena lingkungannnya mengandung oksigen yang tipis.

– Mereka yang mengalami mutasi genetik, atau jenis-jenis polisitemia dengan kelainan hemoglobin tertentu.

Untuk membedakan polisitemia primer dan polisitemia sekunder, dilakukan pengukuran kadar oksigen di dalam contoh darah arteri. Jika kadar oksigen rendah, berarti pasien menderita polisitemia sekunder.

Polisitemia primer mempunyai beberapa manifestasi klinis yaitu pada sistem kardiovaskuler, gastrointestinal, neuromuskular, juga manisfestasi di ronggga mulut. Masing-masing mempunyai akibatnya.

Polisitemia primer didiagnosis banding dengan polisitemia relatif, polisitemia sekunder dan kelainan mieloproliferatif.

Polisitemia ada 3 jenis, yaitu:

* Polisitemia relatif yang berhubungan dengan hipertensi, obesitas, dan stres. Dikatakan relatif karena terjadi penurunan volume plasma namun massa sel darah merah tidak mengalami perubahan. Ini terjadi jika penderita mengalami dehidrasi disebabkan muntah, diare, atau berkeringat berlebihan. Disebut relative polycythemia karena angka-angka sebenarnya dari sel-sel darah merah adalah tidak normal.

Sedangkan yang disebut stress polycythemia adalah jika volume plasma rendah yang kronis. Umumnya dialami oleh para lansia pria yang msih aktif bekerja keras atau yang selalu gelisah. Pada orang-orang ini, volume sel darah merah normal tapi volume plasma rendah. Kondisi ini juga disebut stress erythrocytosis, atau pseudopolycythemia.

Ada lagi yang dikenal dengan smoker’s polycythemia, yaitu kondisi yang dialami para perokok berat dimana terjadi peningkatan deoxygenated hemoglobin (hemoglobin yang tidak mengangkut oksigen melainkan mengangkut karbonmonooksida) yang menyebabkan peningkatan jumlah sel-sel darah merah.

* Yang kedua, polisitemia primer disebabkan sel induk hematopoietik (zat yang meningkatkan pembentukan sel darah) mengalami proliferasi (duplikasi atau multiplikasi bentuk serupa) secara berlebihan tanpa perlu rangsangan dari eritropoietin (hormon glikoprotein yang disekresi terutama oleh ginjal, bekerja pada sel sum-sum tulang untuk menstimulasi produksi sel darah merah) atau hanya dengan kadar eritropoietien rendah. Dalam kondisi normal, proses proliferasi terjadi karena rangsangan eritropoietin yang adekuat (mencukupi). Contoh polisitemia jenis ini (primer) adalah polisitemia vera.

* Yang ketiga, adalah polisitemia sekunder. Pada jenis ini proliferasi eritrosit disertai peningkatan kadar eritropoietin. Jadi, keadannya berbanding terbalik dengan polisitemia primer. Peningkatan masa sel darah merah lama kelamaan akan mencapai keadaan hemostasis (penghentian perdarahan) dan kadar eritropoietin kembali ke batas normal. Contoh polisitemia jenis ini (sekunder yang sifatnya fisiologis) adalah hipoksia.

Penyebab Polisitemia | Gejala Polisitemia

This entry was posted in Sindrom Darah Kental. Bookmark the permalink.