Faktor Resiko Stroke pada Usia Muda (Bagian 1)

Faktor Resiko Stroke pada Usia Muda – Genetik, Migren, Kontrasepsi Oral, Malformasi Arteriovenosa, Diskrasia Darah

Apakah masih muda bisa terkena stroke? Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), sekitar 12% populasi penduduk Indonesia saat ini menderita penyakit stroke. Dari jumlah itu, penderita stroke di usia produktif meningkat daripada beberapa tahun lalu. Kondisi ini berbeda dari beberapa tahun lalu karena saat ini penderita stroke yang dijumpai di bangsal neurologi banyak merupakan usia profuktif. Oleh karena itu, pemahaman tentang berbagai faktor resiko lain yang spesifik pada usia muda mutlak diperlukan.

A. Peran Faktor Genetik pada Stroke

Riwayat stroke pada orangtua (baik ayah maupun ibu) akan meningkatkan resiko stroke. Peningkatan resiko stroke ini dapat diperantarai oleh beberapa mekanisme, yaitu :
1. penurunan genetis faktor resiko stroke
2. penurunan kepekaan terhadap faktor resiko stroke
3. pengaruh keluarga pada pola hidup dan paparan lingkungan
4. Interaksi antara faktor genetik dan lingkungan.
Penelitian pada anak kembar memperlihatkan peran faktor genetik pada resiko stroke.

Beberapa kelainan genetik yang jarang dihubungkan dengan stroke. Suatu sindrome kelainan genetik, yaitu Cerebral Autosomal Dominant Arteriopathy with Subcortical Infarct and Leukoencephalopathy (CADASIL) ditandai oleh infark subkortikal, demensia, dan nyeri kepala migren. Sindroma Marfan dan neurofibromatosis tipe I dan tipe II juga dihubungkan dengan peningkatan resiko stroke.

B. Migren dan Stroke

Migren merupakan tipe nyeri kepala yang umum pada usia dewasa muda, dengan prevalensi sebesar 4% sebelum masa pubertas, dan sebesar 25% pada wanita di usia 30 tahun. Beberapa penelitian epidemiologi terdahulu menunjukkan peningkatan resiko stroke pada penderita migren. Mekanisme yang mendasari kejadian stroke pada penderita migren adalah kondisi hiperkoagubilitas dan pengurangan aliran darah serebral pada saat fase aura.

Etminan dkk (2005) melakukan kajian sistematis dan meta analisis terhadap 14 penelitian (11 penelitian kasus kontrol dan 3 penelitian kohort) terdahulu. Hasil kajian sistematis menunjukkan bahwa resiko stroke meningkat pada penderita migren (RR=2,16 , 95% Cl 1,89-2,48). Peningkatan resiko ini secara konsisten teramati pada pasien migren dengan aura (RR=2,27 , 95% Cl=1,61-3,19), dan migren tanpa aura (RR=1,83 , 95% Cl 1,06-3,05), dan terlebih pada penderita migren dengan konsumsi kontrasepsi oral (RR=8,72 , 95% Cl=5,05-15,05).

C. Kontrasepsi Oral dan Stroke

Peningkatan resiko stroke akibat penggunaan kontrasepsi oral terutama teramati pada preparat yang mengandung estradiol tinggi (>= 50 ug). Hasil berbagai penelitian terdahulu tentang hubungan antara pemakaian kontrasepsi oral dan stroke masih sangat kontroversial. Analisis stratifikasi menunjukkan bahwa peningkatan resiko stroke pada pemakai kontrasepsi oral terutama pada wanita > 35 tahun, perokok sigaret, hipertensi, diabetes, menderita migren, dan wanita dengan riwayat penyakit thromboembolik.

Kajian sistematis Schwartz, dkk (1998) pada 2 penelitian kasus kontrol yang mengukur resiko stroke pada wanita muda (18-44 tahun) yang menggunakan kontrasepsi hormonal. Data diperoleh dari hasil wawancara 177 pasien stroke iskemik, dan 198 pasien stroke hemoragik. Sebagai kontrol dipilih 1191 subjek non stroke. Kajian sistematis tersebut menyimpulkan bahwa tidak ada bukti yang kuat bahwa penggunaan kontrasepsi oral hormonal meningkatkan resiko stroke. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan, terutama pengukuran resiko yang lebih spesifik pada kelompok usia tertentu, merokok, obesitas, hipertensi, atau riwayat migren.

D. Malformasi Arteriovenosa

Malformasi arteriovenosa adalah kelainan kongenital, ketika arteri dan vena langsung dihubungkan oleh satu atau lebih fistula. Hubungan langsung ini tanpa perantaraan sistem kapiler. Lapisan arteri tidak memiliki cukup lapisan muskuler. Vena sering kali mengalami dilatasi akibat dari tekanan aliran darah yang tinggi melalui fistula. Malformasi arteriovenosa merupakan sumber stroke perdarahan pada 2% kasus stroke perdarahan dan pada umumnya pada usia muda (Schumacher,2006).

Kajian sistematis Al Shahi dan Warlow (2001) memperlihatkan bahwa angka insidensi AVM kurang lebih 1 per 100.000 per tahun, dengan angka prevalensi sebesar 18 per 100.000. Malformasi arteriovenosa bertanggung jawab pada 1% – 2% kasus stroke, 3% stroke pada usia muda, dan 9% kasus perdarahan subarachnoid.

Malformasi arteriovenosa menyebabkan gangguan neurologi dengan 3 mekanisme :
1. perdarahan yang dapat masuk ke ruang subarachnoid, ruang intra ventrikuler, dan parenkim otak
2. kejang pada 15% – 40% pasien dengan AVM
3. defisit neurologi yang progresif pada 6% – 12% pasien, melalui mekanisme semakin membesarnya ukuran AVM atau fenomena kekurangan aliran darah akibat aliran darah langsung dari arteri ke vena (stealing phenomenon) (Schumacher,2006).

Tata laksana medis untuk malformasi arteriovenosa bersifat individual, tergantung pada demografik, riwayat penyakit, dan hasil angiografi. Terapi invasif untuk malformasi arteriovenosa dapat meliputi embolisasi endovaskuler, reseksi bedah, dan radiasi fokal. Terapi invasif dapat diberikan secara tunggal atau kombinasi (Schumacher,2006).

E. Diskrasia Darah dan Stroke

Abnormalitas hematologi merupakan salah satu faktor resiko penyakit serebrovaskuler. Gangguan koagulasi merupakan faktor predisposisi terjadi thrombosis. Gangguan hemostatik yang sering dihubungkan dengan stroke adalah gangguan faktor V Leiden, defisiensi protein C dan S dan antithrombin III, anemia sickle cell, hiperhomosisteinemia, dan sindroma antiphospholipid antibodi (Vaishnav,2006).

Diskrasia darah atau hiperkoagulabilitas sebagai penyebab stroke harus dicurigai ada kondisi-kondisi berikut ini :
1. usia < 50 tahun, tanpa penyebab stroke yang jelas
2. riwayat stroke berulang yang tidak dapat dijelaskan
3. riwayat thrombosis vena sebelumnya
4. riwayat thrombosis pada keluarga
5. abnormalitas hasil tes koagulasi.
Sindroma antiphospholipid harus dicurigai pada pasien dengan riwayat abortus berulang, demensia, neuropati optik dan sindroma lupus (Vaishnav,2006).

Tata laksana diskrasia darah sebagai penyebab stroke masih kontroversial. Manfaat dan resiko terapi harus dipertimbangkan benar. Anti koagulan merupakan pilihan terapi utama. Tindakan profilaksis harus diberikan pada saat-saat resiko tinggi, misalnya kehamilan, immobilisasi, atau masa post operasi (Vaishnav,2006).

Gejala Stroke | Faktor Resiko Stroke pada Usia Muda (Bagian 2)

This entry was posted in Stroke. Bookmark the permalink.