Faktor Resiko Stroke pada Usia Muda (Bagian 2)

Faktor Resiko Stroke pada Usia Muda – Jantung Kongenital, Penyalahgunaan Obat, Kehamilan, Menopause, Cedera Leher, Sindroma Metabolik

F. Penyakit Jantung Kongenital dan Stroke

Atrial fibrilasi merupakan salah satu faktor resiko stroke kardioembolik yang utama. Berbagai kondisi penyakit jantung lain yang simptomatik maupun asimptomatik dihubungkan pula dengan peningkatan resiko stroke. Kelainan jantung diperkirakan ikut bertanggung jawab pada kurang lebih 40% kasus kriptogenik stroke pada usia muda. Kelainan jantung bawaan yang terkait dengan peningkatan resiko stroke adalah Patent Foramen Ovale, Atrial Septal Defect, dan Atrial Septal Aneurisma).

G. Penyalahgunaan Obat, Konsumsi Alkohol, dan Stroke

Penyalahgunaan obat merupakan masalah kesehatan yang besar di dunia. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penyalahgunaan obat, termasuk kokain, amfetamin, dan heroin berhubungan dengan peningkatan resiko stroke. Berbagai obat tersebut dapat mengganggu aliran darah, menginduksi vaskulitis, menyebabkan embolisasi, endokarditis infektif, mengganggu agregasi platelet, dan meningkatkan viskositas darah (Goldstein dkk,2006).

Penelitian epidemiologi terdahulu memperlihatkan hubungan kurva J-shape untuk konsumsi alkohol dan faktor resiko stroke. Hal ini  berarti bahwa konsumsi alkohol ringan sampai sedang memiliki efek protektif, namun konsumsi berlebih meningkatkan resiko stroke. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa konsumsi alkohol dalam dosis kecil atau sedang akan meningkatkan kolesterol HDL, mengurangi agregasi platelet, dan menurunkan konsentrasi fibrinogen plasma. Konsumsi alkohol berlebih akan meningkatkan resiko hipertensi, hiperkoagulabilitas, mengurangi aliran darah otak, dan meningkatkan resiko atrial fibrilasi (Goldstein dkk,2006).

H. Kehamilan dan Melahirkan

Kehamilan dan melahirkan menempatkan seorang wanita pada resiko terkena stroke meskipun tidak tinggi, yakni 8 diantara 100 wanita hamil. Resiko stroke terbesar sering kali terjadi pada periode 6 minggu setelah melahirkan (post-partum). Penyebabnya tidak diketahui, namun perubahan hormonal pada akhir kehamilan diduga dapat meningkatkan resiko stroke.

I. Menopause

Produksi hormon estrogen pada usia menopause berkurang, resiko stroke pada wanita meningkat secara drastis. Untuk mengurangi pengaruh menopause sekaligus menurunkan resiko stroke kadangkala disarankan terapi sulih hormon (Hormon Replacement Therapy) tetapi terapi tersebut perlu dilakukan dengan kontrol dokter untuk memperkecil efek sampingnya (kanker payudara dan kanker rahim).

Kelompok muda dalam dua kategori, yaitu di bawah usia 15 tahun dan berusia antara 15 hingga 44 tahun. Orang yang masih muda nampaknya lebih berpeluang menderita stroke hemoragik dibandingkan stroke iskemik. Seorang anak yang mengalami stroke mungkin kehilangan suara, kehilangan bahasa yang ekspresif (termasuk bahasa tubuh dan gerak isyarat), kehilangan tenaga pada salah satu sisi tubuh (hemiparesis), kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh (hemiplegia), dan kerusakan pembicaraan (disartria).

J. Cedera Leher dan Kepala

Cedera pada kepala atau cedera otak traumatik dapat menyebabkan perdarahan di dalam otak dan menyebabkan kerusakan yang sama seperti pada stroke hemoragik. Sedangkan cedera pada leher, bila terkait dengan robeknya tulang punggung atau pembuluh karotid yang mengakibatkan peregangan atau pemutaran leher secara berlebihan atau adanya tekanan pada pembuluh, merupakan penyebab stroke yang cukup berperan, terutama pada orang dewasa usia muda.

Memahami faktor resiko stroke akan membantu upaya pencegahan yang efektif.

K. Sindroma Metabolik dan Stroke

Sindroma metabolik adalah suatu faktor resiko multipel untuk penyakit kardioserebrovaskular. Sindrom ini berkembang melalui kerja sama yang saling terkait antara obesitas dan kerentanan metabolik. Sindroma ini merupakan salah satu resiko untuk penyakit kardiovaskular aterosklerotik – atherosclerotic cardiovascular disease (ASCVD). Sindroma ini pertama kali diamati dan dilaporkan pada 1923 yang mengkategorikannya sebagai gabungan dari hipertensi, hiperglikemia, dan gout. Berbagai abnormalitas metabolik lain dikaitkan dengan sindroma ini diantaranya obesitas, mikroalbuminuria, dan abnormalitas fibribolisis dan koagulasi.

Pada 1998, WHO memperkenalkan istilah sindroma metabolik. Beberapa kriteria diagnosa untuk menegakkan sindrom ini kemudian dikemukakan, diantaranya kriteria WHO dan kriteria dari The Third Report of the National Cholesterol Education Program (NCEP) Adult Treatment Panel III.

Prevalensi sindroma metabolik (SM) diperkirakan akan meningkat dalam beberapa waktu belakangan ini. Hal tersebut sangat terkait dengan perubahan pola hidup di masyarakat. Prevalensi SM pada populasi yang berusia 20-25 tahun ke atas di India sekitar 8% dan di Amerika Serikat sebanyak 24% (Atul dkk,2006). Sindroma metabolik juga memiliki dampak yang buruk terhadap prognosis penyakit kardioserebrovaskuler. Penelitian Klein dkk (2007) memperlihatkan bahwa 21.7% pasien gangguan jantung dengan sindroma metabolik akan mengalami kejadian penyakit kardioserebrovaskuler (infark miokard akut, stroke, atau kematian mendadak) ulang dalam waktu pengamatan 6-7 tahun.

Faktor Resiko Stroke pada Usia Muda (Bagian 1) | Faktor Resiko Stroke pada Usia Muda (Bagian 3)

This entry was posted in Stroke. Bookmark the permalink.