Hipotesis Higiene

Hipotesis higiene adalah sebuah teori yang mencoba menjelaskan meningkatnya kejadian alergi dan asma pada negara-negara maju. Teori ini juga berusaha menguraikan faktor-faktor yang bertanggung jawab terhadap berkembangnya asma pada individu.

David Strachan, seorang ahli epidemologi berkebangsaan Britania Raya, mengemukakan awal dari hipotesis ini pada tahun 1989 setelah mempelajari catatan-catatan kesehatan dari 17.414 anak-anak Britania Raya yang lahir pada suatu minggu di bulan Maret 1958 dan kemudian terus dipantau sampai mereka berusia 23 tahun. Artikel berjudul ” Hay Fever, Higiene, dan Ukuran Rumah Tangga” yang terbit pada 18 November 1989 di Jurnal Kedokteran Britania Raya, mencari hubungan kehadiran atau ketidakhadiran hay fever (alergi serbuk bunga) dan eksema pada masa kanak-kanak dengan data tentang 16 faktor-faktor masa perinatal, sosial, dan lingkungan. Hipotesis yang dihasilkan mengusulkan bahwa meningkatnya penyakit asma dan alergi berjalan bersama-sama dengan menurunnya penyakit infeksi pada masa kanak-kanak. Dalam masa 100 tahun terakhir, proses urbanisasi, kemajuan pada kesehatan publik, perbaikan sanitasi, dan lingkungan kehidupan yang lebih bersih, sejalan dengan mulainya pemakaian antibiotik, semuanya ini berakibat berkurangnya penyakit-penyakit infeksi pada anak-anak. Dalam periode yang sama, tingkat kejadian penyakit-penyakit asma dan alergi menjadi meningkat. Hipotesis higiene menghubungkan dua pengamatan ini. Hipotesis ini mengusulkan bahwa berkurangnya kontak terhadap lingkungan yang “kotor” dan zat-zat penyebab infeksi pada masa tertentu pada masa kanak-kanak menyebabkan berkurangnya rangsangan pada bagian-bagian tertentu dari sistem imunitas dari anak yang sedang tumbuh. Sebagai akibatnya, tidak terjadi perubahan pada reaksi imunitas. Ketidakhadiran perubahan-perubahan ini, selanjutnya memberi kecenderungan pada anak terhadap meningkatnya risiko berkembangnya alergi atau asma.

Studi-studi epidemologi memperkuat kepercayaan terhadap hipotesis higiene. Kontak terhadap lingkungan pertanian, sebagai contoh, dan khususnya terhadap binatang-binatang pertanian, tampaknya memberi perlindungan dari berkembangnya asma. Anak-anak yang dibesarkan di tanah pertanian mengalami kontak dengan berbagai macam organisme (binatang-binatang, virus, bakteri) dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan di daerah perkotaan. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa anak-anak dari komunitas pertanian terjangkit lebih sedikit asma, hay fever, dan alergi. Contoh lain yang mendukung kuat aspek-aspek dari hipotesis higiene diberikan oleh hasil kerja terbaru dari dr. Martin Blaser, spesialis pada penyakit menular dan peneliti terkemuka yang mempelajari Helicobacter pylori. H. pylori adalah sebuah bakteri yang ditemukan di seluruh dunia, biasanya menjangkiti manusia pada usia dini. H. pylori adalah penyebab dari penyakit luka lambung dan duodenum yang berulang dan berhubungan dengan kanker lambung pada masa dewasa. Sejalan dengan kondisi kehidupan yang membaik dan terapi antibiotik pada masyarakat barat pada abad 20, laju dari infeksi H. pylori pada masa kanak-kanak menurun secara dramatis. Penurunan itu terjadi bertentangan dengan latar belakang meningkatnya asma masa kanak-kanak (dan alergi) mengarah ke hipotesis bahwa H. pylori yang didapat masa kanak-kanak berkaitan dengan pengurangan risiko untuk asma dan alergi. Lebih jauh, dr. Blaser dan rekannya meninjau ulang data yang dikumpulkan antara tahun 1988 dan 1994 dari 7663 orang sebagai bagian dari Pusat AS untuk Pengendalian Penyakit dan Pencegahan, Survei Kesehatan Nasional dan Nutrisi Ketiga (NHANES) dan juga dari 7412 individu dari follow up NHANES pada tahun 1999 – 2000. Temuan menunjukkan hubungan yang signifikan antara adanya infeksi H. pylori dan serangan asma dini pada anak-anak dan remaja. Organisasi ini menunjukkan bahwa H. pylori yang didapat pada masa kanak-kanak memang memberi perlindungan dari kondisi asma dan alergi.

Mekanisme seluler yang tepat tentang bagaimana pajanan melindungi seseorang dari berkembangnya asma dan alergi tidak jelas. Satu kemmungkinan, bahwa peningkatan jumlah infeksi atau terpajan hewan ternak (atau binatang peliharaan) dapat merangsang sistem imun anak yang belum matur untuk mengembangkan reaksi immunologi yang menjauhi asma. Penelitian terus berlanjut pada area hipotesis higiene. Sebuah penelitian ambisius, jauh ke depan, dan berkelanjutan dalam hal ini adalah penelitian GABRIEL diluncurkan pada tahun 2006, yang berusaha untuk mengidentifikasi penyebab genteik dan lingkungan terhadap asma pada masyarakat Eropa. GABRIEL terdiri dari kolaborasi diantara 35 partner pada institusi penelitian saintifik utama di masyarakat Eropa, baru-baru ini telah bertambah partner dari Ekuador, Rusia, dan Hongkong. Penelitian ini menyelidiki tentang genetik, epidemiologi, dan asma pada anak-anak dan dewasa di beberapa negara. Hal ini juga secara khusus akan membahas hipotesis higiene.

Apakah ada usia tertentu di mana sistem imun anak yang belum matur perlu distimulasi dengan suatu cara tertentu, oleh agen-agen lingkungan tertentu, agar asma tidak berkembang? Jika demikian halnya, intervensi dan pengobatan spesifik mungkin dapat dikembangkan untuk mengurangi risiko anak terhadap asma. Hipotesis higiene tetap kontroversial dan merupakan suatu teori menarik yang jauh dari definitif saat ini. Praktisi asma membutuhkan bukti ilmiah untuk memvalidasi teori, sehingga tidak ada rekomendasi klinis dapat dimajukan sekarang, berdasarkan apa yang tetap menjadi dugaan yang sangat menarik.

Mencegah Asma | Pandangan Kontemporer Asma

This entry was posted in Asma. Bookmark the permalink.