Impotensi – Akhir dari Segalanya

Dunia Serasa Runtuh karena Impotensi

“Impotensi!”
Kalau mendengar satu kata itu saja maka bagi lelaki dunia pasti serasa kiamat! Mereka pasti akan melakukan segala cara untuk dapat menyembuhkan penyakitnya. Impotensi memang penyakit yang tidak langsung mematikan seperti serangan janutng tetapi dampak psikologis yang ditimbulkan bisa lebih mengerikan daripada serangan jantung.

Di tengah kemajuan teknologi dan pesatnya perubahan zaman, sering kali membuat banyak orang saling berlomba untuk menjadi yang terbaik. Dalam rangka proses menjadi yang terbaik itulah, mereka sangat disibukkan oleh berbagai urusan pekerjaan dan target demi meraih prestasi. Akibatnya, mereka menjadi lalai dalam urusan kesehatan dan istirahat maupun berwisata. Pada akhirnya, mereka tidak memiliki kesehatan yang prima, terpuruk, lemah, sakit-sakitan, dan tidak berdaya.

Bagi mereka yang belum berkeluarga, mungkin hal tersebut tidak terlalu berdampak luas. Hanya dirinya sendirilah yang menanggung resiko tersebut. Namun bagi mereka yang sudah berkeluarga, tentu hal ini sangat mengganggu hubungannya dengan pihak lain. Baik hubungan terhadap pasangannya maupun dengan anak-anaknya. Ketidakstabilan vitalitas tubuh ini juga berpengaruh pada mobilitas dan kegairahan seksual terutama bagi kaum lelaki.

Demikian dahsyatnya pengaruh dari ketidakstabilan kesehatan tersebut hingga mempengaruhi segala gerak langkah dan aktivitas lelaki. Termasuk hal yang paling hakiki dalam kehidupan rumah tangga, yaitu aktivitas seks. Tidak mengherankan kalau masalah gangguan seksual, terutama impotensi telah menjadi momok yang paling menakutkan bagi lelaki.

Kebanyakan dari pengalaman kasus yang pernah terjadi, para lelaki yang menderita impotensi, biasanya mendadak menjadi orang yang “berbeda”. Mereka menjadi pendiam, rendah diri, dan seakan menjadi orang yang tidak berguna. Perasaan tersebut justru akan membuatnya menarik diri dan pengobatan sehingga memperparah keadaannya.

Padahal, impotensi dapat disembuhkan secara medis seperti halnya penyakit lainnya. Mitos yang salah kaprah yang beredar di masyarakat yang menerangkan bawa impotensi adalah “cacat bawaan” yang tidak bisa disembuhkan, telah semakin membuat penyakit ini seperti “kutukan” yang tidak bisa diatasi selain harus dijalani seumur hidup.

Impotensi secara sederhana dapat dijelaskan sebagai kondisi lelaki yang mengalami kesulitan ereksi atau kesulitan mempertahankan ereksinya dalam waktu yang cukup lama pada saat bercinta. Sebenarnya, secara medis penyakit impotensi tidak ada bedanya dengan penyakit-penyakit lainnya. Penyakit ini memiliki sebab-sebab tertentu dan dapat diobati sesuai dengan keadaan dan kondisinya masing-masing.

Akibat dari mitos-mitos yang beredar di masyarakat tersebut, setiap lelaki seringkali berpikir negatif tentang impotensi kalau masalah ini diungkap ke permukaan. Mereka lebih cenderung menutup diri, tidak mau menceritakan masalah tersebut kepada pasangannya, dan tidak mau berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang benar.

Mereka malah sering kali melakukan pengobatan secara sembunyi-sembunyi ke berbagai perawatan alternatif atau sekedar menurut kata orang-orang yang belum jelas pertanggung jawaban medisnya. Alih-alih mendapatkan kesembuhan tetapi kalau tidak benar justru akan memperparah impotensinya atau menyebabkan impotensi secara permanen. Makanya, daripada mendapatkan penanganan yang tidak semestinya, lebih baik terbuka dan datanglah ke dokter atau ahlinya. Dengan demikian, setiap tindakan ataupun pemberian obat dapat dipertanggungjawabkan.

Dari kebanyakan kasus impotensi, sebagian besar penyakit ini disebabkan oleh berbagai penyakit yang menahun atau penyakit kronis. Terutama penyakit yang mempengaruhi aliran darah yang menuju ke organ vital lelaki, seperti penyakit kencing manis yang tidak mendapatkan penanganan serius, penyakit jantung, dan penyakit kolesterol tinggi karena terlalu sering mengkonsumsi makanan padat lemak.

Faktor psikologis juga sangat berpengaruh terhadap penyakit impotensi. Orang yang menderita stres maupun depresi secara terus-menerus juga dapat mengalami impotensi.

Beberapa kebiasaan buruk seperti merokok dengan kandungan nikotin yang tinggi juga dapat memicu terjadinya impotensi. Demikian juga dengan minuman beralkohol dan makanan-makanan yang mengandung banyak lemak. Obesitas (kegemukan) juga dapat memicu terjadinya impotensi. Semua itu akan mempengaruhi proses metabolisme tubuh yang sedikit banyak akan menjadi faktor pemicu terjadinya impotensi. Hidup sehat dengan pola makan sehat akan sangat membantu kita terbebas dari berbagai macam penyakit.

Penyakit impotensi ini biasanya merupakan akibat dari :
1. adanya kelainan pada pembuluh darah
2. kelainan pada saraf
3. konsumsi obat-obatan
4. kelainan pada penis
5. masalah psikis yang mempengaruhi gairah hubungan seksual (libido)

Penyebab yang bersifat fisik lebih banyak ditemukan pada lelaki yang telah lanjut usia, sedangkan masalah psikis lebih sering terjadi pada lelaki yang lebih muda.

Semakin bertambah umur seorang lelaki maka impotensi akan semakin sering terjadi. Jangan salah mengerti, impotensi bukan merupakan bagian dari proses penuaan. Ini lebih diakibatkan karena adanya penyakit-penyakit yang sering ditemukan pada usia lanjut. Sekitar 50% lelaki berusia 65 tahun dan 75% lelaki berusia 80 tahun mengalami impotensi.

Pada kondisi normal, penis memerlukan aliran darah yang cukup agar dapat ereksi. Dengan demikian, penyakit-penyakit yang berkaitan dengan pembuluh darah, seperti atheroscleroses (timbunan lemak di pembuluh darah arteri) dapat menyebabkan impotensi. Selain itu, impotensi juga dapat terjadi karena adanya bekuan darah atau akibat penyempitan pembuluh darah yang menyebabkan terganggunya aliran darah arteri ke penis.

Kerusakan saraf yang menuju dan meninggalkan penis juga bisa menyebabkan impotensi. Kerusakan saraf ini bisa terjadi akibat diabetes mellitus (kencing manis); sclerosis multiple yaitu kelainan pada saraf-saraf pada mata, otak, dan tulang belakang kehilangan selubung sarafnya (mielin). Istilah sklerosis multiple berasal dari banyaknya daerah jaringan parut (sklerosis) yang mewakili berbagai bercak demielinasi dalam sistem saraf.

Pertanda neurologis yang mungkin dan gejala dari sklerosis multiple sangat beragam sehingga penyakit ini tidak dapat didiagnosis ketika gejala pertamanya muncul. Lama-lama penyakit ini akan semakin memburuk secara perlahan. Penderita biasanya mengalami periode bebas gejala (remisi) yang bahkan bisa berlanjut dengan memberatnya penyakit (exacerbation); sumbatan atau gumpalan di aliran darah menuju dan di otak (stroke); obat-obatan; alkohol; penyakit tulang belakang bagian bawah; juga akibat komplikasi dari operasi prostat.

Pengaruh konsumsi obat-obatan secara terus-menerus menyumbang 25% terjadinya impotensi pada lelaki. Oleh karena itu, penggunaan obat-obatan dalam jangka panjang harus dilakukan dengan pengawasan dokter. Ini biasanya berkaitan dengan penyakit-penyakit berat yang tentu saja tidak bisa disembuhkan secara cepat, seperti Cimetidine (antagonis reseptor H2 histamin yang menghambat produksi asam lambung), Lithium mood stabilizer [(obat penstabil mood) terutama untuk mengobati gangguan bipolar (depresi dan mania) dan mengurangi resiko bunuh diri pada beberapa penderita bipolar], oabt antihipertensi (penurun tekanan darah), antidepresi, dan berbagai penenang.

Impotensi juga dapat terjadi akibat rendahnya kadar hormon testosteron. Namun penurunan ini kecenderungannya sebagai akibat proses penuaan dan bukan menyebabkan impotensi, melainkan menurunkan gairah seksual atau libido.

Faktor-faktor psikologis yang menyebabkan impotensi antara lain depresi, ansietas (cemas), perasaan bersalah, phobia (rasa takut yang mengganggu), tidak masuk akal, dan berlebihan) terhadap aktivitas seksual (misalnya saat berhubungan intim), rasa bimbang atau gelisah yang terus menerus, stres yang berlebihan di tempat kerja, tuntutan prestasi yang berlebihan, trauma, dan lain-lain.

Gejala umum terjadinya impotensi adalah penderita tidak mampu memulai dan tidak bisa mempertahankan ereksi (keadaan menegangnya penis). Untuk menegakkan diagnosis, selain berdasarkan tanda dan gejala yang dialami penderita maka dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang untuk memberikan solusi yang paling sesuai.

Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mencari adanya perubahan ciri seksual lelaki, misalnya pada bentuk susu, testis, ukuran penis, perubahan pada rambut, suara, maupun kulit. Sedangkan untuk mengetahui adanya kelainan pada arteri di panggul dan selangkangan (yang memasok darah ke penis), dilakukan pengukuran tekanan darah di tungkai.

Pemeriksaaan penunjang yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan gula darah untuk diabetes mellitus (kencing manis), pemeriksaan kadar TSH (Thyroid Stimulating Hormone, hormon yang merangsang kelenjar tiroid), dan USG (Ultrasonografi) pada penis.

Pengobatan terhadap impotensi sangat bermacam-macam tergantung pada kondisi dan penyebabnya masing-masing. Selain itu, biasanya juga dilakukan terapi khusus untuk memulihkan kondisi bila impotensi disebabkan oleh masalah psikis (kejiwaan).

Nutrisi yang dibutuhkan untuk pengobatan impotensi terdiri dari calcium (kalsium), zinc (zat besi), beneficial (manfaat), dan vitality (kekuatan).

Jadi, sangatlah tidak benar anggapan atau persepsi masyarakat bahwa impotensi berarti “mati”. Tentunya sangatlah kurang bijaksana pula bila berpendapat bahwa impotensi berarti kiamat.

Meskipun hingga saat ini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan impotensi secara permanen tetapi dengan berbagai penanganan dan terapi yang menyeluruh dan berkesinambungan maka penderita impotensi sangatlah besar kemungkinan untuk kembali normal di dalam beraktivitas seksual.

Seluk Beluk Impotensi | Penyebab Impotensi

This entry was posted in Impotensi. Bookmark the permalink.