Komplikasi Polisitemia Vera

Kelebihan sel darah merah bisa menyebabkan ulkus gastrikum, batu ginjal. Sedangkan bekuan darah dalam vena dan arteri dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke, juga pulmonary embolism. Selain itu juga bisa menyumbat aliran darah ke lengan dan tulang kaki. Komplikasi lainnya, PV bisa berkembang menjadi leukimia, hemorrhage (perdarahan berlebihan), dan masalah-masalah penggumpalan.

Perputaran yang tinggi dari sel-sel darah merah pada PV dan pengeluaran dari produk-produk sampingan dari degradasi sel darah merah, bisa terlalu membebani ginjal sehingga berakibat disfungsi ginjal, batu ginjal, dan gout.

Dalam keadaan lebih lanjut, komplikasi yang terjadi pada kasus PV adalah postplycythemic myelofibrosis, fibrosis tulang belakang, leukimia, dan penykit akibat trombosit.

Postplycythemic myelofibrosis ditandai dengan anemia dan sitopenia sel darah yang lain, perubahan morfologi eritrosit (poikolositosis, tear-drop), perubahan leukoeritroblastik pada darah tepi, limpa yang terus membesar, dan fibrosis tulang belakang. Kelainan ini ditemukan pada 10-20% pasien PV.

Proses fibrosis pada tulang belakang berlangsung lambat. Mekanismenya masih belum diketahui, kemungkinan disebabkan perilaku abnormal mega kariosit, yang mensintesis dan melepaskan sitokin fibrogenik seperti platelet-derived growth factor, basic fibroblast growth factor, dan transforminggrowth factor-b (TGF-b) secara autokrin.

Laporan dari European collaboration on low-dose aspirin in policythemia vera, menyatakan bahwa rata-rata 8,4 tahun sejak pasien  didiagnosis PV akan mengalami acute myeloid leukimia/mielodysplastic syndrome (AML/MDS). Juga dilaporkan bahwa obat-obatan yang digunakan sebagai terpai PV dapat memicu terjadinya AML/MDS.

Banyaknya jumlah sel darah merah rentan memicu terjadinya trombosis. Resiko trombosis akan meningkat seiring bertambahnya usia, riwayat trombosis, hiperkolesterolemia, dan kebiasaan merokok. Resiko trombosis juga berhubungan dengan hiperhomosisteinemia dibanding dengan 35% kelompok kontrol.

Untuk diketahui, bahwa trombosis dapat terjadi pada semua pembuluh darah, baik arteri, vena, maupun kapiler. Trombosis pada vena yang sering terjadi adalah trombosis vena dalam,  pada ekstremitas bawah dan emboli paru. Pada pasien PV usia muda dapat terjadi trombosis vena intra-abdominal dan vena portal. Sedangkan pada arteri, trombosis dapat terjadi pada pembuluh darah, otak, koroner, dan ekstermitas iskemi jari, lalu gan gren jari-tungkai. Gejala neurologik sementara dan gangguan visual dapat terjadi kalau ada oklusi mikrovaskuler. Abortus spontan berulang dan retardasi pertumbuhan janin juga bisa terjadi pada wanita hamil yang disebabkan infark jantung multiple dan insufisiensi pada plasenta.

Komplikasi polisitemia sekunder

Ada, yaitu yang khas adalah  berhubungan dengan penyakit yang mendasarinya. Contohnya, hipoksia kronis dari penyakit paru yang parah, timbul masalah gagal jantung sis kanan dan pulmonary hypertension. Gagal jantung yang kronis dapat menjurus ke pembengkakan atau edama (anasarca), hipertensi, disfungsi ginjal. Demikian pula pada neonatal polycythemia, kekentalan darah atau viskositas yang meningkat dapat mempengaruhi organ-organ disebabkan aliran darah yang buruk. Akibatnya terjadi gagal ginjal, masalah-masalah pencernaan, tekanan darah yang meningkat di paru, dan kemungkinan terjadi hipoksia.

Gejala Polisitemia | Diagnosis dan Pemeriksaan Polisitemia Vera

This entry was posted in Sindrom Darah Kental. Bookmark the permalink.