Mencegah Asma

Perkembangan asma diduga timbul dari interaksi kompleks dan buruknya pemahaman tentang asma yang melibatkan karakteristik genetik bawaan dan unsur lingkungan di mana ia tinggal sejak lahir. Masing-masing kita dikaruniai dengan kumpulan gen spesifik, diturunkan dari orang tua kita, dan jelas tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubah susunan genetik ini. Dengan demikian kita mungkin bisa mengubah fokus secara logis terhadap apa yang merupakan unsur-unsur lingkungan dimana kita hidup untuk melihat apakah ada langkah-langkah preventif yang bermanfaat. Suatu bukti ilmiah yang muncul mengatakan bahwa infeksi virus pernapasan strain umum tertentu pada awal kehidupan anak dapat memberi kecenderungan seorang anak untuk mengembangkan asma. Meskipun menarik dan panduan untuk penelitian tambahan tentang virus yang sama serta hubungannya dengan asma, namun observasi ini tidak memberi implikasi praktis dalam “kehidupan nyata”. Bagaimanakah sesungguhnya untuk menghindari virus pernapasan biasa? Tidak ada jalan yang mungkin bagi kita untuk menghindarinya!

Apakah lingkungan di luar kita lebih dapat kita “kontrol”? Kita dapat, tentu saja, memodifikasi pajanan tertentu di lingkungan indoor kita dan khususnya di rumah kita. Pada tahun 2000, Institut Kedokteran mempublikasikan sebuah laporan yang disebut Membersihkan Udara: Asma dan Udara Indoor. Laporan ini meninjau kembali bukti ilmiah yang tersedia tentang pajanan udara indoor dan asma. Salah satu aspek dari laporan ini memperlihatkan bahwa pajanan tersebut merupakan faktor risiko untuk perkembangan asma. Kesimpulannya, terdapat cukup bukti ilmiah untuk mendukung hubungan kausal antara pengembangan asma dan pajanan tungau debu rumah sebagaimana kuatnya kaitan antara pajanan asap rokok (disebut ETS, artinya asap rokok di lingkungan sekitar) dan asma pada anak yang lebih kecil. Pajanan ETS termasuk pajanan masa prenatal. Pajanan kecoak dan virus pernapasan sinsitial (RSV) kurang nyata dapat menimbulkan risiko terjadinya asma, tetapi keduanya meningkatkan risiko. Tidak semua orang dengan peningkatan risiko asma akan pasti mengembangkan kondisi ini, tetapi bijaksana dan masuk akal untuk menurunkan atau melenyapkan pajanan yang diketahui berperan sebagai faktor risiko sebanyak mungkin. Fokus pada pengurangan pajanan tungau debu rumah, asap rokok (ETS, dan kecoak. Secara khusus menegaskan bahwa sangat penting bagi perempuan mana saja yang merokok selama kehamilan dan setelah itu. Pendekatan anti rokok yang giat seharusnya berlanjut setelah bayi lahir dan diperluas ke anggota keluarga yang merokok untuk memastikan rumah menjadi 100% bebas rokok. Demikian juga, para dokter anak dan ahli alergi sering menyarankan dalam upaya untuk mengubah munculnya alergi dan asma pada anak-anak yang dianggap berisiko tinggi untuk perkembangan penyakit ini, berdasarkan riwayat keluarga baik alergi atau asma pada orang tua atau saudara kandung yang lebih tua. Mereka dapat, misalnya, menasehati orang tua baru penderita asma untuk mengikuti panduan khusus dalam merawat bayi mereka yang baru lahir. Rekomendasi biasanya menyangkut diet bayi dan lingkungan. Contoh, diet eksklusif air susu ibu paling kurang 4 – 6 bulan pertama setelah lahir tampak memperlambat (tidak menghindari) perkembangan alergi dan asma. Sama halnya, pemberian makanan pada lebih awal pada bayi diyakini meningkatkan risiko asma. Makanan yang diyakini sebagai penyebab alergi tidak seharusnya menjadi bagian diet anak-anak, karena adanya hubungan alergi dan asma pada anak-anak. Makanan bertanggung jawab terhadap kebanyakan alergi makanan pada anak-anak termasuk susu sapi, telur, kacang tanah (kacang tanah adalah legum, bukan benar-benar kacang), pohon kacang (seperti, buah kenari, mete, dan hazelnut), ikan, kerang-kerangan, kedele, dan gandum. Sebagai tambahan untuk diet, para dokter menekankan pentingnya melarang merokok di rumah. Beberapa dokter spesialis anak mungkin menyarakan kamar tidur yang bebas dari bahan yang dapat mengumpulkan debu, seperti horden, boneka hewan berdebu, dan karpet di semua ruangan, dan dokter mungkin merekomendasikan untuk mengalas kasur dengan alas khusus, untuk mengurangi pajanan debu tungau.

Dokter Homer A. Boushey adalah otoritas terkenal di dunia pada bidang asma dan seorang professor di bidang obat-obatan pada Universitas California, San Fransisco. Baru-baru ini dalam sebuah artikel pada jurnal medis, Memajukan Masyarakat Torak Amerika, dr. Boushey merangkum perkembangan asma terbaru seperti yang disampaikan pada Konferensi Petty Thomas L. Aspen Lung 2008 yang didedikasikan untuk pemahaman lebih dalam dam harapan terhadap asma. Ia terus terang menunjukkan kekecewaannya terhadap kurangnya yang efektif dan dapat diakses untuk pencegahan asma dan menguraikan :

Jelas bahwa masyarakat awam akhirnya mengharapkan perkembangan pengobatan untuk penderita asma dan cara efektif pencegahan primer untuk mereka yang belum mendapatkannya. Mereka memahami bahwa memenuhi harapan ini akan membutuhkan pemahaman yang baik terhadap penyebab dan mekanisme asma, sehingga mereka menghargai kebutuhan untuk melakukan penelitian tetapi mereka tidak menginginkan kami terlalu lama melakukannya … Untuk pencegahan, ilmu kedokteran terlihat hampir tidak ada petunjuk. Kita mengetahui untuk menasehati orang menghindari pajanan asap rokok terhadap anak-anak, menyusui bayi selama 6 bulan tapi mungkin tidak lama … Tetapi kita tampaknya tidak mengetahui apakah menasehati membeli dua anjing atau dua kucing, menghindari kacang tanah atau makan kacang tanah lebih awal, mengirim anak-anak yang lebih kecil ke penitipan anak untuk memastikan mereka berkontak dengan infeksi pernapasan multipel virus atau untuk mengobati mereka dengan immunoglobin untuk RSV bronkiolitis.

Intinya adalah bahwa meskipun para ahli menyarankan untuk mengurangi pajanan terhadap lingkungan yang telah menunjukkan adanya risiko terhadap asma, tidak diketahui adanya intervensi pada saat ini yang benar-benar mencegah perkembangan asma.

Penting untuk dicatat bahwa seorang anak dapat mengembangkan alergi atau asma (atau keduanya) meskipun kedua orang tuanya telah mengikuti semua nasehat dokter dengan cermat. Baik anak maupun orangtua dengan cara apapun “bertanggung jawab” untuk pengembangan asma. Jika Anda atau anak Anda telah didiagnosis menderita asma, tidak ada gunanya beralih ke pemikiran harus memiliki, bisa memiliki, akan memiliki, terutama mengingat kenyataan bahwa tidak ada bukti intervensi atau perilaku yang diyakini sepenuhnya dapat mencegah alergi atau asma. Sebaliknya, berbuatlah untuk diri sendiri agar berhasil mengelola asma dan gejalanya.

Begitu seseorang pada usia berapa pun didiagnosis menderita asma, pengobatan awal berkonsentrasi untuk mencapai pengendalian episode asmatik dan memulihkan fungsi normal paru. Setelah tujuan pengobatan awal tercapai, fokus utama pengobatan kontemporer setelah itu, menekankan pencegahan gejala seperti, sesak napas, rasa tak enak di dada, batuk, produksi mukus, dan mengi. Satu kelas dari obat asma, disebut sebagai “pengendali” atau obat-obatan “pemeliharaan”, didesain secara khusus dan diresepkan untuk mempertahankan fungsi normal paru dan mencegah eksaserbasi asma yang biasa disebut serangan asma. Identifikasi pemicu asma pada individu dan menghindari pajanan terhadap pemicu, sebagai tambahan untuk menggunakan pengendali atau obat-obatan pemeliharaan, atau cara sukses untuk mencegah eksaserbasi asma.

Hubungan antara Alergi dan Asma | Hipotesis Higiene

This entry was posted in Asma. Bookmark the permalink.