Mengendalikan Tekanan Darah Pascastroke

Pasien yang terkena stroke memiliki resiko tinggi mengalami serangan stroke ulang. Serangan stroke ulang berkisar antara 30% – 43% dalam kurun waktu 5 tahun. Setelah serangan otak sepintas, 20% pasien mengalami stroke dalam waktu 90 hari, dan 50% diantaranya mengalami serangan stroke ulang dalam waktu 24 – 72 jam. Tekanan darah yang tinggi (tekanan darah sistolik > 140 mmHg dan tekanan darah diastolik >= 90 mmHg) akan meningkatkan resiko terjadinya stroke ulang.

Hipertensi merupakan masalah yang umum dijumpai pada pasien stroke dan menetap setelah serangan stroke. Penelitian Lamassa dkk pada 4462 pasien stroke memperlihatkan bahwa hipertensi dijumpai pada 48.6% kasus. Angka kematian akibat stroke berkisar antara 20% sampai dengan 30%. Hal ini berarti ada potensi subjek sebesar 70% – 80% untuk tindakan prevensi sekunder. Pengendalian tekanan darah harus dilakukan untuk pencegahan stroke sekunder. Tekanan darah target adalah di bawah 140 mmHg untuk tekanan darah diastolik (Rekomendasi A).

Permasalahan yang muncul adalah “Bagaimana situasi pengendalian hipertensi pascastroke pada para stroke survivor?”. Model analisis situasi terhadap para stroke survivor akan dilakukan dengan fokus pada permasalahan pengendalian tekanan darah untuk mencegah serangan stroke ulang.

Model epidemiologi klinik perjalanan penyakit stroke. Hipertensi merupakan faktor resiko stroke. Hipertensi merupakan faktor resiko stroke. Hipertensi menyebabkan perubahan pembuluh darah yang sifatnya sub-klinis, sampai kemudian muncul komplikasi stroke. Pasien akan menjalani perawatan dengan kemungkinan 2 macam outcome klinik. Pasien yang sembuh atau sembuh dengan cacat merupakan target intervensi pengendalian tekanan darah untuk mencegah stroke ulang.

Data hasil penelitian epidemiologi memperlihatkan bahwa hipertensi dijumpai pada 50% – 70% pasien stroke, angka fatalitas berkisar antara 20% – 30% di banyak negara. Kematian akan jauh meningkat (peningkatan sebesar 47%) pada serangan stroke ulang (WHO fact sheet,2005).

Hasil observasi menunjukkan ketidakpatuhan dan kurang terkendalinya hipertensi masih cukup tinggi. Bukti ilmiah secara konsisten menunjukkan bahwa hipertensi yang tidak terkendali merupakan faktor resiko stroke ulang. Penelitian epidemiologi memperlihatkan bahwa hanya 70% populasi hipertensi di Amerika Serikat yang mengetahui kondisi sakitnya, 60% mendapat terapi, dan 34% terkendali hipertensinya (TD < 140/90 mmHg).

Bukti penelitian klinik memperlihatkan bahwa beberapa obat anti hipertensi didukung oleh bukti penelitian klinik yang bersifat luas dengan jumlah sampel yang besar. Obat-obat tersebut adalah perindopril, losartan, dan ramipril. Pertimbangan biaya terapi tentu merupakan hal yang harus dipertimbangkan untuk meningkatkan ketaatan pasien berobat.

Kajian diatas memperlihatkan besarnya masalah hipertensi pascastroke. Beberapa hal yang dapat disimpulkan :
1. hipertensi merupakan faktor resiko stroke yang utama dan akan menetap pasca serangan stroke
2. kemajuan teknologi kedokteran akan meningkatkan jumlah stroke survivor, yang akan meningkatkan pula jumlah pasien stroke dengan hipertensi
3. bukti ilmiah secara konsisten menunjukkan manfaat pengendalian tekanan darah untuk mencegah serangan stroke ulang
4. beberapa uji klinik baru memperlihatkan hasil yang menjanjikan untuk prevensi stroke ulang
5. harga obat yang didukung uji klinik skala besar masih relatif mahal
6. perlu diskusi yang mendalam dengan pasien untuk pengendalian tekanan darah dan pencegahan serangan stroke ulang.

Pada beberapa uji klinis, pemberian obat anti hipertensi dihubungkan dengan penurunan resiko stroke sebesar 35 – 40%. Penurunan tekanan darah sistolik sebesar 12 mmHg selama 10 tahun akan mencegah 1 kematian dari 11 pasien yang mendapat terapi obat antihipertensi.

Pengendalian tekanan darah pascaserangan stroke merupakan hal yang penting untuk mencegah serangan stroke ulang. Bukti uji klinis menunjukkan pengendalian tekanan darah yang adekuat akan menurunkan resiko serangan ulang dan komplikasi lain. Pertimbangan keefektifan, keamanan, dan keterjangkauan obat harus didiskusikan secara seksama dengan pasien.

A. Penanganan Hipertensi pada Stroke

Adanya prevalensi yang tinggi hipertensi di masyarakat dan akibat yang ditimbulkannya merupakan masalah kesehatan yang cukup penting, terlebih hipertensi sering tidak menimbulkan gejala dan baru disadari setelah terjadi gangguan organ seperti ginjal, otak, dan jantung sehingga sering hipertensi ditemukan tanpa sengaja, yakni pada waktu check up atau setelah muncul keluhan lain. Hipertensi merupakan salah satu penyakit utama di dunia, mengenai hampir 50 juta orang di Amerika dan hampir 1 miliar di dunia, dan hampir 90% diderita oleh orang diatas 55 tahun.

Pada penelitian Framingham didapatkan hubungan yang linier dan positif antara hipertensi dan terjadinya stroke, baik pada perempuan maupun laki-laki, baik stroke perdarahan maupun non perdarahan (Didier 2002). Walaupun tidak ada batas yang jelas siapa yang akan terkena atau siapa yang tidak, jumlah stroke meningkat 2 kali lipat pada setiap kenaikan tensi 7.5 mmHg diastole.

Pada penelitian Dr. Broderick (ISC 2003) pada bagian neurology Universitas Cincinnati, Ohio mendapatkan bahwa odds ratio pada pasien yang mendapat pengobatan adalah 0.71 dibanding dengan 5.5 pada pasien yang tak mendapat pengobatan. Sedang pada penduduk Amerika Afrika yang mendapat serangan stroke iskemik pertama odds ratio adalah 0.57 jika diobati dan 4.0 jika tanpa diobati. Pada kulit putih 0.77 pada yang diobati dan 6.3 pada yang tidak diobati.

B. Penanggulangan Hipertensi pada Stroke

Pada stroke iskemik akut (AHA/ASA Guideline,2007) kenaikan tekanan darah > 160 mmHg ditemukan lebih dari 60% pasien stroke akut. Tekanan darah yang naik atau turun memberikan outcome stroke yang jelek. Setiap kenaikan 10 mmHg diatas 180 mmHg memberikan resiko kelainan neurologi sebesar 40% dan outcome yang buruk meningkat 23%. Kenaikan tekanan darah dapat pula disebabkan oleh stress dari stroke sendiri, kandung kemih yang penuh, nyeri, mual, reaksi terhadap hipoksia, atau reaksi terhadap kenaikan tekanan intrakranial.

Alasan utama menurunkan tekanan darah pada pasien stroke :
1. Mengurangi terjadinya udem otak.
2. Mencegah terjadinya transformasi perdarahan pada daerah infark.
3. Mencegah gangguan vaskuler lain dan mencegah terjadinya stroke ulang.

Penurunan tekanan darah juga harus segera dilaksanakan jika terjadi hipertensi ensefalopati, disseksi aorta, gagal ginjal akut, udem paru atau infark miokard akut. Namun penurunan tekanan darah yang agresif memperburuk tekanan perfusi serebral dan memperburuk daerah iskemi. Pada banyak pasien tekanan darah akan turun dengan sendirinya setelah pasien berbaring di kamar yang tenang, kandung kemih telah dikosongkan dan nyeri telah diatasi, juga penurunan tekanan intrakranial akan menurunkan tekanan darah.

Konsensus terakhir memutuskan tekanan darah pada stroke iskemik akut hanya diturunkan jika tekanan darah sistole > 220 mmHg dan diastole > 120 mmHg. Setelah dipastikan bahwa tindakan emergensi penurunan darah harus dilaksanakan maka penurunan harus dilaksanakan secara perlahan-lahan dan hati-hati, dan diturunkan di antara 15% – 25% pada hari pertama. Pemilihan obat penurun tekanan darah harus disesuaikan dengan kondisi pasien, misalkan pada penderita sama tak diberikan gol. Beta blocker, juga nifedipin sublingual tak diberikan pada pasien stroke ischaemi akut karena efeknya yang panjang. Sedangkan rtPA tidak boleh diberikan jika tekanan darah sistole > 180 mmHg dan diastole > 110 mmHg. Pada pasien-pasien yang sebelumnya minum obat antihipertensi, umumnya didapatkan tensi yang tinggi juga pada waktu mendapat serangan stroke, maka umumnya obat penurun tekanan darah diberikan 1 hari setelah serangan stroke (Schrader et al, 2003). Pengobatan ini juga tergantung pada status neurology pasien dan penyakit-penyakit lain yang berperanan dalam terjadinya stroke, kemampuannya menelan, dan lain-lain.

Komplikasi Lanjut pada Stroke | Pencegahan dan Penanggulangan Stroke

This entry was posted in Stroke. Bookmark the permalink.