Pandangan Kontemporer Asma

Pada masa lalu asma dianggap secara prinsip sebagai penyakit penyempitan saluran napas dengan istilah bronkokontriksi. Pada pandangan tradisional, saluran bronkial dikelilingi oleh otot serat khusus yang menyempit (mengerut), yang menyebabkan berkembangnya “serangan asma”. Penjelasan tradisional yang keliru menekankan bahwa penyempitan saluran bronkial adalah peristiwa utama, yang mendasari asma. Fokus pengobatan asma hanya berpusat pada memulihkan penyempitan saluran pernapasan. Oleh karena itu, pengobatan asma sebagian besar terdiri dari pemulihan penyempitan saluran napas ketika pertama kali gejala batuk, rasa sesak di dada, sesak napas, dan mengi ditetapkan dan dikenali. Penekanan diletakkan pada pengobatan gejala serangan, bukan pada tindakan pencegahan. Perspektif modern tentang asma mengakui pentingnya bronkokontriksi, tetapi menetapkannya sebagai peranan sekunder. “Pemain” atau “pelaku kejahatan” utama pada asma adalah inflamasi. Pada model modern asma, periode penyakit aktif atau eksaserbasi muncul dari periode tenang remisi. Selama eksaserbasi asma terjadi peningkatan aktivitas inflamasi pada paru asmatik. Inflamasi, jika tidak dicegah, akan menyebabkan stimulasi kelenjar mukus dengan sekresi berlebihan dan batuk, pada akhirnya terjadi bronkokontriksi atau penyempitan saluran napas. Peningkatan mukus menyebabkan batuk. Bronkokontriksi bertanggung jawab terhadap sesak napas, mengi, dan rasa sesak di dada.

Periode Tenang Remisi :

* Inflamasi tidak ada, tenang
* Saluran napas (bronki) bersih dari mukus
* Saluran napas “terbuka” penuh (paten)
* Asma terkendali

Periode Aktif, Simptomatis, dan Eksaserbasi Asma :

* Inflamasi meningkat
* Produksi kelenjar mukus meningkat menyebabkan batuk, sekresi, napas bising
* Saluran napas mengerut dan menyempit menyebabkan bronkokontriksi, mengi, rasa tak nyaman di dada, sesak napas
* Asma tidak terkendali

Gambaran utama asma yaitu predisposisi terhadap peningkatan inflmasi paru. Penderita asma mengembangkan respon inflmasi yang lebih besar di paru mereka, sebuah temuan yang sejalan dengan diagnosis asma. Mereka dikatakan, memiliki standar hiperaktivitas paru bawaan, yang kadang-kadang disebut sebagai “sentakan saluran napas”, suatu istilah yang sangat tidak tepat; saluran napas tidak menyentak. Istilah yang dipakai secara bebas saat percakapan antara dokter dan pasien dalam usaha menjelaskan fenomena langka dari hiperreaktivitas bronkial. Tes paru khusus yang disebut tes tantangan metakolin (bronkoprovokasi), mungkin berguna bagi para praktisi kesehatan ketika mengevaluasi individu yang dicurigai menderita asma dan hiperreaktivitas paru. Kecenderungan peningkatan hiperreaktivitas kemungkinan karena faktor herediter. Peningkatan hiperreaktivitas menjelaskan mengapa, misalnya, paru penderita asma lebih sensitif terhadap inhalasi dari rangsangan lingkungan yang berbeda seperti udara dingin, bau yang menyengat, atau asap rokok. Adanya hiperreaktivitas bronkial merupakan daya tarik yang besar untuk para peneliti asma. Hal tersebut menggoda untuk berspekulasi mengenai pengobatan yang dapat mengurangi hiperreaktivitas bronkial seseorang sehingga mengurangi keparahan asmanya.

Pandangan kontemporer Inflamasi pada Asma

Pandangan modern asma menekankan semua peranan penting inflamasi.

Pengobatan asma kontemporer mencakup :
* Menghindari faktor yang meningkatkan inflamasi paru.
* Menggunakan obat-obatan yang mengandung anti inflamasi.

Perspektif tradisional dengan keliru menetapkan bahwa penyempitan saluran napas yang disebut bronkokontriksi mempunyai peranan primer.

Bronkokontriksi adalah konsekuensi dari rangsangan yang sangat kuat yang mendasari inflamasi jalan napas.

Ketika terdapat inflmasi jalan napas, mengobati bronkokontriksi pada asma tanpa mengobati respon inflamasi yang menyertainya merupakan pengobatan tidak adekuat.

Pemahaman tentang asma saat ini sebagai penyakit inflamasi utama, dengan penyempitan saluran pernapasan sekunder dan kontriksi sebagai suatu konsekuensi peningkatan respon inflamasi, mempunyai implikasi riset dan praktis. Hal ini memungkinkan untuk dilakukan intervensi preventif dan lebih banyak pengobatan langsung. Mengendalikan dan membatasi inflamasi saluran pernapasan akan mengendalikan gejala asma dan memungkinkan fungsi paru normal, prognosis yang bagus, dan gaya hidup yang sehat. Pengobatan eksaserbasi yang cepat selalu melibatkan pengobatan anti inflamasi sebagai tambahan untuk pengobatan khusus langsung untuk memulihkan bronkokontriksi. Pengakuan tentang pentingnya inflamasi pada asma telah menghasilkan pemahaman yang lebih baik terhadap asma, dan perkembangan pengobatan yang lebih efektif.

Terjadinya eksaserbasi asma dapat diduga dan pasti diikuti oleh pajanan tertentu, seperti serangan temperatur dingin pada musim dingin. Beberapa individu yang “mendapat serangan” setiap musim gugur pada perubahan musim dan harus melepaskan rutinitas sehari-hari termasuk kerja dan sekolah, atau menghindari aktifitas di waktu luang. Pengobatan gejala yang menetap dari “suatu serangan” pada pandangan tradisional mungkin termasuk obat-obatan yang banyak, di kantor, tapi mungkin di rumah sakit. Pandangan modern tentang asma, bagaimanapun, menekankan pendekatan preventif. Seorang individu penderita asma dengan pola gejala memburuk pada perubahan musim akan mendapatkan keuntungan dari peresepan obat anti inflamasi yang meningkat dengan pendekatan musim dingin. Dengan suksesnya pengendalian inflamasi, dan tetap waspada terhadap tanda dan gejala awal eksaserbasi, “serangan” akan dapat dihindarkan, bersama dengan gangguan kehidupan signifikan lainnya.

Hipotesis Higiene | Gejala Asma

This entry was posted in Asma. Bookmark the permalink.