Pengertian Stroke (Bagian 1)

Apa itu Stroke?

Stroke atau Brain Attack merupakan penyebab kematian terbesar nomer tiga di Indonesia, dan merupakan penyebab kecacatan terbesar pertama. Kebanyakan satu tahun setelah terkena serangan stroke diperkirakan 30% orang yang mengalami stroke meninggal dunia dan 30% lainnya mengalami kecacatan yang sedang dan parah.

Sekitar 40% dari para penderita stroke mengalami stroke ringan dan tidak ada kecacatan setelah satu tahun kemudian. Setiap tahunnya makin banyak orang yang menderita stroke sembuh karena mendapatkan penanganan medis dan terapi yang efektif secara berkelanjutan.

Stroke disebut juga serangan otak. Stroke hampir mirip dengan serangan jantung, problemnya sama yaitu pembuluh darah, “waktu” memegang peranan sangat penting. Serangan jantung lebih mudah dikenali dibanding stroke, sakit atau ada sesuatu yang salah pasti berkaitan dengan jantung. Kebanyakan gejala stroke tidak diawali dengan nyeri, tetapi terjadi kelemahan pada salah satu sisi anggota gerak tubuhnya, tidak secara langsung terjadi problem di otak.

Stroke tidak termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Berkurangnya aliran darah dan oksigen ini bisa dikarenakan adanya sumbatan, penyempitan, atau pecahnya pembuluh darah.

WHO mendefinisikan bahwa stroke adalah gejala-gejala defisit fungsi susunan saraf yang diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah otak dan bukan oleh yang lain dari itu.

Waspadalah menjalani pola hidup sehari-hari. Meski masih berusia muda, bukan berarti tidak beresiko terkena stroke. Remaja yang mengonsumsi terlalu banyak gula yang tanpa disadari ada dalam minuman ringan dan makanan beresiko mengalami serangan jantung dalam usia yang tidak terlalu tua.

Jika dalam makanan atau minuman instan disebutkan ‘ditambahkan gula’, maka bukan gula pasir semata yang digunakan, tetapi juga pemanis buatan berkalori yang ditambahkan ke makanan atau minuman oleh produsen selama pengolahan. Penelitian terbaru menunjukkan 2.157 remaja usia 12 sampai 18 tahun rata-rata mengonsumsi gula tambahan sebesar 119 gram (28,3 sdt atau 476 kalori) per hari, atau 21,4% dari total energi mereka.

The American Heart Association baru-baru ini merekomendasikan batas atas khusus untuk asupan gula tambahan ini berdasarkan jumlah kalori yang diperlukan sepanjang hari, pengeluaran energi mereka, jenis kelamin, dan usia. Misalnya, jumlah yang tepat bagi seorang individu dengan kebutuhan energi 1.800 kalori per hari (rata-rata seorang gadis remaja usia 14 – 18 mungkin dalam rentang kalori) hanya memerlukan 100 kalori dari gula tambahan. Seorang individu dengan kebutuhan 2.200 kalori per hari harus makan atau minum tidak lebih dari 150 kalori dari gula tambahan ini.

Remaja mengonsumsi tingkat tertinggi gula tambahan memiliki tingkat high density lipoprotein (HDL), kolesterol baik, yang lebih rendah kadarnya. Sebaliknya, trigliserida dan low density lipoproteins (LDL), kolesterol jahat, dalam tingkat yang lebih tinggi.

Remaja yang mengonsumsi lebih tinggi tambahan gula sama dengan ‘menabung’ kolesterol jahat dalam tubuhnya. Paparan jangka panjang akan menempatkan mereka pada resiko penyakit jantung di saat dewasa. Kontributor terbesar gula tambahan adalah pada minuman manis seperti soda, minuman buah, kopi, dan teh instan.

Menganggap diri masih berusi muda, bukan berarti aman dari stroke. Stroke juga dapat diderita oleh orang berusia muda. Tercatat pada sebuah jurnal kesehatan, setidaknya 3% kasus stroke akibat penyumbatan pembuluh darah otak diderita pasien di bawah usia 30 tahun.

Kebanyakan stroke yang diderita pasien muda lebih berpotensial menimbulkan beban yang lebih berat pada jangka waktu yang panjang.

Sayangnya, stroke yang sebenarnya diambil dari kata strike, umumnya merupakan serangan mendadak berakibat fatal tanpa didahului dengan gejala-gejala pendahulu. Penderita tidak akan tahu kapan dan bagaimana ia akan mendapat serangan stroke.

Stroke atau cerebrovascular disease yang sebelumnya dikenal juga sebagai cerebrovascular accident adalah serangan yang tiba-tiba, baru diketahui ketika sudah terjadi serangan.

Serangan stroke yang tiba-tiba ini bisa disebabkan penyumbatan ataupun pecahnya pembuluh darah pada otak. Gangguan inilah yang menyebabkan fungsi koordinasi dari otak ke tubuh menjadi hilang dan menimbulkan gangguan. Namun, manifestasi stroke dapat bervariasi pada masing-masing orang, tergantung daerah otak mana yang terganggu.

Stroke bisa menyebabkan lumpuh sebagian tubuhnya, kehilangan keseimbangan, kehilangan penglihatan, kehilangan pendengaran, tidak mampu memahami kata-kata hingga kesulitan bicara. Ini tergantung sisi otak yang mengalami gangguan pembuluh darah, apakah sisi otak depan, temporal, samping tengah, belakang, atau otak kecil. Dan, semua keadaan ini terjadi secara mendadak.

Namun, meski dikatakan sebagai serangan yang tiba-tiba, bukan berarti stroke tidak dapat diantisipasi. Jika diketahui benar potensi-potensinya, resiko stroke sebenarnya masih bisa diminimalisir.

Stroke | Pengertian Stroke (Bagian 2)

This entry was posted in Stroke. Bookmark the permalink.