Pengobatan Kanker Kolon

Upaya Pengobatan Kanker Kolon

Tingkat kesembuhan kanker kolorektal stadium dini (berarti belum menembus dinding usus) dalam waktu 5 tahun adalah sebesar 90%. Tetapi, jika sudah berada pada stadium lanjut (berarti sudah menembus dinding usus dan mungkin sudah menyebar juga ke organ lain) maka tingkat kesembuhannya dalam waktu 5 tahun hanya sebesar 10%. Jadi, pilihan pengobatan yang bisa dilakukan untuk menangani kanker kolon / kolorektal akan sangat tergantung pada stadium, posisi, dan ukuran serta penyebarannya.

Pada dasarnya ada empat jenis utama cara pengobatan untuk kanker kolorektal. Keempatnya adalah pembedahan, radioterapi, kemoterapi, target terapi (targeted theraphy). Empat pengobatan di atas bisa dilakukan secara satu per satu atau dilakukan semua secara bersamaan. Tentu saja pilihannya akan tergantung pada tahap / stadium kanker yang diderita.

Pembedahan

Pembedahan biasanya merupakan pengobatan utama untuk kanker usus stadium awal. Biasanya dokter akan mengangkat bagian usus yang terkena kanker (termasuk node getah bening di dekatnya), kemudian menyambungkan kembali bagian usus yang tersisa. Pada operasi ini dokter mungkin menganggap perlu membuat kantong pembuangan tinja sementara (ostomi) di pinggang pasien untuk memberikan waktu bagi kesembuhan usus.

Untuk jenis kanker dubur (rektum) stadium awal, dokter bisa melakukan pembedahan seperti eksisi local dan reseksi trans-anal local, dengan alat yang ditempatkan ke dalam anus tanpa harus membuat sayatan pada kulit. Sementara pada kasus kanker usus dan kanker rektum tahap II – III mungkin diperlukan penanganan / pembedahan yang lebih serius dengan salah satu metode berikut :

* Reseksi Low Anterior

Metode ini dilakukan bila posisi kanker terletak di atas rektum, dekat dengan perbatasan usus besar. Dokter bedah perlu membuat sayatan terbuka pada perut untuk mengangkat bagian yang terkena kanker (beserta kelenjar getah bening terinfeksi), tanpa mempengaruhi anus. Pada metode ini, pasien masih dapat BAB seperti biasa (melalui anus).

* Proctectomy dengan colo-anal anastomotosis

Bila letak kanker di antara bagian tengah dan 2/3 bawah dubur, maka seluruh rektum dan usus besar yang melekat pada anus perlu diangkat. Ini disebut anastomosis colo-anal (anastomosis berarti koneksi). Ini merupakan operasi yang sulit untuk dilakukan. Oleh sebab itu, dokter akan membuat kantong pembuang tinja sementara (ostomi) hingga ususnya sembuh. Operasi kedua diperlukan kemudian untuk menutup pembukaan ostomi.

* Reseksi Abdominoperineal (AP)

Bila kankernya berada pada bagian bawah rektum dekat dengan anus, maka ahli bedah perlu mengangkat juga anusnya. Akibatnya sebuah lubang pembuangan tinja (ostomi) permanen perlu dibuat untuk mengeluarkan tinja / kotoran dari tubuh pasien selanjutnya.

* Eksenterasi panggu

Jika kanker rektum sudah menyebar ke organ terdekat, maka diperlukan suatu pembedahan radikal yang mungkin melibatkan pengangkatan usus besar, anus, ataupun kandung kemih / prostat / rahim yang terinfeksi. Suatu ostomi diperlukan untuk pembuangan tinja permanen. Jika kandung kemih diangkat, sebuah urostomy (pembuka untuk buangan air seni) juga diperlukan.

Efek samping dari operasi / pembedahan tergantung pada banyak hal. Misalnya tingkat operasi dan kesehatan umum seseorang sebelum operasi. Rasa sakit sesudah operasi / pembedahan tentunya umum dirasakan. Efek lain yang mungkin timbul antara lain : pendarahan, pembekuan darah di kaki, dan kerusakan organ terdekat selama operasi.

Pada kasus yang jarang terjadi, sambungan usus bisa bocor dan menyebabkan infeksi. Selain itu setelah operasi, kemungkinan bisa timbul jaringan parut pada bagian kulit yang dioperasi. Pembuatan ostomi ataupun urostomi kadang kala di awalnya bisa menimbulkan rasa ganjil dan stres bagi pasien. Maka diperlukan bimbingan dari paramedis agar si pasien bisa terbiasa menjalani kebiasaan BAB ataupun berkemih yang baru.

Pembedahan juga bisa berdampak pada kehidupan seksual pasien / penderita. Beberapa efek samping yang mungkin timbul antara lain : tidak keluarnya air mani saat orgasme, gangguan ereksi pada pria, serta rasa sakit dan menurunnya gairah seksual pada wanita.

Radioterapi

Radioterapi dalam mengobati kanker usus besar terutama digunakan ketika sel-sel kankernya sudah menempel ke organ dalam atau ke lapisan dalam perut (abdomen). Dalam hal ini radioterapi digunakan setelah operasi pengangkatan untuk memastikan seluruh sel-sel kanker yang tersisa mati. Radiasi jarang digunakan untuk mengobati kanker usus besar yang telah menyebar (metastasis). Adapun pada kanker rektum radiasi sering diberikan pada saat sebelum ataupun setelah operasi untuk membantu mencegah kambuhnya kanker.

Sebuah teknik khusus radioterapi, yakni teknik radio-surgery, dapat dilakukan pada kasus kanker dubur dengan tumor kecil. Terapi ini memungkinkan pengangkatan tumor tanpa perlu melakukan operasi pembedahan terbuka.

Teknik radioterapi lainnya adalah Brachytherapy (terapi radiasi internal). Dalam metode ini, pelet kecil atau biji bahan radioaktif ditempatkan langsung ke kankernya dalam jangka pendek dengan tujuan mematikan kankernya tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya. Metode ini dilakukan untuk orang-orang yang karena satu dan lain hal tidak dapat menjalani operasi.

Kemoterapi

Kemoterapi melibatkan pengunaan obat-obatan melalui infus ke dalam aliran darah ataupun tablet minum untuk mematikan sel-sel kankernya. Kemoterapi sering kali dilakukan untuk kasus kanker usus yang telah bermetastasis ke hati. Kadang-kadang kemoterapi digunakan pula sebelum operasi; tujuannya untuk mengecilkan kankernya.

Target Terapi

Target terapi kadang kala disebut juga sebagai smart drugs. Jenis terapi ini hanya memfokuskan diri untuk mematikan sel-sel kankernya, sehingga tidak mengganggu sel-sel normal lainnya. Target terapi biasanya dilakukan bersamaan dengan kemoterapi untuk meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan.

Pengaturan Pola Makan dan Diet

Penderita kanker kolon rentan mengalami gangguan gizi. Penyebabnya adalah hilangnya nafsu makan, terganggunya asupan makanan dan gizi sebab terjadi gangguan pada saluran pencernaan, terjadi absorpsi zat gizi, hilangnya cairan dan elektrolit sebab sering muntah dan mengalami diare, serta terjadinya perubahan metabolisme protein, karbohidrat, dan lemak. Oleh karena itu, pola makan seorang penderita kanker kolon harus diatur sedemikian rupa hingga dapat menunjang pengobatan medis yang telah dilakukan. Jenis diet yang diberikan sangat tergantung pada keadaan penderita, perkembangan penyakit, dan kemampuan tubuhnya untuk menerima makanan. Maka menu makanan / diet untuk penderita kanker kolon hendaknya disusun dengan memperhatikan nafsu makan, perubahan indera kecap, rasa cepat kenyang, mual, penurunan berat badan, dan akibat pengobatan.

Di bawah ini adalah contoh buah dan sayur yang komposisi nilai gizinya tepat bagi penderita kanker kolon :

a. Duku

Dilihat dari komposisi zat gizinya, buah duku tidak terlalu mengecewakan. Dalam setiap 100 gr buah duku terkandung kalori 70 kal, protein 1.0 g, lemak 0.2 g, karbohidrat 13 g, mineral 0.7 g, kalsium 18 mg, fosfor 9 mg, dan zat besi 0.9 mg. Kandungan kalori, minral, dan zat besi duku setingkat lebih tinggi jika dibandingkan dengan buah apel atau jeruk manis. Kandungan lain yang bermanfaat untuk memperlancar sistem pencernaan, mencegah kanker kolon, dan membersihkan tubuh dari radikal bebas penyebab kanker.

b. Brokoli

Brokoli memang menyimpan manfaat yang sangat besar bagi kesehatan. Selain mengandung vitamin C, A, dan asam folat ternyata brokoli juga bisa menjinakkan bakteri yang bisa menyebabkan masalah pencernaan, serta mencegah kanker kolon dan perut / lambung.

Penelitian terbaru mengungkapkan fakta bahwa mengkonsumsi brokoli yang masih muda dapat menjinakkan bakteri H.Pylori. Bakteri tersebut adalah salah satu penyebab masalah pencernaan. Penelitian dilakukan oleh Cancer Prevention Research dan melibatkan 50 orang Jepang. Mereka mengkonsumsi 2,5 ons brokoli muda setiap hari selama dua bulan. Hasilnya adalah : dalam tubuh mereka terkandung sulforaphane yang fungsinya seperti antibiotik alami.

Deteksi Dini Kanker Kolon | Testimoni

This entry was posted in Kanker Kolon. Bookmark the permalink.