Pengobatan Polisitemia

Pengobatan polisitemia sesungguhnya ditujukan untuk mengurangi viskositas darah yang sangat tinggi yang bisa menimbulkan komplikasi yang berbahaya dan menghindari munculnya leukemia.

Perawatan polisitemia pada umumnya tergantung pada penyebabnya. Tanpa pengobatan, sekitar 50% penderita polisitemia dengan gejala, akan meninggal dalam waktu kurang dari dua tahun. Sedangkan dengan pengobatan, mereka akan bisa bertahan hidup sampai 15-20 tahun.

Tujuan pengobatan adalah memperlambat produksi sel darah merah dan mengurangi jumlah sel darah merah. Pada PV atau sindrom-sindrom polisitemia primer lainnya, opsi-opsi perawatan adalah lebih spesifik. Salah satu yang paling penting adalah pengambilan darah dengan prosedur yang disebut flebotomi (phlebotomy). Caranya, sejumlah kecil darah diambil setiap hari sampai nilai hematokrit mulai menurun. Jika nilai hematokrit sudah mencapai kondisi normal, maka pengambilan darah dilakukan beberapa bulan sekali sesuai dengan kebutuhan. Hematokrit yang direkomendasikan adalah 45 pada pria dan 42 pada wanita.

Pembentukan sel darah merah disumsum tulang yang semakin cepat, menyebabkan jumlah trombosit di dalam darah meningkat. Limpa dan hati pun membesar. Untuk itu, penderita memerlukan kemoterapi untuk menekan pembentukan sel darah. Atau, bisa juga penderita diberi obat antikanker hidroksiurea. Obat-obat kemoterapi biasanya mempunyai efek samping sehingga penggunaannya terbatas karena menimbulkan kontroversi.

Obat hydroxyurea (hydrea) telah direkomendasikan untuk pasien-pasien dengan polisitemia primer maupun pasien-pasien dengan viskositas darah yang tinggi. Biasanya yang dirawat dengan obat ini adalah para lansia yang telah berusia 70-an tahun, dengan jumlah platelet lebih besar dari 1,5 juta, dan mempunyai faktor resiko kardiamovaskuler umum.

Aspirin dan obat-obat antiplatelet (dipyridamole) bisa bermanfaat bagi para pasien dengan polisirtemia, bermanfaat mengurangi komplikasi-komplikasi penggumpalan, kecuali bagi pasien dengan riwayat penyakit-penyakit perdarahan.

Obat lain yang bisa mengendalikan gejala adalah antihistamin (mengurangi rasa gatal), aspirin (mengurangi rasa panas di tangan dan kaki, juga mengurangi nyeri tulang).

Sedangkan pengobatan bagi para pasien dengan polisitemia sekunder bertujuan mengobati kondisi yang mendasarinya. Contohnya, pasien polisitemia dengan penyakit paru atau jantung disertai hipoksia, pengobatan yang tepat bagi kondisi-kondisi tersebut harus disertai dengan suplementasi oksigen.

Belakangan ditemukan obat yang dipublikasikan oleh Ayalew Tefferi, MD dari Mayo Clinic, yaitu paroxitine. Obat ini sebenarnya untuk meredam depresi, lalu dilaporkan juga efektif untuk mengontrol platelet pada pasien yang menjalani terapi flebotomi. Laporan terakhir menyatakan bahwa obat ini mampu mengontrol platelet sampai 80% pada pasien PV dengan pruritus (gatal-gatal).

Ditemukan pula 2 obat ‘baru’ yaitu interferon dan amatinib mesylate. Digunakan sebagai obat tunggal dan dapat mengubah kondisi penyakit ini pada 75% kasus.

Untuk pasien yang tidak kooperatif atau dengan kondisi sosioekonomi yang tidak memungkinkan untuk berobat secara teratur, digunakan fosfor radioaktif (P32). Obat ini efektif, mudah,dan relatif murah. Diberikan secara intravena. Bila diberikan secara oral, dosis ditingkatkan 25%. Setelah 3-4 minggu dilakukan pemeriksaan:
*Jika mendapat hasil, dilakukan reevaluasi setelah 10-12 minggu. Jika perlu, dapat diulang, tapi jarang diperlukan.
*Jika tidak mendapat hasil, maka dosis kedua ditingkatkan 25% dan diberikan sekitar 10-12 minggu setelah dosis pertama.

Panmeiosis dapat dikontrol dengan cara ini pada sekitar 80% pasien untuk jangka waktu 1-2 bulan dan kemungkinan bisa berakhir 2 tahun atau lebih. Setelah itu pasien diperiksa setiap 2-3 bulan sekali setelah keadaannya stabil. Trombositosis dan trombositemia yang mengancam atau terbukti menimbulkan trombosis masih dapat terjadi meskipun eritrositosis dan leukositosisat terkendali.

Pengobatan dengan kemoterapi biologi (sitokin), tujuan dengan produk biologi pada PV terutama untuk mengontrol trombositemia (hitung trombosit 800.000/mm3). Produk biologi yang digunakan adalah interferon dan Roveron. Digunakan terutama pada keadaan trombositemia yang tak dapat dikendalikan. Kebanyakan dokter  mengombinasikannya dengan siklofosfamid selama 10-14 hari atau target telah tercapai (yaitu hitung trombosit <800.000/mm3), kemudian dapat dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan 1-2 kali seminggu.

Pengobatan suportif, untuk meredam akibat-akibat polisitemia.
Hiperurisemia, diobati dengan alopurinol 100m-600 mg/hari,oral, pada pasien dengan penyakit aktif , dengan memperthatikan fungsi ginjal.
Pruritus dan urtiaria, diberikan antihistamin. Jika diperlukan dapat diberikan Psoralen dengan penyinaran ultraviolet range A (PUVA).
Gastritis/ ulkus peptikum, dapat diberikan penghambat reseptor H2.
Antigregasi trombosit Analgrelide turunan dari Quinazolin, dikatakan juga dapat menekan trombopoesis.

Berbagai gejala yang dialami oleh pasien polisitemia pastilah merupakan penderitaan tersendiri. Dokter juga memberikan obat untuk berbagai gejala tersebut. Contohnya gejala pruritus atau gatal-gatal sering kali sulit di kontrol. Biasanya pasien dengan gejala itu diberi diphenhydramine (Benadryl) atau antihistamin lain. Sedangkan pasien dengan kadar asam urat tinggi (yang bisa menimbulkan gout diberi allopurinol (lopurin, Zyloprim). Disarankan para pasien PV sebaiknya mengatur pola makannya apalagi penderita splemomegali yang makan sedikit saja sudah merasa kenyang. Pasien ini dinasihatkan agar makan sedikit-sedikit namun sering.

Lima puluh persen pasien PV yang tidak dirawat akan meninggal dalam tempo 18 bulan setelah diagnosis. Kebanyakan mereka meninggal karena gagal jantung, leukimia, atau pendarahan. Sedangkan pasien yang berobat mempunyai harapan hidup antara 11 sampai 15 tahun setelah diagnosis.

Pembedahan ditunjukan untuk mengangkat bekuan darah. Dilakukan jika telah terjadi kematian jaringan atau dikhawatirkan menimbulkan kematian pasien.

Pembedahan darurat sedapat-dapatnya ditunda atau dihindari. Dalam keadaan darurat dapat dilakukan flebatomi agresif dengan prinsip isovolemik dengan mengganti plasma yang terbuang dengan plasma fusin 4% atau cairan plasma ekspander lainnya, bukan cairan isotonis / garam fisiologis. Ini merupakan prosedur yang merupakan tindakan penyelamatan hidup (life-saving).

Splenektomi sangat berbahaya untuk dilakukan pada semua fase polisitemia, dan harus dihindari karena dalam perjalanan penyakit jika terjadi fibrosis sumsum tulang, organ inilah yang diharapkan sebagai pengganti hemopoesisnya.

Sedangkan pembedahan berencana dapat dilakukan setelah pasien terkendali dengan baik. Lebih dari 75% pasien PV tidak terkendali atau belum diobati akan mengalami perdarahan atau komplikasi trombosis pada pembedahan. Diperkirakan sepertiga dari jumlah pasien tersebut akan meninggal. Angka komplikasi akan jauh menurun jika eritrositosis sudah dikendalikan dengan edukuat sebelum pembedahan. Makin lama telah terkendali, makin kecil kemungkinan terjadinya komplikasi pada pembedahan. Diperkirakan sepertiga jumlah pasien tersebut akan meninggal. Angka komplikasi akan jauh menurun jika eritrositosis sudah dikendalikan dengan adekuat sebelum pembedahan. Makin lama telah terkendali, makin kecil kemungkinan terjadinya komplikasi pada pembedahan. Sementara darah yang didapat dari flebotomi dapat disimpan untuk digunakan saat pembedahan.

Terapi Spesifik untuk Polisitemia Vera | Testimonial Purtier

This entry was posted in Sindrom Darah Kental. Bookmark the permalink.