Pengobatan untuk Biduran

Pengobatan awal biduran akut dan kronis dengan atau tanpa angiodema mengandalkan antihistamin H1 oral. Selama beberapa tahun, dokter percaya antihistamin kuno, sedasi, seperti diphenhydramine dan hydroxyzine, lebih efektif untuk mengobati biduran daripada obat-obat baru nonsedasi. Namun, sejumlah besar penelitian menunjukkan bahwa hal ini tidak benar. Karena itu, saya selalu mulai pasien-pasien dengan memakai antihistamin tidak nonsedasi tunggal harian (loratadine, discloratadine, fexofenadine) atau sedasi minimal(cetirizine, levocetirizine). Jika obat ini tidak efektif menghilangkan biduran dan gatal secara keseluruhan, saya akan menambahkan antihistamin H2 oral seperti, ranitidine atau cemetidine, dalam dosis tunggal harian. Sebagian besar pasien mengakui keefektifan pengobatan dengan blokade asam untuk mengobati tukak lambung atau gastroesophageal reflux disease.Walaupun demikian, ada juga reseptor histamin H2 pada kulit dan pemblokiran reseptor ini menambah manfaat signifikan untuk mengendalikan biduran. Jika kombinasi antihistamin H1 dan H2 tidak sempurna mengontrol biduran dan/atau angiodema, obat-obatan lapis ketiga yang paling sering digunakan adalah montelukast. Walaupun demikian, pada saat ini belum disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk mengobati biduran., montelukast terbukti bermanfaat untuk banyak pasien dan secara umum ditoleransi dengan baik.

Jika kombinasi ketiga macam obat ini masih tidak berhasil dan biduran cukup berat, maka pemberian prednison oral 0,5 mg/kg/hari dilakukan sampai 5 sampai 7 hari. Pada pasien dengan biduran kronis, gangguan ini dapat kambuh kembali setelah prednison dihentikan, sehingga ia harus melanjutkan pengobatan dengan prednison. Namun prednison memiliki banyak efek samping sehingga menjadi pilihan yang tidak diinginkan untuk penggunaan jangka panjang. Alternatif dari pengobatan kronis dengan prednison adalah termasuk hydroxycholorquine dan cyclosporine, keduanya dapat ditoleransi baik oleh banyak pasien tetapi memerlukan pengawasan terus-menerus untuk memastikan keamanan pasien. Kemungkinan kadang-kadang mendapatkan efek samping serius, obat ini harus diresepkan oleh dokter yang berpengalaman dalam memakainya dan merasa semua obat alternatif sudah dipertimbangkan.

Untungnya Urtikaria kronis idiopatik hilang secara spontan dengan berjalannya waktu pada sebagian besar pasien. Setelah 1 tahun, 80% kasus akan hilang; dan dalam 5 tahun, 95% akan hilang. Statistik ini menunjukkan sebagian kecil pasien akan terus mengidap biduran untuk waktu yang sangat lama, dan dalam pengalaman saya, saya melihat hanya sedikit pasien dengan gangguan selama 15 tahun tanpa perbaikan. Seringkali, keparahan mungkin berubah dengan berjalannya waktu, seperti lesi kulit menjadi lebih mudah dikelola dengan berlalunya waktu. Setelah sembuh, sejumlah kecil, namun signifikan, kelompok pasien akan kambuh kembali setelah beberapa waktu. Saya melihat beberapa pasien akan terbebas dari biduran selama beberapa tahun, hanya mengalami kekambuhan yang berlangsung beberapa bulan sampai tahunan. Penyebab kekambuhan tidak diketahui dengan baik, dan mustahil untuk menentukan pasien mana yang akan mengalami kekambuhan ini.

Diperkirakan bahwa sampai satu per tiga pasien dengan biduran kronis dan/atau angiodema sensitif terhadap aspirin dan obat antiflasi nonsteroid lain (AINS). Pada pasien ini, minum obat ini menimbulakan keparahan akut pada biduran dan/atau angiodema mereka. Sejumlah kecil pasien ini mengalami reaksi sistemik yang lebih serius setelah minum AINS, meliputi pembengkakan tenggorok atau lidah. Jika biduran telah sembuh sempurnauntuk beberapa waktu, AINS dapat diberikan lagi dan ditoleransi tanpa menyebabkan biduran. Yang penting adalah sensitivitas akan terjadi dengan semua AINS, dan makin kuat obatnya, makin buruk pula bidurannya. Sekali pasien mengalami reaksi semacam ini terhadap AINS, maka obat ini harus dihindari di waktu mendatang.

Obat penghambat Angiotensin Converting Enzyme (ACE), seperti captopril dan enalapril, seringkali digunakan untuk mengobati hipertensi dan gagal jantung kongestif juga untuk mencegah kerusakan ginjal kongestif pada pasien dengan diabetes. Hal ini telah dinasehati bahwa individu dengan angiodema kronis menghindari obat ini, karena ada kemungkinan kecil bahwa obat-obatan ini dapat mencetuskan serangan angioedema.

Biduran dan Penyebabnya | Eksim Alergi

This entry was posted in Alergi. Bookmark the permalink.