Penyebab Asma

Asma diyakini hasil dari interaksi yang kompleks antara gen seseorang dan berbagai faktor lingkungan pada waktu tertentu dalam hidupnya. Dengan demikian dapat dilihat sebagai hasil dari interaksi yang terjadi antara internal (genetik) dan pajanan eksternal (lingkungan). Faktor-faktor lingkungan yang telah diteliti mencakup virus seperti RSV (virus saluran pernapasan sinsitial), kecoak, asap rokok, knalpot, hewan ternak, obat-obatan (termasuk asetaminofen), pestisida, hewan peliharaan, dan asap kayu. Data yang menarik dan menimbulkan pertanyaan lebih lanjut yang terus merangsang penelitian pada keduanya, yaitu sifat genetik dan lingkungan. Baru-baru ini, perhatian, misalnya, terfokus pada faktor-faktor yang dapat mempengaruhi sistem imun tubuh bayi yang belum lahir. Kecenderungan meningkatnya laju penyakit asma pada masa kanak-kanak dan menurut pengamatan bahwa lebih dari separuh anak-anak penderita asma, didiagnosis pada usia 3 tahun. Peneliti juga berusaha untuk meneliti kemungkinan pengaruh lingkungan prenatal terhadap resiko perkembangan janin terhadap berkembangnya asma lebih awal dalam kehidupan. Beberapa penelitian secara khusus telah mengemukakan kemungkinan (tapi tidak terbukti) adanya hubungan antara kadar vitamin D yang lebih rendah dari normal pada ibu selama kehamilan dengan perkembangan asma pada anak-anak mereka. Penelitian lebih lanjut mengenai mengapa beberapa orang, tetapi tidak yang lain, terus mengembangkan asma dalam kehidupan mereka, sangat dibutuhkan. Dalam kasus pentingnya vitamin D, misalnya, suatu percobaan klinis yang dijadwalkan dimulai pada akhir 2009 untuk menyelidiki apakah vitamin D ibu yang adekuat selama kehamilan menyebabkan penurunan asma saat tiga tahun pertama kehidupan anak. Penelitian itu berjudul, “Suplemen vitamin D Ibu untuk Mencegah Asma pada Masa Kanak-kanak (VDAART)”. Vitamin D juga diduga, mungkin memainkan peranan dalam memperparah gejala asma. John Brehm dan rekannya menerbitkan “Level Serum Vitamin D dan Penanda dari Keparahan Asma pada Masa Kanak-kanak di Costarica” pada Mei 2009 di Jurnal Respirasi dan Kedokteran Perawatan Darurat, memberikan bukti adanya hubungan terbalik antara tingkat vitamin D dan tingkat alergi serta keparahan asma pada anak-anak Costa Rica penderita asma. Para penulis juga menunjukkan bahwa “Hasil dari beberapa, tapi tidak semua, studi epidemiologi menunjukkan bahwa defisiensi vitamin D dikaitkan dengan peningkatan insiden gejala asma … asupan vitamin D ibu yang lebih tinggi selama kehamilan, berhubungan dengan penurunan resiko terjadinya mengi berulang pada anak-anak, hal ini menunjukkan bahwa vitamin D mungkin memainkan peranan dalam pengembangan asma.”

Klinikus telah lama mencatat bahwa infeksi virus tertentu tampaknya berhubungan dengan perkembangan asma pada orang yang cenderung menderitanya, baik anak-anak maupun dewasa. Para dokter mengacu pada virus “asmagenik” tertentu (seperti RSV) yang menyebabkan pada awalnya gejala dan infeksi saluran pernapasan yang khas, dengan kondisi mirip seperti asma. Tidak semua agen infeksi adalah virus, bagaimanapun, dan perhatian juga telah diarahkan untuk organisme menular lainnya yang mungkin memiliki peranan dalam pengembangan asma. Infeksi paru-paru dengan bakteri biasa (bukan virus) bernama Chlamyia pneumoniae (baru-baru ini berganti nama menjadi Chlamydophila pneumoniae) secara khusus telah diusulkan (tapi tidak terbukti) sebagai kemungkian penyebab asma reversibel pada orang dewasa.

Salah satu tantangan dalam mempelajari asma adalah asma merupakan kondisi yang heterogen, maksudnya penyakit ini bukanlah penyakit tunggal dalam terminologi mulai dari gejala, respon terhadap pengobatan, dan gabungannya. Meskipun keduanya, mengalami batuk episodik, mengi, dan sesak napas, seorang anak laki-laki berusia 6 tahun dengan alergi makanan, eksema, dan asma sepanjang tahun tidak “memiliki asma yang sama” seperti wanita berusia 56 tahun tanpa alergi apapun yang tidak dapat melalui musim dingin New England tanpa obat isap, misalnya. Sama halnya dengan laki-laki tukang roti dengan mengi dan batuk yang disebabkan oleh tipe asma yang disebut asma akibat kerja yang berhubungan dengan kondisi industri dan pajanan tertentu, memiliki asma yang berbeda dari anak laki-laki berusia 6 tahun dan wanita berusia 56 tahun, yang telah disebutkan diatas. Pengembangan asma juga mencerminkan kontribusi genetik yang diwarisi dari orang tua kita. Kecenderungan untuk mengembangkan asma, terutama pada orang muda, memiliki dasar turunan. Jika salah satu atau kedua orang tuanya memiliki asma, misalnya, anak-anak mereka kemungkinan besar mengembangkan asma dibandingkan anak yang lain yang memiliki orang tua tanpa riwayat asma. Penelitian dari 344 keluarga yang tinggal di Arizona mengungkapkan diantara anak-anak yang didiagnosis menderita asma, 6% berasal dari keluarga yang sama sekali tidak memiliki riawayat asma, 20% mempunyai salah satu orang tuanya menderita asma, dan 60% anak-anak dengan orang tua yang menderita asma. Demikian pula, penelitian terhadap populasi kembar dalam jumlah besar, membandingkan asma dan alergi pada pasangan kembar identik dan fraternal, mengarah ke faktor turunan yang diperlukan untuk pengembangan asma.

Meskipun telah lama diamati bahwa asma terjadi dalam keluarga, tidak ada satu gen tertentu diketahui bertanggung jawab untuk pengembangan asma. Tampaknya malah, beberapa gen berkontribusi terhadap kecenderungan individu untuk mengembangkan asma. Kemungkinan besar, gen yang lain mempengaruhi penyakit. Gen yang berlokasi pada beberapa kromosom, seperti kromosom 2, 5, 6, 7, 12, 16, 17, 19, dan 20, penting dalam penyakit asma. Penyelidikan ilmiah lebih lanjut diharapkan akan menggambarkan identifikasi gen asma primer, yang berkontribusi pada perkembangan asma di tempat pertama, sebagaimana gen bertanggung jawab terhadap keparahan asma (keparahan asma-gen modifikasi), dan hal ini menentukan respon terhadap pengobatan standar (pengobatan asma modifikasi gen).

Obervasi ini, bersama dengan suatu temuan penelitian yang besar, telah mengarahkan kepada pandangan saat ini yaitu perkembangan asma sebagai akibat interaksi kompleks antara individu yang rentan dengan kondisi lingkungan tertentu pada masa tertentu dalam waktu.

Faktor Lingkungan yang mungkin pada Perkembangan Asma

Perkembangan asma mencerminkan suatu genetik khusus atau predisposisi bawaan terhadap penyakit. Sebagai tambahan, pengaruh lingkungan telah dilakui penting dalam munculnya asma klinis. Interaksi yang tepat antara lingkungan dan faktor herediter yang mengarah ke asma masih kurang dimengerti. Hal ini telah menjadi catatan panjang bahwa beberapa pajanan lingkungan dihubungkan dengan progresi asma, sementara tipe pajanan lainnya mungkin mencegah atau memperlambat perkembangan asma pada pasien yang rentan. Hubungan yang kompleks merupakan subyek penelitian yang sedang berlangsung pada level molekuler pada laboratorium hewan dan pada populasi manusia.

Faktor lingkungan yang mungkin mencakup :

1. Lingkungan indoor :

* Alergen di dalam ruangan : tungau debu, bulu hewan peliharaan, kecoak, jamur
* Asap rokok
* Hasil pembakaran : gas range / pemanas, pemanas dari batubara
* Kehadiran di tempat penitipan
* Infeksi pernapasan pada usia sangat muda
* Gedung “ketat”, material modern

2. Lingkungan outdoor :

* Alergen luar rumah dan polen
* Polusi udara
* Emisi diesel
* Partikel
* Ozon, sulfur dioksida

Lingkungan indoor memainkan peranan yang lebih besar dibandingkan lingkungan dalam masa perkembangan asma.

Laporan tahun 2000 tentang : Pembersihan Udara : Asma dan Pajanan Udara Indoor dari Institut Kedokteran menyimpulkan bahwa terdapat bukti yang cukup untuk mendukung suatu hubungan kausal antara perkembangan asma dan pajanan tungau debu rumah (meningkatkan risiko terjadinya asma), asap rokok (mungkin meningkatkan risiko). Kecoak, kucing, dan anjing membawa sesuatu “mungkin” meningkatkan risiko.

Asma Pada Segala Usia | Hubungan antara Alergi dan Asma

This entry was posted in Asma. Bookmark the permalink.