Penyebab Gagal Ginjal (Bagian 2)

Penyebab Gagal Ginjal dari Segi Konsumsi

Berikut ini merupakan lanjutan dari post sebelumnya dan merupakan bagian kedua dari penyebab gagal ginjal dari segi konsumsi :

Jamu

Pasti Anda berpikir ada apa dengan jamu sehingga termasuk dalam daftar minuman yang perlu diwaspadai saat ini. Jamu adalah warisan turun temurun, berasal dari bahan alami dan terbukti berkhasiat. Kemudian mengapa jamu menjadi salah satu penyebab gagal ginjal?

Jamu sebenarnya berasal dari 100% tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat secara alami sehingga jamu kerap menjadi pilihan masyarakat. Terjangkau, alami dan tidak ada efek samping. Namun dalam perkembangannya, ada beberapa produsen jamu yang kurang bertanggung jawab dengan menambahkan zat pengawet, pewarna dan bahan kimia lainnya yang dapat mengganggu ginjal, terutama penggunaan dalam jangka panjang. Jamu yang kita konsumsi harus sudah teruji secara klinis. Minum jamu harus diimbangi dengan meminum banyak air putih. Air putih ini membantu cairan yang disaring ke ginjal agar tidak terlalu pekat sehingga tidak mengganggu kerja ginjal dan tentu saja tidak menjadi penyebab gagal ginjal kronik.

Minum sembarangan jamu tanpa mengetahui komposisinya bisa berbahaya dan menjadi penyebab gagal ginjal. Karena materi-materi penyusunnya belum dapat diidentifikasi secara pasti sehingga belum dapat dipastikan apakah material yang terkandung di dalamnya aman untuk ginjal. Jamu yang ditujukan untuk pereda nyeri, beberapa komposisinya dicampur dengan obat-obatan berbahan kimia, yang bila sering dikonsumsi tentu dalam jangka panjang akan mengganggu kerja ginjal.

Orang dengan penyakit ginjal tingkat lanjut, sangat tidak disarankan minum jamu. Karena apabila telah terjadi kerusakan pada ginjal maka minum jamu akan meningkatkan resiko dan mengakibatkan pasien tidak bisa bertahan lebih lama.

Ada dua jenis sistem ekskresi (pembuangan) dalam tubuh, yaitu melalui ginjal dan sistem pencernaan. Jamu yang belum diuji klinis karena belum diketahui komposisinya bisa membuat kerja ginjal berat jika senyawa metabolitnya mengendap di ginjal atau saluran cerna. Tentu saja hal ini menjadi penyebab gagal ginjal.

Suplemen Berenergi

Suplemen berenergi sekarang ini sedang marak-maraknya, bahkan kita bisa membelinya dimanapun dan ada berbagai merk yang ditawarkan di pasaran. Solusi kurang energi, lemah, letih, dan lesu adalah minuman suplemen berenergi. Pola pikir itulah yang sekarang melekat pada masyarakat.

Berolahraga dan memakan makanan yang bergizi adalah cara untuk mengimbangi kegemaran Anda mengkonsumsi minuman suplemen berenergi. Tetaplah waspada saat mengkonsumsi minuman tersebut karena ada kandungan berbahaya yang tidak boleh dikonsumsi, seperti zat pengawet, pewarna, perasa dan pemanis. Zat-zat inilah yang berbahaya bagi kesehatan ginjal dan menjadi penyebab gagal ginjal.

Obat Penurun Berat Badan

Penyebab Gagal Ginjal Obat Diet

Sekarang ini, obat diet sangatlah populer di kalangan gadis sampai dengan ibu-ibu. Begitu para gadis merasa agak gemuk atau setelah ibu-ibu melahirkan, obat diet merupakan solusi bagi mereka. Bahkan berbagai macam dan merk obat diet beredar bebas di pasaran. Lalu apakah kita tidak diperbolehkan mengkonsumsi obat diet?

Sebenarnya penggunaan obat penurun berat badan tidak akan berdampak negatif bila jenis dan dosisnya sesuai dengan petunjuk dokter. Biasanya obat diet yang diperbolehkan itu adalah yang berfungsi untuk mengurangi nafsu makan, merangsang pembakaran lemak dan menghambat penyerapan minyak dalam batas tertentu.

Setidaknya efek pengurangan berat badan yang terjadi normal, sekiatr 3-4 kg per bulan. Semua jenis obat seperti ini tentu saja harus sesuai dengan resep dokter, dengan penggunaan antar individu yang berbeda.

Obat penurun berat badan sesungguhnya tidak hanya yang diresepkan oleh dokter. Ada banyak obat bebas lain yang juga mudah dijumpai di pasaran. Sayangnya banyak orang menyalahgunakan penggunaan obat tersebut. Sebut saja beberapa obat yang mengandung pencahar ataupun diuretik. Bila digunakan terus menerus dan tanpa pengawasan atau konsultasi dengan dokter, penggunanya dapat menderita penyakit ginjal atau liver. Kita melihat semakin banyak daftar yang menjadi penyebab gagal ginjal.

Selain penggunaan obat diet, beberapa obat yang diberikan kepada pasien seperti tiroksin, menyebabkan pembakaran energi lebih banyak dan memberikan efek penurunan berat badan.

Selain tiroksin, masih banyak obat lain yang juga berefek sama. Obat-obatan yang dapat membuat fly, seperti ekstasi atau amfetamin, juga dapat memberi pengaruh serupa. Obat-obatan jenis ekstasi akan membuat orang sulit tidur. Karena tidak bisa tidur, pembakaran energi pun akan berjalan terus. Karena itu, obat-obatan jenis ini tidak dianjurkan, bahkan dilarang keras.

Amfetamin bisa mempengaruhi ginjal. Amfetamin dapat menyempitkan pembuluh darah. Dengan begitu, darah yang bergerak ke ginjal juga akan berkurang. Akibatnya, ginjal akan kekurangan asupan makanan dan menjadi penyebab gagal ginjal.

Penggunaan obat diet yang salah dan tanpa pentunjuk dokter bisa menjadi penyebab gagal ginjal. Terlebih bila sebelumnya orang yang minum obat tersebut sudah bermasalah dengan ginjalnya. Tiga bulan pemakaian obat diet bisa menyebabkan seseorang terganggu ginjalnya. Meskipun data pasti tidak dapat diketahui, beberapa pasien yang pernah ditemui mengaku kalau ginjalnya rusak karena penggunaan obat penurun berat badan. Diakui oleh para pakar bahwa penggunaan obat diet kadang tidak terkontrol dikarenakan pasien tidak mengikuti petunjuk dokter dan menjadi penyebab gagal ginjal.

Obat yang mengandung jati belanda misalnya, dapat membuat diare karena fungsinya memang sebagai pencahar. Sesuai dengan fungsinya, obat tersebut mengakibatkan tidak terbentuknya tinja atau feses. Kotoran menjadi encer dan penyerapan makanan terganggu. Pada jaman dulu obat pencahar diberikan enam bulan atau setahun sekali bila ada masalah. Hal ini dimaksudkan supaya usus bersih terus. Nmaun, sekarang pemberian obat pencahar dilakukan secara berbeda, menjadi bahan yang dikonsumsi harian. Akibatnya, usus tidak punya kesempatan untuk meregenerasi. Hasilnya, dinding usus akan mengalami kemunduran. Selain itu, bisa terjadi iritasi pada usus besar. Bahkan beberapa penelitian menunjukkan terjadinya kanker pada usus. Inilah efek berantai yang akan terjadi sampai pada akhirnya menjadi penyebab gagal ginjal.

Selain pencahar, obat jenis diuretik atau pelancar kencing juga berpengaruh terhadap kesehatan ginjal dan merupakan awal penyebab gagal ginjal. Obat diuretik yang sering juga digunakan sebagai obat penurun berat badan, sebenarnya “memeras” air yang membuat keadaan dehidrasi sehingga tubuh kekurangan cairan yang dapat memberikan efek pada ginjal dan organ lainnya. Bila digunakan tidak wajar, air yang dikeluarkan terus menerus akan membuat ginjal “kering” dan rusak. Ginjal yang banyak terbebani, apalagi kalau sudah rusak, juga akan mengganggu liver. Pada akhirnya, kerusakan yang terjadi akan terus merembet ke berbagai tempat.

Penyebab Gagal Ginjal – bersambung

Penyebab Gagal Ginjal (Bagian 1) | Penyebab Gagal Ginjal (Bagian 3)

Jamu 

Pasti Anda berpikir ada apa dengan jamu sehingga termasuk dalam

daftar minuman yang perlu diwaspadai saat ini. Jamu adalah warisan

turun temurun, berasal dari bahan alami dan terbukti berkhasiat.

Kemudian apa yang salah dengan jamu?

Jamu sebenarnya berasal dari 100% tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat

secara alami sehingga jamu kerap menjadi pilihan masyarakat.

Terjangkau, alami dan tidak ada efek samping. Namun dalam

perkembangannya, ada beberapa produsen jamu yang kurang bertanggung

jawab dengan menambahkan zat pengawet, pewarna dan bahan kimia

lainnya yang dapat mengganggu ginjal, terutama penggunaan dalam

jangka panjang. Jamu yang kita konsumsi harus sudah teruji secara

klinis. Minum jamu harus diimbangi dengan meminum banyak air putih.

Air putih ini membantu cairan yang disaring ke ginjal agar tidak

terlalu pekat sehingga tidak mengganggu kerja ginjal.

Minum sembarangan jamu tanpa mengetahui komposisinya bisa berbahaya.

Karena materi-materi penyusunnya belum dapat diidentifikasi secara

pasti sehingga belum dapat dipastikan apakah material yang terkandung

di dalamnya aman untuk ginjal. Jamu yang ditujukan untuk pereda

nyeri, beberapa komposisinya dicampur dengan obat-obatan berbahan

kimia, yang bila sering dikonsumsi tentu dalam jangka panjang akan

mengganggu kerja ginjal.

Orang dengan penyakit ginjal tingkat lanjut, sangat tidak disarankan

minum jamu. Karena apabila telah terjadi kerusakan pada ginjal maka

minum jamu akan meningkatkan resiko dan mengakibatkan pasien tidak

bisa bertahan lebih lama.

Ada dua jenis sistem ekskresi (pembuangan) dalam tubuh, yaitu melalui

ginjal dan sistem pencernaan. Jamu yang belum diuji klinis karena

belum diketahui komposisinya bisa membuat kerja ginjal berat jika

senyawa metabolitnya mengendap di ginjal atau saluran cerna.

Suplemen Berenergi

Suplemen berenergi sekarang ini sedang marak-maraknya, bahkan kita

bisa membelinya dimanapun dan ada berbagai merk yang ditawarkan di

pasaran. Solusi kurang energi, lemah, letih, dan lesu adalah minuman

suplemen berenergi. Pola pikir itulah yang sekarang melekat pada

masyarakat.

Berolahraga dan memakan makanan yang bergizi adalah cara untuk

mengimbangi kegemaran Anda mengkonsumsi minuman suplemen berenergi.

Tetaplah waspada saat mengkonsumsi minuman tersebut karena ada

kandungan berbahaya yang tidak boleh dikonsumsi, seperti zat

pengawet, pewarna, perasa dan pemanis. Zat-zat inilah yang berbahaya

bagi kesehatan ginjal.

Obat Penurun Berat Badan

Sekarang ini, obat diet sangatlah populer di kalangan gadis sampai

dengan ibu-ibu. Begitu para gadis merasa agak gemuk atau setelah ibu

-ibu melahirkan, obat diet merupakan solusi bagi mereka. Bahkan

berbagai macam dan merk obat diet beredar bebas di pasaran. Lalu

apakah kita tidak diperbolehkan mengkonsumsi obat diet?

Sebenarnya penggunaan obat penurun berat badan tidak akan berdampak

negatif bila jenis dan dosisnya sesuai dengan petunjuk dokter.

Biasanya obat diet yang diperbolehkan itu adalah yang berfungsi

untukmengurangi nafsu makan, merangsang pembakaran lemak dan

menghambat penyerapan minyak dalam batas tertentu.

Setidaknya efek pengurangan berat badan yang terjadi normal, sekiatr

3-4 kg per bulan. Semua jenis obat seperti ini tentu saja harus

sesuai dengan resep dokter, dengan penggunaan antar individu yang

berbeda.

Obat penurun berat badan sesungguhnya tidak hanya yang diresepkan

oleh dokter. Ada banyak obat bebas lain yang juga mudah dijumpai di

pasaran. Sayangnya banyak orang menyalahgunakan penggunaan obat

tersebut. Sebut saja beberapa obat yang mengandung pencahar ataupun

diuretik. Bila digunakan terus menerus dan tanpa pengawasan atau

konsultasi dengan dokter, penggunanya dapat menderita penyakit ginjal

atau liver.

Selain penggunaan obat diet, beberapa obat yang diberikan kepada

pasien seperti tiroksin, menyebabkan pembakaran energi lebih banyak

dan memberikan efek penurunan berat badan.

Selain tiroksin, masih banyak obat lain yang juga berefek sama. Obat

-obatan yang dapat membuat fly, seperti ekstasi atau amfetamin, juga

dapat memberi pengaruh serupa. Obat-obatan jenis ekstasi akan membuat

orang sulit tidur. Karena tidak bisa tidur, pembakaran energi pun

akan berjalan terus. Karena itu, obat-obatan jenis ini tidak

dianjurkan, bahkan dilarang keras.

Amfetamin bisa mempengaruhi ginjal. Amfetamin dapat menyempitkan

pembuluh darah. Dengan begitu, darah yang bergerak ke ginjal juga

akan berkurang. Akibatnya, ginjal akan kekurangan asupan makanan.

Penggunaan obat-obatan untuk diet juga bisa menyebabkan kerusakan

pada ginjal. Terlebih bila sebelumnya orang yang minum obat tersebut

sudah bermasalah dengan ginjalnya. Tiga bulan pemakaian obat diet

bisa menyebabkan seseorang terganggu ginjalnya. Meskipun data pasti

tidak dapat diketahui, beberapa pasien yang pernah ditemui mengaku

kalau ginjalnya rusak karena penggunaan obat penurun berat badan.

Diakui oleh para pakar bahwa penggunaan obat diet kadang tidak

terkontrol dikarenakan pasien tidak mengikuti petunjuk dokter.

Obat yang mengandung jati belanda misalnya, dapat membuat diare

karena fungsinya memang sebagai pencahar. Sesuai dengan fungsinya,

obat tersebut mengakibatkan tidak terbentuknya tinja atau feses.

Kotoran menjadi encer dan penyerapan makanan terganggu. Pada jaman

dulu obat pencahar diberikan enam bulan atau setahun sekali bila ada

masalah. Hal ini dimaksudkan supaya usus bersih terus. Nmaun,

sekarang pemberian obat pencahar dilakukan secara berbeda, menjadi

bahan yang dikonsumsi harian. Akibatnya, usus tidak punya kesempatan

untuk meregenerasi. Hasilnya, dinding usus akan mengalami kemunduran.

Selain itu, bisa terjadi iritasi pada usus besar. Bahkan beberapa

penelitian menunjukkan terjadinya kanker pada usus. Inilah efek

berantai yang akan terjadi sampai pada akhirnya bisa menimbulkan

kerusakan pada ginjal.

Selain pencahar, obat jenis diuretik atau pelancar kencing juga

berpengaruh terhadap kesehatan ginjal. Obat diuretik yang sering juga

digunakan sebagai obat penurun berat badan, sebenarnya “memeras” air

yang membuat keadaan dehidrasi sehingga tubuh kekurangan cairan yang

dapat memberikan efek pada ginjal dan organ lainnya. Bila digunakan

tidak wajar, air yang dikeluarkan terus menerus akan membuat ginjal

“kering” dan rusak. Ginjal yang banyak terbebani, apalagi kalau sudah

rusak, juga akan mengganggu liver. Pada akhirnya, kerusakan yang

terjadi akan terus merembet ke berbagai tempat.

Penyebab Gagal Ginjal – bersambung

This entry was posted in Penyakit Ginjal. Bookmark the permalink.