Penyebab Gagal Ginjal (Bagian 5)

Penyebab Gagal Ginjal dari Segi Penyakit

Beberapa jenis penyakit tertentu yang diderita seseorang dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit ginjal kronik. Tanpa kita sadari, beberapa penyakit tersebut menimbulkan efek berantai sehingga pada akhirnya menjadi penyebab gagal ginjal.

Mari kita bahas jenis penyakit yang dapat menjadi penyebab gagal ginjal :

Kencing Manis (Diabetes Mellitus)

Saat ini, diabetes merupakan penyebab gagal ginjal terbanyak selain hipertensi. Diabetes tipe 2 merupakan penyebab nomor satu penyakit ginjal kronik. Diabetes tipe 2 banyak dipengaruhi faktor keturunan dan pengaruh lingkungan yaitu obesitas (kegemukan), diet tinggi lemak dan rendah serat, tubuh kurang bergerak.

Lajunya perkembangan diabetes mellitus tipe 2 sebagai penyebab gagal ginjal ini antara lain disebabkan oleh peningkatan populasi usia lanjut, masalah kegemukan atau obesitas, dan perubahan gaya hidup.

Penyakit kencing manis merupakan masalah kesehatan yang cukup serius. Jumlah penderitanya makin bertambah, terdapat sekitar 177 juta penderita diabetes mellitus tipe 2. Di Asia sendiri, penderita diabetes mellitus tipe 2 terus bertambah tiap tahunnya, demikian pula jumlah penderita di Indonesia yang pada tahun 2005 tercatat oleh World Health Organization (WHO) sebagai penderita terbanyak keempat di dunia.

Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah penderita diabetes mellitus nya tinggi dikarenakan kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar meminum teh manis, kopi manis, sirup dan soft drink. Semua minuman manis banyak digemari disini dan juga menjadi penyebab gagal ginjal.

Diabetes mellitus adalah suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan banyak penyebab yang ditandai dengan tingginya disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein sebagai gangguan fungsi hormon insulin yang diproduksi oleh kelenjar pankreas.

Diabetes merupakan the great imitator, karena penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan. Gejalanya sangat bervariasi. Diabetes mellitus dapat timbul secara perlahan-lahan sehingga pasien tidak menyadari akan adanya perubahan seperti minum yang menjadi lebih banyak, buang air kecil lebih sering ataupun berat badan yang menurun. Gejala tersebut dapat berlangsung lama tanpa diperhatikan, sampai kemudian orang tersebut pergi ke dokter dan diperiksa kadar glukosa darahnya. Dengan mengendalikan kadar gula darah, resiko terjadinya kerusakan ginjal dapat dicegah.

Pada penyakit diabetes terjadi gangguan pengolahan glukosa dalam darah oleh tubuh, yang lama-kelamaan dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal dan akhirnya dapat menjadi penyakit ginjal kronik. Kadar glukosa yang tinggi dalam darah tersebut, bila tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah ginjal dalam kurun bertahun-tahun sehingga menurunkan kemampuan ginjal untuk menyaring darah dan membuang produk sisa di urin.

Kelainan diabetes yang sering menimbulkan penyakit ginjal kronik adalah nefropati diabetik. Diperkirakan sekitar 40% pasien penyakit ginjal kronik terjadi karena nefropati diabetik tersebut. Awal gejala nefropati diabetik ini ditandai oleh ‘proteinuria’, yaitu keadaan ditemukannya protein dalam urin melalui hasil pemeriksaan laboraturium. Proses dari mulai terdeteksinya proteinuria hingga terjadinya nefropati diabetik dapat berlangsung dari bulan hingga bertahun-tahun.

Gejala klasik yang sering timbul pada penderita diabetes, selain banyak minum, banyak kencing, cepat lapar dapat diserati berat badan menurun. Gejala lainnya yang bisa muncul berupa gangguan saraf tepi seperti kesemutan di malam hari, gangguan penglihatan, gatal di daerah kemaluan, bisul atau luka yang lama sembuh, gangguan ereksi pada pria dan keputihan pada wanita. Jika kelainan ini tidak ditangani dengan segera maka bisa menimbulkan berbagai komplikasi pada pembuluh darah otak (stroke), pembuluh darah mata (gangguan penglihatan), pembuluh darah jantung (penyakit jantung koroner), pembuluh darah ginjal (gagal ginjal), pembuluh darah kaki (luka yang sukar sembuh).

Sedangkan untuk gejala nefropati diabetik sendiri baru akan terasa jika kerusakan ginjal telah parah seperti adanya bengkak pada kaki dan wajah, mual, muntah, lesu, sakit kepala, gatal, sering cegukan, mengalami penurunan berat badan.

Tindakan pencegahan ini perlu dilakukan agar penderita tidak masuk ke arah kerusakan yang lebih lanjut lagi. Tindakan yang perlu dilakukan diantaranya menurunkan berat badan bagi yang kegemukan hingga mencapai berat badan ideal, olahraga atau latihan fisik secara teratur seperti jalan kaki, pengaturan pola makan yang baik, menghindari stres dan melakukan kontrol kadar gula darah yang ketat. Pemeriksaan laboraturium lain yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan kadar gula darah puasa dan 2 jam sesudah makan, juga kadar gula dalam urin, dan kadar HbA1c darah.

Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi)

Penyebab Gagal Ginjal Terlalu Asin

Selain diabetes, hipertensi kini juga menjadi penyebab gagal ginjal yang terbanyak. Di Indonesia, belum ada data nasional tentang jumlah penderita hipertensi. Namun, pada studi MONICA 2000 di daerah perkotaan Jakarta dan Fakultas Kedokteran Universitas INdonesia pada 2000-2003 di daerah Lido, Kecamatan Cijeruk, ditemukan kasus hipertensi derajat II. Artinya, penderita hipertensi di daerah tersebut hanya sebagian kecil yang menjalani pengobatan masing-masing 13,3% dan 4,2%.

Walaupun tanpa dasar perhitungan angka-angka akurat, banyak sekali penderita hipertensi disekitar kita. Orang – orang yang mulai menginjak 40 tahun, mulai mengalami hipertensi. Faktor penyebab hipertensi ada berbagai macam, tetapi kebanyakan karena kebiasaan masyarakat dalam mengkonsumsi makanan asin dan menjadi penyebab gagal ginjal.

Hipertensi adalah tekanan darah sistolik >= 140 mmHg dan tekanan daah diastolik >= 90 mmHG, atau bila pasien memakai obat antihipertensi. Sebagian besar disebabkan faktor keturunan, kebiasaan makan garam atau makanan yang diasinkan atau diawetkan, stres, dan gangguan metabolisme lemak dan karbohidrat. Hipertensi juga merupakan gangguan kesehatan yang diderita 10 persen hingga 30 persen orang dewasa di seluruh negara. Sementara itu, ditemukan satu dari tiga orang di dunia mengalami tekanan darah tinggi. Semua orang yang mengidap hipertensi hanya sepertiga yang mengetahui keadaannya.

Tekanan darah tinggi yang berkelanjutan dapat merusak atau mengganggu pembuluh darah halus dalam ginjal yang lama-kelamaan dapat mengganggu kemampuan ginjal untuk menyaring darah. Kondisi tekanan darah tinggi dapat dikontrol dengan menjaga berat badan tetap ideal, berolahraga secara teratur, kontrol ke dokter secara rutin dengan mengkonsumsi obat yang diresepkan untuk mencegah atau memperlambat kerusakan ginjal ke stadium lanjut yaitu gagal ginjal.

Hipertensi yang tidak terkontrol dengan baik juga dapat mengganggu jantung dimana dapat terjadi pembengkakan jantung dan pada otak dapat menyebabkan stroke yang dapat terjadi kapan saja. Dengan demikian tekanan darah tinggi merupakan faktor utama penyebab gagal ginjal, stroke, dan serangan jantung.

Hipertensi yang sering disebut sebagai the silent killer memang menjadi momok yang cukup menakutkan. Bukan hanya orang dewasa yang bisa terserang penyakit ini, para remaja juga bisa mengidapnya. Bahkan, saat fungsi ginjal mengalami gangguan karena aliran darah ke ginjal terganggu, maka tekanan darah pun akan meningkat dan dapat menimbulkan hipertensi.

Hubungan timbal balik antara hipertensi dan penyakit ginjal bahkan sudah terbukti. Hipertensi yang melebihi 140/90 mmHg akan menyebabkan kerusakan pada bagian korteks atau lapisan luar ginjal yang akan merangsang produksi hormon renin. Kelebihan hormon ini akan menstimulasi terjadinya peningkatan tekanan darah pada mereka yang mengalami kerusakan ginjal.

Hipertensi bisa menimbulkan komplikasi ginjal dan penyakit ginjal bisa menyebabkan hipertensi. Di saat pembuluh darah menebal oleh timbunan lemak, tekanan darah pun meningkat. Akibatnya, aliran darah ke seluruh tubuh berkurang, termasuk aliran darah ke ginjal. Hal ini menyebabkan komplikasi hipertensi berupa gagal ginjal. Hipertensi dan gagal ginjal seperti siklus ‘ayam-telur’, resiko menderita hipertensi juga bisa terjadi pada penderita sakit ginjal. Jika faktor pendukung kerja ginjal, misalnya aliran darah ke ginjal, jaringan ginjal, atau saluran pembuangan ginjal rusak, maka fungsi ginjal akan terganggu, bahkan bisa berhenti sama sekali.

Kerusakan ini bisa merangsang produksi hormon renin yang menstimulasi terjadinya peningkatan tekanan darah. Sehingga terjadi hipertensi yang dapat menetap. Sebab lainnya, saat ginjal rusak, maka ekskresi air dan garam akan terganggu dan mengakibatkan isi rongga pembuluh darah meningkat. Komplikasi ini bisa dicegah dengan mengontrol tekanan darah secara rutin dan mempertahankannya pada batas normal, yaitu dibawah 120/80 mmHg. Sedangkan untuk mengobati komplikasi ini, ada lebih dari satu macam obat. Sehingga perlu diwaspadai pemilihan obat, karena ada obat tertentu yang toksik pada ginjal dan malah menjadi penyebab gagal ginjal.

Penyebab Gagal Ginjal – bersambung

Penyebab Gagal Ginjal (Bagian 4) | Penyebab Gagal Ginjal (Bagian 6)

Penyebab Gagal Ginjal dari Segi Penyakit 

Beberapa jenis penyakit tertentu yang diderita seseorang dapat

meningkatkan resiko terjadinya penyakit ginjal kronik. Tanpa kita

sadari, beberapa penyakit tersebut menimbulkan efek berantai sehingga

pada akhirnya menjadi penyebab gagal ginjal.

Mari kita bahas jenis penyakit yang dapat menjadi penyebab gagal

ginjal :

Kencing Manis (Diabetes Mellitus)

Saat ini, diabetes merupakan penyebab gagal ginjal terbanyak selain

hipertensi. Diabetes tipe 2 merupakan penyebab nomor satu penyakit

ginjal kronik. Diabetes tipe 2 banyak dipengaruhi faktor keturunan

dan pengaruh lingkungan yaitu obesitas (kegemukan), diet tinggi lemak

dan rendah serat, tubuh kurang bergerak.

Lajunya perkembangan diabetes mellitus tipe 2 ini antara lain

disebabkan oleh pengingkatan populasi usia lanjut, masalah kegemukan

atau obesitas, dan perubahan gaya hidup.

Penyakit kencing manis merupakan masalah kesehatan yang cukup serius.

Jumlah penderitanya makin bertambah, terdapat sekitar 177 juta

penderita diabetes mellitus tipe 2. Di Asia sendiri, penderita

diabetes mellitus tipe 2 terus bertambah tiap tahunnya, demikian pula

jumlah penderita di Indonesia yang pada tahun 2005 tercatat oleh

World Health Organization (WHO) sebagai penderita terbanyak keempat

di dunia.

Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah penderita diabetes

mellitus nya tinggi dikarenakan kebiasaan masyarakat Indonesia yang

gemar meminum teh manis, kopi manis, sirup dan soft drink. Semua

minuman manis banyak digemari disini.

Diabetes mellitus adalah suatu penyakit atau gangguan metabolisme

kronis dengan banyak penyebab yang ditandai dengan tingginya disertai

dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein sebagai

gangguan fungsi hormon insulin yang diproduksi oleh kelenjar

pankreas.

Diabetes merupakan the great imitator, karena penyakit ini dapat

mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan.

Gejalanya sangat bervariasi. Diabetes mellitus dapat timbul secara

perlahan-lahan sehingga pasien tidak menyadari akan adanya perubahan

seperti minum yang menjadi lebih banyak, buang air kecil lebih sering

ataupun berat badan yang menurun. Gejala tersebut dapat berlangsung

lama tanpa diperhatikan, sampai kemudian orang tersebut pergi ke

dokter dan diperiksa kadra glukosa darahnya. Dengan mengendalikan

kadar gula darah, resiko terjadinya kerusakan ginjal dapat dicegah.

Pada penyakit diabetes terjadi gangguan pengolahan glukosa dalam

darah oleh tubuh, yang lama-kelamaan dapat menyebabkan kerusakan pada

ginjal dan akhirnya dapat menjadi penyakit ginjal kronik. Kadar

glukosa yang tinggi dalam darah tersebut, bila tidak terkontrol dapat

merusak pembuluh darah ginjal dalam kurun bertahun-tahun sehingga

menurunkan kemampuan ginjal untuk menyaring darah dan membuang produk

sisa di urin.

Kelainan diabetes yang sering menimbulkan penyakit ginjal kronik

adalah nefropati diabetik. Diperkirakan sekitar 40% pasien penyakit

ginjal kronik terjadi karena nefropati diabetik tersebut. Awal gejala

nefropati diabetik ini ditandai oleh ‘proteinuria’, yaitu keadaan

ditemukannya protein dalam urin melalui hasil pemeriksaan

laboraturium. Proses dari mulai terdeteksinya proteinuria hingga

terjadinya nefropati diabetik dapat berlangsung dari bulan hingga

bertahun-tahun.

Gejala klasik yang sering timbul pada penderita diabetes, selain

banyak minum, banyak kencing, cepat lapar dapat diserati berat badan

menurun. Gejala lainnya yang bisa muncul berupa gangguan saraf tepi

seperti kesemutan di malam hari, gangguan penglihatan, gatal di

daerah kemaluan, bisul atau luka yang lama sembuh, gangguan ereksi

pada pria dan keputihan pada wanita. Jika kelainan ini tidak

ditangani dengan segera maka bisa menimbulkan berbagai komplikasi

pada pembuluh darah otak (stroke), pembuluh darah mata (gangguan

penglihatan), pembuluh darah jantung (penyakit jantung koroner),

pembuluh darah ginjal (gagal ginjal), pembuluh darah kaki (luka yang

sukar sembuh).

Sedangkan untuk gejala nefropati diabetik sendiri baru akan terasa

jika kerusakan ginjal telah parah seperti adanya bengkak pada kaki

dan wajah, mual, muntah, lesu, sakit kepala, gatal, sering cegukan,

mengalami penurunan berat badan.

Tindakan pencegahan ini perlu dilakukan agar penderita tidak masuk ke

arah kerusakan yang lebih lanjut lagi. Tindakan yang perlu dilakukan

diantaranya menurunkan berat badan bagi yang kegemukan hingga

mencapai berat badan ideal, olahraga atau latihan fisik secara

teratur seperti jalan kaki, pengaturan pola makan yang baik,

menghindari stres dan melakukan kontrol kadar gula darah yang ketat.

Pemeriksaan laboraturium lain yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan

kadar gula darah puasa dan 2 jam sesudah makan, juga kadar gula dalam

urin, dan kadar HbA1c darah.

Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi)

Selain diabetes, hipertensi kini juga menjadi penyebab gagal ginjal

yang terbanyak. Di Indonesia, belum ada data nasional tentang jumlah

penderita hipertensi. Namun, pada studi MONICA 2000 di daerah

perkotaan Jakarta dan Fakultas Kedokteran Universitas INdonesia pada

2000-2003 di daerah Lido, Kecamatan Cijeruk, ditemukan kasus

hipertensi derajat II. Artinya, penderita hipertensi di daerah

tersebut hanya sebagian kecil yang menjalani pengobatan masing-masing

13,3% dan 4,2%.

Walaupun tanpa dasar perhitungan angka-angka akurat, banyak sekali

penderita hipertensi disekitar kita. Orang – orang yang mulai

menginjak 40 tahun, mulai mengalami hipertensi. Faktor penyebab

hipertensi ada berbagai macam, tetapi kebanyakan karena kebiasaan

masyarakat dalam mengkonsumsi makanan asin.

Hipertensi adalah tekanan darah sistolik >= 140 mmHg dan tekanan daah

diastolik >= 90 mmHG, atau bila pasien memakai obat antihipertensi.

Sebagian besar disebabkan faktor keturunan, kebiasaan makan garam

atau makanan yang diasinkan atau diawetkan, stres, dan gangguan

metabolisme lemak dan karbohidrat. Hipertensi juga merupakan gangguan

kesehatan yang diderita 10 persen hingga 30 persen orang dewasa di

seluruh negara. Sementara itu, ditemukan satu dari tiga orang di

dunia mengalami tekanan darah tinggi. Semua orang yang mengidap

hipertensi hanya sepertiga yang mengetahui keadaannya.

Tekanan darah tinggi yang berkelanjutan dapat merusak atau mengganggu

pembuluh darah halus dalam ginjal yang lama-kelamaan dapat mengganggu

kemampuan ginjal untuk menyaring darah. Kondisi tekanan darah tinggi

dapat dikontrol dengan menjaga berat badan tetap ideal, berolahraga

secara teratur, kontrol ke dokter secara rutin dengan mengkonsumsi

obat yang diresepkan untuk mencegah atau memperlambat kerusakan

ginjal ke stadium lanjut yaitu gagal ginjal.

Hipertensi yang tidak terkontrol dengan baik juga dapat mengganggu

jantung dimana dapat terjadi pembengkakan jantung dan pada otak dapat

menyebabkan stroke yang dapat terjadi kapan saja. Dengan demikian

tekanan darah tinggi merupakan faktor utama penyebab stroke, serangan

jantung dan gagal ginjal.

Hipertensi yang sering disebut sebagai the silent killer memang

menjadi momok yang cukup menakutkan. Bukan hanya orang dewasa yang

bisa terserang penyakit ini, para remaja juga bisa mengidapnya.

Bahkan, saat fungsi ginjal mengalami gangguan karena aliran darah ke

ginjal terganggu, maka tekanan darah pun akan meningkat dan dapat

menimbulkan hipertensi.

Hubungan timbal balik antara hipertensi dan penyakit ginjal bahkan

sudah terbukti. Hipertensi yang melebihi 140/90 mmHg akan menyebabkan

kerusakan pada bagian korteks atau lapisan luar ginjal yang akan

merangsang produksi hormon renin. Kelebihan hormon ini akan

menstimulasi terjadinya peningkatan tekanan darah pada mereka yang

mengalami kerusakan ginjal.

Hipertensi bisa menimbulkan komplikasi ginjal dan penyakit ginjal

bisa menyebabkan hipertensi. Di saat pembuluh darah menebal oleh

timbunan lemak, tekanan darah pun meningkat. Akibatnya, aliran darah

ke seluruh tubuh berkurang, termasuk aliran darah ke ginjal. Hal ini

menyebabkan komplikasi hipertensi berupa gagal ginjal. Hipertensi dan

gagal ginjal seperti siklus ‘ayam-telur’, resiko menderita hipertensi

juga bisa terjadi pada penderita sakit ginjal. Jika faktor pendukung

kerja ginjal, misalnya aliran darah ke ginjal, jaringan ginjal, atau

saluran pembuangan ginjal rusak, maka fungsi ginjal akan terganggu,

bahkan bisa berhenti sama sekali.

Kerusakan ini bisa merangsang produksi hormon renin yang menstimulasi

terjadinya peningkatan tekanan darah. Sehingga terjadi hipertensi

yang dapat menetap. Sebab lainnya, saat ginjal rusak, maka ekskresi

air dan garam akan terganggu dan mengakibatkan isi rongga pembuluh

darah meningkat. Komplikasi ini bisa dicegah dengan mengontrol

tekanan darah secara rutin dan mempertahankannya pada batas normal,

yaitu dibawah 120/80 mmHg. Sedangkan untuk mengobati komplikasi ini,

ada lebih dari satu macam obat. Sehingga perlu diwaspadai pemilihan

obat, karena ada obat tertentu yang toksik pada ginjal.

Penyebab Gagal Ginjal – bersambung

This entry was posted in Penyakit Ginjal. Bookmark the permalink.