Penyebab Gagal Ginjal (Bagian 6)

Penyebab Gagal Ginjal dari Segi Penyakit

Ini lanjutan dari post sebelumnya dan merupakan bagian kedua dari penyebab gagal ginjal berdasarkan penyakit yang diderita seseorang :

Kegemukan (Obesitas)

Penyebab Gagal Ginjal Kegemukan

Obesitas merupakan hal klasik yang banyak dialami masyarakat Indonesia mulai dari anak-anak sampai dengan lanjut usia, terutama yang hidup di perkotaan. Gaya hidup dan pola makan merekalah yang menjadi penyebabnya. Makan dalam porsi besar, makan larut malam, dan gemar dengan fast food. Tanpa disadari, obesitas menjadi awal penyebab gagal ginjal.

Salah satu faktor resiko penting penyebab penyakit ginjal kronik yang masih dapat dicegah adalah kegemukan (obesitas).

Pengukuran indeks massa tubuh (Body Mass Index/BMI) :

Rumus BMI = Berat Badan (kg) / [Tinggi Badan (meter)]²

BMI < 18.5 = berat badan kurang (underweight)
BMI 18.5 – 24 = normal
BMI 25 – 29 = kelebihan berat badan (overweight)
BMI > 30 = obesitas

Obesitas (BMI 30 atau lebih) merupakan salah satu faktor resiko kuat terhadap timbulnya penyakit ginjal kronik. Individu dalam segala usia dengan BMI 30 atau lebih, memiliki resiko tiga sampai empat kali lebih besar, sedangkan yang memiliki BMI 25 atau lebih pada usia 20 tahun ke atas (pria atau wanita) juga beresiko tiga kali lebih besar.

Keterkaitan antara obesitas dengan penyakit ginjal kronik sangat besar, khususnya pada individu yang mengalami penyakit ginjal akibat diabetes. Bahkan individu yang tidak memiliki masalah tekanan darah tinggi (hipertensi) dan diabetes – yang juga sebagai faktor resiko – tetapi mengalami obesitas pada usia 20 tahun atau lebih, juga memiliki resiko tiga kali lebih besar mengalami penyakit ginjal kronik.

Masalah obesitas dan penyakit ginjal kronik telah meningkat secara pesat dalam beberapa tahun belakangan ini, tetapi baru beberapa studi saja yang meneliti adanya keterkaitan erat antara kedua hal ini. Penyakit ginjal kronik merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia yang jumlahnya terus meningkat. Mengingat tingginya angka Penyakit Ginjal Kronik Tahap Terminal dan angka kematian akibat penyakit ini, maka upaya yang paling penting adalah mengenali dan mengatasi faktor penyebabnya.

Obesitas merupakan salah satu faktor resiko penyakit ginjal kronik yang masih dapat dicegah dan dari hasil penelitian memperkirakan obesitas merupakan penyebab 15% kasus penyakit ginjal kronik pada pria dan 11% kasus penyakit ginjal kronik pada wanita. Tingginya resiko penyakit ginjal kronik pada obesitas terutama dipengaruhi oleh hipertensi dan/atau diabetes tipe 2.

Peradangan Hati (Hepatitis)

Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa orang yang terinfeksi virus hepatitis C beresiko lebih tinggi terkena kanker ginjal.

Sebuah studi yang melibatkan lebih dari 67.000 pasien menemukan bahwa 0,6% pasien dengan hepatitis C mengalami kanker ginjal. Jumlah ini dua kali lipat dibandingkan pasien lain. Peningkatan resiko ini juga tetap sama setelah peneliti menyesuaikan faktor-faktor statistik seperti umur, jenis kelamin, dan ras.

Hasil ini menambah literatur yang menunjukkan bahwa virus hepatitis C menyebabkan penyakit yang meluas di luar hati dan memungkinkan menjadi penyebab gagal ginjal.

Koinfeksi hepatitis dikaitkan dengan 15% peningkatan resiko proteinuria dan 64% peningkatan resiko gagal ginjal akut. Para peneliti juga menemukan peningkatan resiko masalah ginjal dengan obat indinavir.

Pedoman HIV sudah menekankan bahwa koinfeksi hepatitis C adalah faktor resiko terhadap penyakit ginjal dan menyarankan dokter untuk secara rutin melakukan tes terhadap proteinuria dan memantau fungsi ginjal pasien dengan estimated glomerular filtration rate (eGFR).

Kompleks-kompleks imun pada virus hepatitis B dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal karena kompleks imun ini dapat diendapkan pada glomerulus sehingga terjadi glomerulonefritis.

Pada kerusakan hati lanjut dapat menyebabkan penurunan aliran darah ke ginjal yang berakibat penurunan proses filtrasi glomerulus sehingga terjadi gangguan fungsi ginjal akut berupa oliguria, peningkatan ureum dan kreatinin tanpa adanya kelainan organik pada ginjal.

Gagal Jantung Kronik

Gagal jantung berat menyebabkan curah jantung rendah yang berlangsung lama sehingga menyebabkan hipotensi dan hipoperfusi (berkurangnya aliran) yang akan mengaktifkan sistem di ginjal untuk menahan air dan garam sehingga terjadi kerusakan mikro dan makrovaskular, terjadi kongesti ginjal. Yang lama kelamaan akan mengganggu fungsi ginjal karena alirannya terganggu dan menjadi penyebab gagal ginjal.

Penyebab Gagal Ginjal – bersambung

Penyebab Gagal Ginjal (Bagian 5) | Penyebab Gagal Ginjal (Bagian 7)

Kegemukan (Obesitas) 

Obesitas merupakan hal klasik yang banyak dialami masyarakat

Indonesia mulai dari anak-anak sampai dengan lanjut usia, terutama

yang hidup di perkotaan. Gaya hidup dan pola makan merekalah yang

menjadi penyebabnya. Makan dalam porsi besar, makan larut malam, dan

gemar dengan fast food.

Salah satu faktor resiko penting penyebab penyakit ginjal kronik yang

masih dapat dicegah adalah kegemukan (obesitas).

Pengukuran indeks massa tubuh (Body Mass Index/BMI) :

Rumus BMI = Berat Badan (kg) / [Tinggi Badan (meter)]²

BMI < 18.5 = berat badan kurang (underweight)
BMI 18.5 – 24 = normal
BMI 25 – 29 = kelebihan berat badan (overweight)
BMI > 30 = obesitas

Obesitas (BMI 30 atau lebih) merupakan salah satu faktor resiko kuat

terhadap timbulnya penyakit ginjal kronik. Individu dalam segala usia

dengan BMI 30 atau lebih, memiliki resiko tiga sampai empat kali

lebih besar, sedangkan yang memiliki BMI 25 atau lebih pada usia 20

tahun ke atas (pria atau wanita) juga beresiko tiga kali lebih besar.

Keterkaitan antara obesitas dengan penyakit ginjal kronik sangat

besar, khususnya pada individu yang mengalami penyakit ginjal akibat

diabetes. Bahkan individu yang tidak memiliki masalah tekanan darah

tinggi (hipertensi) dan diabetes – yang juga sebagai faktor resiko –

tetapi mengalami obesitas pada usia 20 tahun atau lebih, juga

memiliki resiko tiga kali lebih besar mengalami penyakit ginjal

kronik.

Masalah obesitas dan penyakit ginjal kronik telah meningkat secara

pesat dalam beberapa tahun belakangan ini, tetapi baru beberapa studi

saja yang meneliti adanya keterkaitan erat antara kedua hal ini.

Penyakit ginjal kronik merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia

yang jumlahnya terus meningkat. Mengingat tingginya angka Penyakit

Ginjal Kronik Tahap Terminal dan angka kematian akibat penyakit ini,

maka upaya yang paling penting adalah mengenali dan mengatasi faktor

penyebabnya.

Obesitas merupakan salah satu faktor resiko penyakit ginjal kronik

yang masih dapat dicegah dan dari hasil penelitian memperkirakan

obesitas merupakan penyebab 15% kasus penyakit ginjal kronik pada

pria dan 11% kasus penyakit ginjal kronik pada wanita. Tingginya

resiko penyakit ginjal kronik pada obesitas terutama dipengaruhi oleh

hipertensi dan/atau diabetes tipe 2.

Hepatitis

Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa orang yang terinfeksi virus

hepatitis C beresiko lebih tinggi terkena kanker ginjal.

Sebuah studi yang melibatkan lebih dari 67.000 pasien menemukan bahwa

0,6% pasien dengan hepatitis C mengalami kanker ginjal. Jumlah ini

dua kali lipat dibandingkan pasien lain. Peningkatan resiko ini juga

tetap sama setelah peneliti menyesuaikan faktor-faktor statistik

seperti umur, jenis kelamin, dan ras.

Hasil ini menambah literatur yang menunjukkan bahwa virus hepatitis C

menyebabkan penyakit yang meluas di luar hati.

Koinfeksi hepatitis dikaitkan dengan 15% peningkatan resiko

proteinuria dan 64% peningkatan resiko gagal ginjal akut. Para

peneliti juga menemukan peningkatan resiko masalah ginjal dengan obat

indinavir.

Pedoman HIV sudah menekankan bahwa koinfeksi hepatitis C adalah

faktor resiko terhadap penyakit ginjal dan menyarankan dokter untuk

secara rutin melakukan tes terhadap proteinuria dan memantau fungsi

ginjal pasien dengan estimated glomerular filtration rate (eGFR).

Kompleks-kompleks imun pada virus hepatitis B dapat menyebabkan

kerusakan pada ginjal karena kompleks imun ini dapat diendapkan pada

glomerulus sehingga terjadi glomerulonefritis.

Pada kerusakan hati lanjut dapat menyebabkan penurunan aliran darah

ke ginjal yang berakibat penurunan proses filtrasi glomerulus

sehingga terjadi gangguan fungsi ginjal akut berupa oliguria,

peningkatan ureum dan kreatinin tanpa adanya kelainan organik pada

ginjal.

Gagal Jantung Kronik

Gagal jantung berat menyebabkan curah jantung rendah yang berlangsung

lama sehingga menyebabkan hipotensi dan hipoperfusi (berkurangnya

aliran) yang akan mengaktifkan sistem di ginjal untuk menahan air dan

garam sehingga terjadi kerusakan mikro dan makrovaskular, terjadi

kongesti ginjal. Yang lama kelamaan akan mengganggu fungsi ginjal

karena alirannya terganggu.

This entry was posted in Penyakit Ginjal. Bookmark the permalink.