Penyebab Serangan Jantung (Bagian 10)

N. Kegemukan (Obesitas)

Banyak orang menyebut nyeri dada lebih sebagai kram jantung. Sementara dalam dunia medis, para ahli jantung menyebutnya dengan nama angina pectoris. Penyebab terjadinya kram jantung adalah adanya penyumbatan dalam pembuluh jantung sehingga asupan oksigen berkurang dan jantung menderita hipoksia. Penyumbatan itu kebanyakan akibat penumpukan lemak dan kolesterol dalam aliran darah. Namun, hal ini bisa juga terjadi karena ada pengapuran pada pembuluh tersebut, penggumpalan darah, aliran dalam darah yang tidak mengalir sempurna.

Bagi mereka yang kegemukan, resiko terkena kram jantung jauh lebih besar karena penderita obesitas atau kegemukan memiliki lemak berlebih. Juga akan begitu bagi penderita diabetes mellitus, resiko terkena angina pectoris besar pula. Tekanan gula yang tinggi akan menghambat penyaluran udara ke pembuluh jantung.

Angina pectoris juga merupakan resiko keturunan (genetik). Artinya, bila ada salah satu anggota keluarga yang sudha pernha terjangkit penyakit ini, anak cucunya pun bisa mengalami hal yang sama. Faktor keturunan akan lebih cepat terlihat gejalanya daripada faktor yang lainnya. Kalau umumnya angina pectoris baru terlihat pada usia 50 tahun keatas, tetapi jika disebabkan karena faktor keturunan angina pectoris bisa lebih muda lagi.

Pada usia 35 tahun sudah ada orang yang terserang angina pectoris. Parahnya lagi, seiring pertambahan usia, intensitas serangan penyakit ini semakin bertambah. Namun, meski menakutkan, penyakit ini nyatanya tetap bisa diobati. Syaratnya, pasien tidak terlambat datang ke ahlinya. Dengan melebarkan pembuluh jantung yang menyempit, sakit jantung bisa diobati. Melebarkan pembuluh ini bisa dilakukan dengan dua cara, yakni dengan berobat jalan dan pemasangan alat untuk mempertahankan patensi aliran darah (sebagian orang menyebutnya dengan cincin yang sebenarnya lebih tepat disebut gorong-gorong).

Berobat jalan diberikan bila penyakit ini baru memasuki tahap awal. Cirinya, penyumbatan pembuluh belum parah dan masih bisa dikembalikan. Pengobatan dilakukan dengan pemberian aspirin berdosis rendah mencegah timbulnya sumbatan aliran darah akibat bekuan darah oleh trombosit.

Namun, pemberian aspirin ini tidak boleh sembarangan. Pemberian aspiran harus berada dalam pengawasan dokter. Bila tanpa pengawasan dokter, dapat menimbulkan perdarahan lambung. Adapun penyembuhan lewat kateterisasi ditujukan bagi pasien yang telah mengalami penyempitan parah, yakni memasukkan selang khusus ke pembuluh darah. Selang itu ditiupkan untuk melebarkan penyempitan pembuluh jantung. Peniupan ini biasa disebut juga dengan nama balonisasi. Setelah peniupan, dokter akan melakukan tindakan tambahan agar hasil peniupan tersebut lebih sempurna, yakni dengan pemasangan ring atau cincin penyanggah, yang biasa disebut stent. Stent ini berguna menjaga intensitas aliran darah koroner hasilnya akan lebih memuaskan bila dilakukan saat serangan masih awal semisal dibawah 3 jam dari saat serangan.

Pada sumbatan yang sudah lama dan telah mengeras, untuk menjaga intensitas aliran darah ini bisa juga dilakukan dengan cara lain, yaitu pengeboran kerak di dalam pembuluh darah (directional atherectomy). Hal ini dilakukan agar pembuluh mampu kembali mengalirkan darah.

Jika Anda memiliki berta badan berlebih, waspadalah jangan sampai Anda tergolong obesitas. Sebab ragam penyakit bakal mudah menyerang. Pada tingkatan tertentu bahkan menjadi penyebab serangan jantung koroner. Parahnya, penyakit ini merupakan salah satu pembunuh nomer satu di hampir semua negara berkembang termasuk Indonesia.

Bahkan dewasa ini, obesitas tidak hanya menjangkiti pada usia dewasa dan produktif. Tapi juga menyerang di usia anak-anak maupun remaja. Pola hidup masyarakat modern yang jauh berubah, merupakan faktor utama timbulnya obesitas. Diantaranya karena aktivitas kebanyakan di dalam ruangan dan tidak bergerak. Belum lagi karena dimanja fasilitas yang memudahkan semua aktifitas. Sehingga orang merasa tidak perlu kerja berat mengeluarkan keringat.

Beda dengan 20 tahun lalu, dimana masih ditemukan rutinitas di tempat kerja menggunakan sepeda atau jalan kaki. Saat itu sangat langka kita temukan adanya penyakit obesitas. Di Indonesia dalam kurun waktu dua dekade terakhir terjadi peningkatan obesitas 2-3 kali. Resiko kematian pun pada penderita ini meningkat 2-3 kali.

Selain karena kurang gerak (olah raga), penyebab utama obesitas adalah pola makan yang tidak seimbang. Ditambah banyaknya sajian makanan fast food (cepat saji) di hampir semua sudut kota. Kebiasaan makan makanan enak, menyebabkan asupan kalori berlebih. Akan lebih baik jika remaja mulai mengkonsumsi makanan tradisional yang rendah lemak.

Obesitas sendiri terbagi dua jenis. Diantaranya kegemukan sentral atau disebut juga Android (seperti buah apel), dan kegemukan Perifer atau Gynecoid (seperti buah pir).

Kegemukan sentral tampak dari perut yang buncit. Sementara kegemukan periper tampak dari pinggang. Seperti buah pir yang membesar di bagian bawah, namun ini tidak berbahaya.

Yang berbahaya adalah kegemukan sentral. Untuk mengidentifikasi apakah bobot orang tersebut termasuk obesitas atau tidak, dapat dilakukan dengan mengukur lingkar perut yang bersangkutan. Untuk wanita lingkar perut ideal dibawah 80 cm dan pria dibawah 90 cm. Jika lebih daripada itu, maka merupakan suatu tanda obesitas.

Lingkar pinggang merupakan hal yang penting. Selama ini dokter melakukan pengecekan kolesterol, tekanan darah dan tingkat kegemukan untuk mengukur resiko penyakit jantung, yang selama ini dikenal sebagai pembunuh nomer 1 di beberapa negara.

Kebiasaan merokok tetap menjadi penyebab utama penyakit jantung, namun masalah kegemukan mulai mengejar peringkat tersebut. Statistik mulai menunjukkan dengan jelas, tempat lemak bercokol dalam tubuh merupakan hal yang harus diwaspadai karena bentuk tubuh ‘apel’ dimana lemak berkumpul di perut atau bagian tengah badan lebih berbahaya dibandingkan bentuk tubuh ‘pir’ yang besar di bagian pantat atau paha.

Perhatikan ukuran lingkar pinggang dan BMI (Body Mass Index atau indeks masa tubuh), rasio dari tinggi dan berat badan yang digunakan secara umum untuk mengetahui seseorang mengalami kelebihan berat badan atau kegemukan. Pria-pria berperut buncit memiliki kemungkinan meninggal lebih cepat.

Orang-orang yang bertubuh “apel” memiliki kecenderungan untuk menderita simptom jantung spesifik yang bernama disfungsi ventrikular kiri dan disfungsi diastolik yang menjadi tolok ukur kinerja jantung dalam memompa darah. Orang yang fungsi diastoliknya rendah dan memiliki ukuran pinggang besar, berkemungkinan meninggal lebih awal.

Ada peningkatan resiko terkena serangan jantung pada pasien-pasien dengan berat badan berlebih. Banyak yang meyakini bahwa serangan atau gagal jantung diakibatkan oleh diabetes, hipertensi, dan gangguan arteri koroner yang dipicu atau terkait dengan obesitas. Namun begitu, obesitas itu sendiri, dan bukan hanya gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan olehnya, dapat mengakibatkan serangan jantung. Kelebihan berat badan (bahkan pada mereka yang tidak digolongkan sebagai penderita obesitas) secara substansial meningkatkan resiko serangan jantung.

Setelah mempertimbangkan faktor-faktor resiko seperti diabetes, gangguan arteri koroner, atau tekanan darah tinggi, ditemukan bahwa mereka yang memiliki kelebihan berat badan memiliki faktor resiko terkena serangan jantung 34% lebih besar daripada mereka yang memiliki berat badan normal. Sementara pada penderita diabetes faktor resikonya 14% lebih besar. Kita bisa bayangkan jika seseorang obesitas dan diabetes sekaligus hipertensi, resiko serangan jantungnya berlipat ganda. Jadi walaupun sehat, mereka yang obesitas atau hanya kelebihan berat badan lebih beresiko terkena serangan jantung yang dikenal dengan Sindroma Metabolik dan kondisi ini sering luput dari perhatian.

Kita tahu bahwa obesitas menyebabkan stres dan penebalan otot jantung, khususnya di ventrikel, bilik jnatung sebelah kiri yang memompa darah ke seluruh tubuh. Penebalan otot ventrikel kiri pada akhirnya akan menyebabkan kekerapan serangan jantung dan gagal jantung semakin besar.

Penyebab Serangan Jantung (Bagian 9)

This entry was posted in Penyakit Jantung. Bookmark the permalink.