Penyebab Serangan Jantung (Bagian 12)

P. Komplikasi Ginjal

Seiring dengan pertambahan usia, fungsi ginjal pun dapat menurun. Kecelakaan, cedera, beberapa jenis operasi, juga dapat mengganggu atau merusak ginjal. Jenis penyakit-penyakit tertentu dapat meningkatkan resiko terjadinya penyakit ginjal kronis (PGK), seperti penyakit lupus, anemia sel sabit (sickle cell anemia), kanker, AIDS, hepatitis C dan gagal jantung berat. Namun, sebaliknya gagal ginjal memiliki efek samping kerusakan pada jantung atau yang sering disebut gagal jantung.

Penderita PGK juga beresiko mengalami gagal jantung atau penyakit jnatung iskemik. Gagal jantung adalah suatu keadaan dimana jantung tidak dapat memompa darah dalam jumlah yang memadai ke seluruh tubuh. Jantung tetap bekerja tetapi kekuatan memompa atau daya tampungnya berkurang. Gagal jantung bisa menyerang jantung bagian kiri, bagian kanan atau keduanya. Gagal jantung pada PGK biasanya didahului oleh anemia. Jika tidak diobati, anemia pada PGK bisa menimbulkan masalah yang serius. Jumlah sel darah merah yang rendah akan memicu jantung sehingga jantung bekerja lebih keras. Hal ini menyebabkan pelebaran bilik jatung kiri yang disebut LVH (left ventricular hypertrophy). Lama kelamaan, otot jantung akan melemah dan tidak mampu memompa darah sebagaimana mestinya sehingga terjadilah gagal jantung. Hal ini dikenal dengan nama sindrom kardiorenal.

Ketika Anda mengalami apa yang disebut sindrom kardiorenal akan mengalami berbagai gejala seperti :
* Sesak napas
* Merasa lelah
* Tidak ada nafsu makan
* Bengkak di pergelangan kaki, kaki, tungkai (kadang perut)
* Batuk (yang semakin memburuk pada malam hari atau ketika berbaring)
* Berat badan bertambah
* Sering berkemih

Berat ringannya gagal jantung dikelompokkan pada NYHA (New York Heart Association), biasanya dikelompokkan berdasarkan pengaruhnya terhadap kegiatan Anda sehari-hari :
* Derajat 1 : Tanpa keluhan – Anda masih bisa melakukan aktivitas fisik sehari-hari tanpa disertai kelelahan ataupun sesak napas.
* Derajat 2 : Ringan – aktivitas fisik ringan / sedang menyebabkan kelelahan atau sesak napas, tetapi jika aktivitas ini dihentikan maka keluhan pun hilang.
* Derajat 3 : Sedang – aktivitas fisik ringan / sedang menyebabkan kelelahan atau sesak napas, tetapi keluhan akan hilang jika aktivitas dihentikan.
* Derajat 4 : Berat – tidak dapat melakukan aktivitas fisik sehari-hari, bahkan pada saat istirahat pun keluhan tetap ada dan semakin berat jika melakukan aktivitas.

Selain memperoleh keterangan yang mendukung dari hasil wawancara dan pemeriksaan fisik, dokter biasanya melakukan serangkaian pemeriksaan guna menunjang diagnosis gagal jantung :
* EKG (elektrokardiogram) : alat untuk mengukur kecepatan dan keteraturan denyut jantung.
* Echokardiogram : alat diagnosa yang menggunakan gelombang suara  untuk mengetahui ukuran dan bentuk jantung, serta menilai keadaan ruang jantung dan fungsi katup jantung. Sangat bermanfaat untuk menegakkan diagnosis gagal jantung.
* Foto rontgen dada : untuk mengetahui adanya pembesaran jantung, penimbunan cairan di paru-paru atau penyakit paru lainnya.
* Tes darah BNP : untuk mengukur kadar hormon BNP (B-type natriuretic peptide) yang pada gagal jantung akan meningkat.

Bagi penderita gagal jantung harus melakukan perubahan gaya hidup dengan cara diet rendah garam, membatasi asupan cairan dan berhenti merokok. Obat-obat yang diberikan dokter biasanya berupa :
* Diuretik : untuk mengurangi penimbunan cairan dan pembengkakan.
* Penghambat ACE (ACE inhibitors) atau golongan sartan : untuk menurunkan tekanan darah dan mengurangi beban kerja jantung.
* Penyekat beta (beta blockers) : untuk mengurangi denyut jantung dan menurunkan tekanan darah agar beban jantung berkurang.
* Digoksin : memperkuat denyut jantung dan daya pompa jantung.

Penyebab Serangan Jantung (Bagian 11)

This entry was posted in Penyakit Jantung. Bookmark the permalink.