Penyebab Serangan Jantung (Bagian 6)

I. Pengaruh Flu

Para penderita jantung mesti berhati-hati bila terserang flu. Sebab, berdasarkan studi terbaru, virus flu dapat memicu serangan jantung. Sejumlah ilmuwan memperingatkan agar para pengidap penyakit jantung segera mendapat vaksin flu guna mencegah gangguan kesehatan yang lebih parah. Terlebih saat musim penyebaran flu mulai datang di negara-negara empat musim, sering setelah musim dingin, yang akhirnya menimbulkan gangguan jantung berupa kardiomiopati, suatu gagal jantung yang mekanismenya agak kompleks seringkali dipicu oleh virus, yang menimbulkan inflamasi selanjutnya kardiomiopati, pada dasarnya penyakit jantung sifatnya degeneratif (inflamasi kronik) termasuk oksidasi (karat) pemicu arteriosklerosis. Di bandara atau tempat keramaian di negara-negara maju dibuka kios 2 untuk vaksinasi flu, untuk mencegah efeknya yang begitu hebat.

Ada kaitan yang erat antara penyakit flu dengan serangan jantung. Lebih dari setengah kematian pasien flu disebabkan karena serangan jantung.

Flu dapat memperburuk kondisi kesehatan seseorang. Virus flu dapat mengakibatkan peradangan (inflamasi) dalam tubuh, khususnya organ paru-paru. Pasien jantung adalah salah satu yang paling rentan selama pandemi flu. Pada pasien jantung, virus dapat menimbulkan pembengkakan di sekitar jantung atau arteri yang menimbulkan gumpalan. Inilah yang menyebabkan serangan jantung.

Hanya saja, para ahli belum mengetahui secara pasti temuan itu juga berlaku untuk orang yang tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Kemungkinan itu bisa muncul, terutama bila orang tersebut memiliki riwayat tekanan darah tinggi atau kegemukan.

J. Obat-obatan yang Tidak Bersahabat

Pemakaian obat-obatan juga dapat menyebabkan rusaknya jantung. Salah satu contoh yang harus diwaspadai adalah pemakaian obat anemia ternyata mampu menggandakan resiko serangan jantung dan stroke pada pasien pengidap diabetes dan penyakit ginjal.

Obat yang dibuat untuk melawan anemia ternyata menggandakan resiko serangan jantung dan stroke pada pasien pengidap diabetes dan penyakit ginjal tanpa meningkatkan kualitas hidup pasien.

Obat yang dipasarkan dengan nama “Aranesp” ini, seringkali diresepkan pada pasien diabetes dengan penyakit ginjal kronis serta anemia ringan.

Manfaat yang diharapkan dari obat ini lebih kecil dibandingkan resikonya. Penemuan ini menjadi bukti baru bagi dokter dan pasien dalam membuat pertimbangan. Ada persepsi kalau menangani anemia akan membuat pasien merasa lebih baik sehingga mereka memutuskan mengambil resiko. Padahal manfaatnya dalam meningkatkan kualitas hidup tidak sebesar yang kita kira, bahkan menggandakan resiko stroke Anda. Hal ini terjadi karena anggapan bahwa penyebab anemia adalah kekurangan zat besi (padahal tidak seluruhnya benar) akibatnya penambahan zat besi akan menambah kekentalan sel darah merah, kelambatan bergerak sel darah merah yang berujung kepada menurunnya kemampuan sel darah merah untuk menjalankan fungsinya sebagai pembawa oksigen utama.

Selain obat untuk anemia, berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai penelitian dan uji klinis, obat diabetes dengan nama generik Rosiglitazoline ternyata meningkatkan resiko serangan jantung. Obat produksi Glaxo Smith Kline itu tidak menunjukkan resiko kematian yang bertambah akibat dampak penyakit kardiovaskularnya. Tetapi obat ini selalu dikaitkan dengan sifat retensi cairan yang akan membebani jantung pasien gagal jantung, jadi pemilihan obat ini harus selektif, aman hanya pada pasien yang mempunyai fungsi jantung yang masih baik, hal lain obat ini dapat menyebabkan gangguan fungsi hati, padahal salah satu pemicu serangan jantung adalah sindroma metabolik yang seringkali disertai dengan perlemakan hati (fatty liver).

Sifat obat ini sebagai insulin sensitizer membuat obat ini menjadi sebenarnya cocok untuk sindroma metabolik, tetapi pemakaiannya agak terbatas pada perlemakan hati yang seringkali ada pada sindroma metabolik, perlemakan hati bukan kontra indikasi untuk pemakaian obat ini. Justru obat ini banyak direkomendasikan pada tahap awal diabetes bahkan pada pra diabetes (kondisi sebelum diabetes) pun bila didasari oleh sindroma metabolik dengan atau tanpa perlemakan hati.

Pasien usia lanjut yang mengkonsumsi rosiglitazoline memiliki resiko terkena serangan jantung lebih besar dibanding pasien yang mengkonsumsi obat sejenis merek lain. Hal ini mungkin terjadi karena pada orang tua seringkali penyakit jantung sudah ada, tetapi tidak terdeteksi dengan baik.

Penyebab Serangan Jantung (Bagian 5)

This entry was posted in Penyakit Jantung. Bookmark the permalink.