Penyebab Serangan Jantung (Bagian 9)

M. Tekanan Darah Tinggi

Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi dimana tekanan darah terus menerus tinggi selama beberapa waktu. Hal ini dapat terjadi karena jantung memompa, terlalu kuat sering diikuti dengan terlalu cepat disertai adanya atau penyempitan pembuluh darah. Sebenarnya tekanan darah kita bervariasi sepanjang hari, tekanan lebih tinggi terjadi pada pagi dan siang hari, tekanan lebih rendah terjadi pada malam hingga dini hari (irama diurnal). Pada penderita hipertensi tekanan darahnya tetap bervariasi, namun angkanya selalu lebih tinggi dari rata-rata normal.

Hipertensi sering tidak disadari oleh penderitanya karena muncul secara perlahan-lahan selama beberapa tahun dan umumnya tanpa disertai gejala. Seorang dikatakan menderita hipertensi jika tekanan darah sistoliknya 140 mmHg atau lebih, atau tekanan darah diastoliknya 90 atau lebih. Tetapi saat ini definisi darah tinggi cenderung lebih rendah menjadi 130/85 mmHg, karena begitu besarnya kontribusi hipertensi terhadap penyakit jantung. Tekanan sistolik adalah tekanan yang terjadi ketika jantung memompa darah ke seluruh tubuh. Tekanan diastolik adalah tekanan yang terjadi ketika jantung menerima darah dari seluruh tubuh.

Tugas utama jantung adalah memompa darah ke seluruh organ tubuh dan menampungnya kembali setelah dibersihkan di paru-paru. Kemampuan otot jantung melaksanakan tugas tersebut berangsur-angsur menurun sejalan dengan pertambahan usia. Penurunan kemampuan ini akan semakin mencolok bila ada keadaan lain yang turut mempengaruhi fungsi otot jantung tersebut. Misalnya, infeksi otot jantung atau selaput otot (miokarditis/perikarditis), berkurangnya oksigen karena penyempitan pembuluh darah yang memberi asupan oksigen (penyakit jantung koroner), bertambahnya massa otot karena meningkatnya tekanan jantung (hipertensi) yang dikenal dengan Left ventricle hypertrophy (LVH).

1. Gangguan fungsi diastolik

Hipertensi akan mengubah struktur / morfologi otot jantung dan berangsur-angsur akan mengurangi kemampuan elastisitasnya. Tekanan akhir relaksasi jantung turut meningkat, pengembangan jantung jadi terbatas kondisi ini akan semakin nyata pada penderita diabetes serta orang tua dan wanita sehingga menyulitkan arus balik dari paru memasuki serambi kiri jantung. Pada pemeriksaan lanjut di klinik jantung akan didapati fungsi pompa (sistolik) yang masih baik tetapi penderita mengeluh keluhan sesak, yang tidak dapat diterangkan sebagai akibat penyakit lain. Cairan di paru akan mudah merembes ke kantong-kantong udara, sehingga timbul sesak napas. Dengan demikian, paru-paru turut menjadi rentan terhadap peningkatan tekanan darah (diastolik) di jantung.

Dalam keadaan seperti ini, bila tekanan darah tiba-tiba melonjak tinggi, dapat terjadi suatu kegawatan jantung-paru akibat perembesan cairan dalam jumlah besar dan meluas ke hampir seluruh kantong-kantong udara dalam paru. Pasien akan mengeluh sesak napas berat. Lebih lega mengambil posisi duduk atau setengah tidur (orthopnoe), karena bila berbaring cairan di paru akan menempati hampir seluruh ruang ventilasi udara sehingga orang tersebut akan sesak. Frekuensi jantung meningkat untuk mengkompensasi berkurangnya isi-sekuncup, agar curah jantung semenit dapat memenuhi kebutuhan tubuh, tetapi pada gagal jantung tahap akhir justru denyut jantung melambat (Bradipnoe) seperti obor kehabisan minyak, meredupnya fungsi jantung ditandai dengan kekuatan dan denyutnya melemah. Oleh karena itu orang yang lemah jantung, pada awalnya mengeluh lekas capek, batuk-batuk sampai sesak napas berat, disertai debaran jantung yang makin kencang. Pada tahap lanjut gagal jantung seringkali keluhan sesaknya tidak begitu jelas justru yang menonjol keluhan mual dan organ lain sehingga EKG dan rongent thorak (dada) akan sangat membantu untuk menegakkan diagnosa.

2. Gangguan fungsi sistolik

Pada gilirannya bila gangguan fungsi diastolik berjalan terus, fungsi sistolik menyusul terganggu. Lemah jantung menjadi makin nyata. Biasanya arus balik ke jantung makin terbendung, sehingga timbul pembengkakan pada kedua tungkai. Tekanan darah yang biasanya tinggi, kini justru menjadi normal sampai dengan rendah, bergantung pada berat ringannya lemah jantung dapat dianalogikan seperti kuda pacu setelah berlari kencang akibat dicambuk terus akhirnya kehabisan tenaga, tekanan darah pun turun tetapi saat itu disertai rasa capek yang semakin menonjol. Demikian pula dengan sesak napas, mulai dari yang ringan sampai berat.

Ada suatu  pengelompokan dari New York Heart Association (NYHA) yang menetapkan empat klasifikasi fungsional lemah jantung (heart failure) :
a. NYHA I
Dengan aktivitas berat baru timbul sesak napas.
b. NYHA II
Pekerjaan sehari-hari tak dapat dilaksanakan dengan baik karena mudah capek sampai sesak napas.
c. NYHA III
Aktivitas ringan dalam rumah pun telah menimbulkan sesak napas.
d. NYHA IV
Meski dalam keadaaan istirahat pun pasien sudah mengeluh sesak napas.

3. Penyakit penyerta

Keadaan lain yang turut memberatkan perjalanan penyakit ini adalah penyakit jantung koroner. Dalam keadaan kekurangan atau defisit suplai oksigen ke otot jantung akibat penyempitan pembuluh koroner, energi yang tersedia diprioritaskan untuk fungsi sistolik terlebih dahulu. Dengan kata lain kehabisan energi untuk relaksasi. Fungsi diastolik makin terganggu dan makin melemahkan fungsi jantung.

Penyebab Serangan Jantung (Bagian 8)

This entry was posted in Penyakit Jantung. Bookmark the permalink.