Penyebab Stroke (Bagian 1)

Penyebab Stroke – Hipertensi

Penyebab stroke yang dapat diubah terdiri dari kondisi medis dan faktor yang berkaitan dengan gaya hidup seseorang. Termasuk dalam kondisi medis antara lain hipertensi, penyakit jantung (infark miokardial dan fibrilasi atrium), diabetes melitus, hiperlipidemia, dan stenosis arteri karotis. Berkaitan dengan gaya hidup seseorang meliputi merokok, inaktivitas fisik (kurang olah raga), konsumsi alkohol yang berlebihan, dan obesitas.

Munculnya penyakit stroke karena dipicu faktor resiko penyakit pendukung lain seperti penyakit jantung, saraf, diabetes melitus, darah tinggi, dislipidemia, usia tua, dan obesitas yang menyebabkan fungsi motorik, sensorik, saraf kranialis, dan fungsi kognitif menjadi terhambat. Selain itu, gaya hidup tidak sehat juga menjadi faktor yang mempercepat datangnya penyakit ini, diantaranya kebiasaan merokok, pemakaian alkohol, pengonsumsian makanan berkolesterol tinggi, dan sebagainya. Selain itu, jenis kelamin dan ras juga menjadi penentu munculnya penyakit stroke. Angka kejadian penyakit stroke lebih banyak dialami wanita daripada laki-laki karena perbedaan profil faktor resiko vaskular dan substipe dari stroke. Hal itu disebabkan wanita memiliki kecacatan stroke yang lebih berat dibandingkan laki-laki.

A. Hipertensi

Seseorang disebut mengalami hipertensi apabila tekanan darahnya lebih dari 140/90 mmHg atau lebih dari 135/85 mmHg pada individu yang mengalami gagal jantung, insufisiensi ginjal, atau diabetes melitus. Hipertensi merupakan faktor resiko stroke yang paling utama, meningkatkan resiko stroke 2-4 kali lipat, tidak tergantung pada faktor resiko lainnya. Peningkatan tekanan sistolik maupun diastolik berkaitan dengan resiko yang lebih tinggi. Untuk setiap kenaikan tekanan diastolik sebesar 7.5 mmHg maka resiko meningkat 2 kali lipat. Apabila hipertensi dapat dikendalikan dengan baik maka resiko stroke turun sebanyak 28-38%.

Pada umur belasan tahun sebenarnya telah terjadi pertumbuhan plaque di dinding arteri karotis dan sistem vertebrobasilaris, berkembang secara perlahan-lahan tetapi progresif. Peningkatan tekanan darah akan lebih mempercepat terjadinya plaque, lapisan endotel pembuluh darah akan rusak dan kemudian memudahkan terjadinya ruptur / pecahnya plaque yang kemudian membentuk trombus. Trombus dapat menyumbat pembuluh darah secara lokal atau pecah menjadi emboli dan kemudian ikut aliran darah masuk ke dalam sistem serebrovaskular. Hipertensi juga dapat memecahkan pembuluh darah otak dan terjadilah perdarahan intraserebral, intraventrikular, maupun subaraknoidal.

Antara 90-95% latar belakang terjadinya hipertensi belum diketahui secara jelas. Namun demikian hipertensi dapat dideteksi dengan mudah, dan biasanya dapat dikendalikan atau diobati. Pada sebagian besar kasus, hipertensi tidak menimbulkan gejala (silent disease); sekitar 32% penderita hipertensi tidak menyadari bahwa mereka mengalami hipertensi.

Pengendalian hipertensi dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pengendalian gaya hidup (lifestyle) dan pemberian obat antihipertensi. Pengendalian gaya hidup meliputi :
a. mempertahankan berat badan normal untuk dewasa dengan perhitungan body mass index 20-25 kg/m2
b. mengurangi asupan garam, kurang dari 6 gram garam dapur atau kurang dari 2.4 gram Na+/hari
c. tidak minum alkohol, atau minum alkohol kurang dari 3 unit/hari bagi laki-laki dan kurang dari 2 unit bagi perempuan
d. olahraga aerobik 30 menit/hari, jalan cepat lebih baik daripada angkat besi
e. makan buah dan sayur, pilih yang segar dan murah harganya
f. mengurangi konsumsi lemak baik yang jenuh maupun yang tidak jenuh.
Di samping itu, pemeriksaan rutin perlu pula diperhatikan dan dilaksanakan secara teratur, antara lain pemeriksaan fisik dan tekanan darah, pemeriksaan laboratorium (protein dan darah dalam urin, kreatinin dan elektrolit dalam darah, gula darah terutama dalam keadaan puasa, profil lipid meliputi trigliserida dan kolesterol LDL dan HDL), serta pemeriksaan elektrokardiogram.

Pengembangan dan penelitian obat-obat anti hipertensi terus dilakukan di seluruh dunia, baik penelitian dasar maupun klinik / aplikatif. Ada yang menarik perhatian, ialah bahwa diantara sekian banyak obat antihipertensi yang ada dan telah diteliti maka golongan angiotensin converting enzyme inhibitors mempunyai daya proteksi yang tinggi terhadap penyakit kardiovaskular yang didasari oleh hipertensi. Obat ini mempunyai daya proteksi pada dinding arteri melalui mekanisme pengurangan stres oksidatif dan penurunan tanggapan proliferatif dan inflamasi yang keduanya menghambat terjadinya plaque aterosklerotik pada dinding arteri.

1. Analisis  Situasi Hipertensi di Masyarakat
Kesadaran dan pengetahuan mengenai hipertensi di masyarakat sudah menunjukkan peningkatan, tetapi jumlah penderita yang mendapat terapi dan terkontrol masih rendah. Sebagai contoh di Amerika Serikat pada tahun 2000, angka awareness sudah mencapai 70%, jumlah pasien yang diterapi sebanyak 55%, namun hipertensi yang terkontrol hanya sebesar 30%. Data yang tersedia di Indonesia dari penelitian di Kecamatan Tanah Abang, Jakarta, pada tahun 2006, menyatakan kesadaran akan hipertensi sebesar 50%, angka pasien yang minum obat 50%, sedangkan hipertensi terkontrol 50%. Ada 3 masalah utama dalam pengelolaan hipertensi :

* Hipertensi Tidak Terdeteksi
Hipertensi adalah penyakit yang tidak bergejala. Dalam sebuah bakti sosial kesehatan yang penulis ikuti tampak jelas bahwa hipertensi belum terdeteksi secara optimal. Sebanyak 45 dari 93 masyarakat yang datang memeriksakan diri memiliki tekanan darah sistolik diatas 140 mmHg (sudah dikategorikan sebagai hipertensi grade 1), namun hanya 21 orang saja yang tahu menderita hipertensi. Hal ini berarti bahwa hanya kurang lebih 50% saja penderita hipertensi yang tahu bahwa dirinya menderita hipertensi. Fenomena di atas sangat dapat dipahami karena hipertensi tidak menimbulkan keluhan apa pun.

Fenomena ini yang mendasari hipertensi disebut sebagai the silent killer, si pembunuh diam-diam. Pasien datang berobat akibat kerusakan target organ. Pasien datang berobat dalam tahap lanjut komplikasi seperti gagal jantung, gagal ginjal, kerusakan retina mata akibat hipertensi atau stroke. Penelitian skala besar di Singapura pada lebih dari 10.000 subjek berusia > 65 tahun (yang tidak diketahui menderita hipertensi) menunjukkan bahwa hipertensi yang tidak terdeteksi mencapai 46,8%. Di antara kasus yang baru diketahui menderita hipertensi, 6% diantaranya telah menunjukkan gejala kerusakan ginjal (ditemukannya protein di dalam kencing). Usia tua, jenis kelamin laki-laki, diabetes, dan IMB > 23 kg/m2 dihubungkan dengan kejadian hipertensi yang lebih tinggi.

* Hipertensi Terdeteksi tetapi Tidak Berobat
Hipertensi tidak menimbulkan gejala. Hal ini menyebabkan kesadaran seorang penderita untuk berobat menjadi kurang. Seseorang boleh saja tahu bahwa dirinya menderita hipertensi, namun tidak memeriksakan dirinya secara teratur. Fenomena ini diperparah oleh berbagai ‘mitos’ di masyarakat tentang tekanan darah tinggi. Seorang pasien hipertensi sering kali berkata dengan bangga “tekanan darah saya 180 mmHg, namun tidak ada keluhan apa-apa”. Ungkapan lain yang sering pula kita dengar adalah “wajar bila sudah tua tekanan darahnya diatas 160 mmHg”. Berbagai mitos diatas adalah salah. Kerusakan pembuluh darah akan berjalan terus bila tekanan darah tidak dikendalikan. Pada penderita yang berobat, maka kepatuhan (compliance) terhadap gaya hidup dan program pengobatan juga menjadi masalah. Pasien sering kali melanggar pantangan diet, minum obat tidak teratur, atau tidak berobat secara teratur. Kemajuan ilmu medis telah menghasilkan obat antihipertensi yang memiliki sifat kerja panjang (long acting) sehingga hanya perlu diminum sekali dalam sehari. Hal ini tentu akan meningkatkan kepatuhan penderita. Obat-obat tersebut memiliki harga yang sedikit lebih mahal daripada obat konvensional. Faktor harga harus diperhatikan benar dalam terapi hipertensi. Pasien akan berobat dalam jangka waktu lama sehingga pembiayaan menjadi pertimbangan yang tidak boleh diabaikan.

2. Pasien Berobat, Tetapi Tidak Terkontrol
Terapi hipertensi saat ini memang telah mengalami kemajuan, tetapi manajemen baru dirasa masih diperlukan karena target tekanan darah yang harus dicapai makin rendah dan terdapat beberapa obat yang ternyata tidak dapat dipakai secara bersamaan dengan obat lain yang mempunyai efek menurunkan tekanan darah. Target pengobatan hipertensi menurut WHO/ISH 1999/2003, JNC VII, dan ESH 2007 hampir sama, yaitu untuk pasien beresiko tinggi adalah < 130/80 mmHg, sedangkan untuk pasien beresiko rendah target penurunannya adalah < 140/90 mmHg. Laporan dari banyak penelitian tentang obat hipertensi gagal untuk mencapai tekanan darah sistolik < 130 mmHg seperti yang diharapkan oleh JNC VII. Kerusakan organ target akan terus berlanjut jika kita gagal mencapai target kendali yang kita sepakati (berdasarkan JNC VII adalah dibawah 140/80 mmHg dan lebih rendah lagi kalau didapatkan faktor resiko lainnya).

3. Terapi Non-farmakologi untuk Hipertensi
Modifikasi gaya hidup dianjurkan sebagai prevensi primer hipertensi dan sebagai bahan terapi pasien hipertensi. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
a. Mempertahankan dan mengurangi berat tubuh berlebih (usahakan BMI antara 20-25 kg/m2).
b. Mengurangi asupan garam sampai < 100 mmol / hari.
c. Mengurangi konsumsi alkohol (< 3 unit / hari untuk laki-laki dan < 2 unit / hari untuk perempuan).
d. Latihan olahraga yang bersifat aerobik (berjalan kaki) > 30 menit setiap harinya.
e. Mengonsumsi porsi makanan yang kaya sayur dan buah.
f. Mengurangi asupan lemak saturasi.
g. Berhenti merokok.

4. Tidur Siang Cara Efektif Turunkan Tekanan Darah
Mungkin bagi sebagian orang, tidur siang menjadi hal yang dihindari karena kegiatan tersebut identik dengan sifat pemalas. Namun, bagi Anda yang gemar tidur siang, berbahagialah, karena hal tersebut dapat bermanfaat bagi kesehatan. Hal ini karena dengan melakukan tidur siang selama 1 jam saja telah dapat membantu menurunkan tekanan darah dan juga stres yang kita alami.

Bila pekerjaan dan rutinitas harian membuat Anda stres dan tertekan, ada baiknya istirahat dan tidur sejenak untuk mengontrol tekanan darah dan menjauhkan diri dari hipertensi dan penyakit jantung.

45 – 60 menit tidur di siang hari bisa membantu menurunkan tekanan darah setelah mengalami stres dan tekanan saat beraktivitas ketimbang orang yang tidak tidur.

Dengan tidur malam sekarang yang rata-rata dua jam lebih pendek daripada 50 tahun yang lalu, peneliti mengklaim tidur siang menyediakan cara sederhana untuk meningkatkan kesehatan jantung.

Jam kerja yang lebih panjang dan shift malam membuat orang banyak menghabiskan waktu untuk menonton  TV hingga larut malam yang berdampak pada tidur tidak nyenyak. Akibatnya, jam tidur malam berkurang sampai dua jam dari waktu yang seharusnya. Padahal, kurang tidur telah dikaitkan dengan berbagai resiko penyakit serius yang lebih tinggi seperti hipertensi dan masalah kardiovaskular (pembuluh darah).

Siswa yang tidur siang selama antara 45 -60 menit memiliki tingkat tekanan darah lebih rendah secara signifikan semalam fase pemulihan pasca kegiatan (tidur siang) dibandingkan siswa yang tidak tidur.

5. 9 Cara Agar Tidur Berkualitas
Tidur adalah salah satu kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Waktu tidur 7 jam untuk orang dewasa yang selama ini jadi acuan tercukupinya kebutuhan tubuh kita, ternyata tidak terlalu efektif jika kualitas tidur kita jelek. Terpenting adalah kualitas tidur kita yang lebih baik dapat mengembalikan kebugaran setelah bangun.

Beberapa tips ini dapat meningkatkan kualitas tidur yang baik adalah sebagai berikut :
* Sesungguhnya para peneliti hanya mengenal kamar tidur sebagai dua fungsi, yakni untuk melakukan aktivitas seks dan untuk tidur. Bila kamar tidur dan kasur telah digunakan untuk fungsi lain, ini justru akan mengurangi kualitas ruang istirahat. Jadi, jangan sekali-kali menyatukan ruang tidur dengan ruang kerja atau belajar. Untuk Anda yang masih kos sebaiknya fungsikan bagian-bagian kecil di kamar dengan sebaik mungkin sehingga kasur hanya dipakai untuk tidur. Selebihnya, lakukan aktivitas lain seperti belajar atau menonton TV di tempat lain.

* Hindari ornamen ruang tidur dengan interior berwarna terang atau ramai. Untuk mengubah jam malam Anda bisa mencoba gantungkan jam dinding berlawanan dengan arah pandang.

* Jika belum bisa tidur juga, jangan berlama-lama berbaring diatas tempat tidur. Lebih baik bangun dan lakukan aktivitas lain. Hindari tempat tidur sebelum Anda mengantuk.

* Tetapkan waktu tidur yang teratur. Jam tidur yang berantakan bisa mengganggu jam biologis Anda. Walau telat tidur bukan berarti Anda bisa bangun lebih siang. Awalnya memang sulit, namun jika pola itu sudah tertanam dengan baik pasti bisa dijalani.

* Tak usah memaksakan diri jika tidak bisa tidur siang. Banyak tidur siang akan memulihkan keletihan sesaat saja, namun akibatnya Anda jadi susah tidur di malam hari. Pola Anda akan berubah jika hal ini terjadi.

* Setelah makan siang hindari mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung kafein atau zat stimulan lainnya. Kafein yang terdapat pada kopi atau teh dan zat stimulan pada minuman ringan dan cokelat terbukti bisa menyebabkan pola tidur terganggu.

* Dua jam sebelum tidur, hindari rokok dan minuman beralkohol. Rokok juga merupakan stimulan bagi pusat saraf manusia yang membuat susah tidur. Minuman beralkohol mungkin saja membuat Anda cepat tidur, tetapi dapat mengakibatkan kerap terbangun di malam hari.

* Hindari juga makan besar dua jam sebelum waktu tidur tiba. Ini akan membuat perut tidak enak saat berbaring, akibatnya Anda pun susah terlelap.

* Tenangkan pikiran dan mental Anda. Jangan terlalu banyak memikirkan masalah ketika menjelang tidur malam. Siapkan diri untuk tidur dan mimpi indah.

Mulai sekarang, Anda bisa membuat tidur menjadi lebih berkualitas. Tidur yang berkualitas menghasilkan produktivitas yang tinggi.

6. Tips Hidup Sehat untuk Penderita Hipertensi
Tekanan darah di dalam tubuh kita merupakan tenaga yang dibutuhkan untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh. Jika seseorang dikatakan menderita hipertensi maka tekanan sistolik >= 140 mmHg dan tekanan diastolik >= 90 mmHg. Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang penting. Hipertensi dipengaruhi oleh beberapa faktor penyebab antara lain pola makan, olahraga, serta istirahat. Hipertensi jika diabaikan dapat menimbulkan dan rawan komplikasi seperti gangguan fungsi ginjal, penyakit jantung koroner dan stroke.

Berikut ini beberapa tips hidup sehat untuk penderita hipertensi dan ginjal agar dapat menghindari komplikasi-komplikasi tersebut :
a. Mengatur pola makan
– Kurangi berat badan bagi yang berlebihan.
– Batasi asupan garam dan sumber makanan natrium / sodium.
– Perbanyak konsumsi makanan tinggi kalium, kalsium, magnesium, omega-3, tinggi serat, dan vitamin C.
– Hindari merokok.
– Kurangi lemak dan kolesterol.
– Kurangi konsumsi alkohol, soda, kafein.
– Melakukan variasi santapan sehari-hari.

b. Olahraga
Lakukan olahraga teratur dan terukur agar badan tetap bugar karena peredaran darah lancar. Dianjurkan berkonsultasi dahulu dengan dokter untuk mengetahui jenis olahraganya.

c. Istirahat
Meluangkan waktu untuk istirahat perlu rutin dilakukan di antara ketegangan jam sibuk setiap hari. bersantai dapat berupa berkumpul sesama rekan kantor, tetangga, keluarga di rumah atau bersantai seorang diri dengan merenung. Makin sering dan rutin hal ini dilakukan, makin bagus keseimbangan jiwa. Tidur nyaman merupakan bentuk bersantai seorang diri. Stamina akan pulih dengan cepat dan keseimbangan hormon dalam tubuh akan ceoat tercapai. Hasilnya, pengendalian tekanan darah akan terjaga.

Stroke pada Usia Muda | Penyebab Stroke (Bagian 2)

This entry was posted in Stroke. Bookmark the permalink.