Penyebab Stroke (Bagian 2)

Penyebab Stroke – Infark Miokardial, Fibrilasi Atrial, Diabetes Melitus, Hiperlipidemia, Stenosis Arteri Karotis

B. Infark Miokardial

Antara 3 – 4% penderita infark miokardial di kemudian hari mengalami stroke embolik. Resiko terbesar berada dalam satu bulan setelah terjadi infark miokardial. Aterosklerosis mendasari terjadinya infark miokardial maupun stroke iskemik. Infark miokardial akan menimbulkan kerusakan pada dinding jantung ataupun fibrilasi atrium yang menetap, keduanya memudahkan terjadinya trombus yang pada suatu saat dapat terlepas atau pecah dan berubah menjadi emboli untuk kemudian masuk ke dalam aliran darah otak. Pencegahan terjadinya infark miokardial yang kedua merupakan upaya penting agar tidak terjadi stroke. Upaya-upaya tersebut bertumpu pada perubahan gaya hidup misalnya meningkatkan konsumsi sayur, buah dan menurunkan konsumsi lemak, menghentikan minum alkohol, menghentikan merokok, dan meningkatkan latihan fisik / olahraga.

C. Fibrilasi Atrial

Fibrilasi atrial merupakan gangguan irama jantung yang paling sering dijumpai mengenai lebih kurang 2.200.000 orang. Setelah masuk usia 75 tahun maka 12% diantaranya mengalami fibrilasi atrial. Setiap tahun, 4% dari penderita fibrilasi atrial mengalami stroke. Seorang penderita yang mengalami fibrilasi atrial memiliki resiko 3 – 5 kali lipat mengalami stroke. Secara keseluruhan, 15% kasus stroke iskemik disebabkan oleh fibrilasi atrial. Denyut jantung yang tidak efektif karena adanya fibrilasi atrial akan menyebabkan darah mengumpul di dinding jantung. Hal demikian ini akan memudahkan terbentuknya trombus dan pada suatu saat trombus ini dapat terlepas dari dinding jantung dan berubah menjadi emboli untuk kemudian masuk ke dalam aliran darah otak. Banyak bukti dari hasil penelitian randomized clinical trial menunjukkan bahwa obat anti pembekuan darah yang dikenal sebagai aspirin dan natrium warfarin sangat efektif untuk mencegah terjadinya stroke iskemik. Namun demikian, pemberian warfarin harus disertai kehati-hatian karena ada kemungkinan terjadinya perdarahan.

Secara klinis, fibrilasi atrial praktis tidak dapat dideteksi. Fibrilasi atrium diketahui dari gambaran elektrokardiogram (EKG). Pemeriksaan EKG dapat dilakukan pada saat menjalani general check-up maupun pada saat sakit tertentu yang prosedur pemeriksaannya memerlukan pemeriksaan EKG. Kepada setiap penderita fibrilasi atrial perlu diberitahukan tentang kondisi jantungnya sekaligus program pengobatan dan tujuan program tadi.

D. Diabetes Melitus

Seseorang diberi label mengalami diabetes melitus apabila kadar glukosa plasma puasa lebih tinggi dari 126 mg% dan diperiksa pada dua waktu yang berbeda.

Diabetes melitus merupakan cermin dari ketidakmampuan tubuh untuk memproduksi insulin secara cukup. Diabetes melitus meningkatkan resiko stroke sebanyak 1 – 3 kali lipat dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami diabetes melitus. Diabetes melitus meningkatkan resiko stroke melalui beberapa mekanisme yang saling berkaitan yang bermuara pada terbentuknya plaque aterosklerotik. Plaque pada diabetes melitus banyak dijumpai di cabang-cabang arteri serebral yang kecil. Plaque tersebut akan menyempitkan diameter pembuluh darah kecil yang kemudian dapat menimbulkan stroke.

Walaupun diabetes melitus dikenal sebagai faktor resiko stroke independen, belum ada bukti yang meyakinkan bahwa pengendalian kadar glukosa darah secara ketat merupakan upaya efektif untuk mencegah terjadinya stroke. Fakta menunjukkan bahwa pemberian sulfonilurea secara intensif dan atau insulin kepada penderita diabetes melitus tipe 2 mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi mikrovaskular, tetapi tidak berpengaruh terhadap kemungkinan komplikasi makrovaskular. Dengan demikian, pencegahan dan pengendalian diabetes melitus memerlukan upaya yang komprehensif, disertai disiplin tinggi dan kerjasama yang baik antara penderita dan dokter.

E. Hiperlipidemia

Hiperlipidemia menunjukkan adanya kadar kolesterol total lebih dari 240 mg%. Hiperlipidemia bukan merupakan faktor resiko stroke secara langsung. Hal ini berbeda dengan penyakit koroner yang jelas berhubungan dengan hiperlipidemia. Namun demikian, dari berbagai penelitian terungkap bahwa dengan menurunkan kadar kolesterol total maka resiko terjadinya stroke juga menurun.

Sehubungan dengan penyakit serebrovaskular secara spesifik, meningginya kadar kolesterol total dan low density lipoprotein (LDL) berkaitan erat dengan terjadinya aterosklerosis karotis; sementara itu peningkatan kadar high density lipoprotein (HDL) menimbulkan dampak sebaliknya. Untuk menurunkan resiko terjadinya stroke maupun infark miokardial, disarankan untuk menurunkan kadar kolesterol kurang dari 200 mg%, LDL kurang dari 130 mg%, dan meningkatkan kadar HDL menjadi lebih dari 35 mg%. Hal ini dapat dicapai melalui diet ( total kalori dari lemak total kurang dari 30%, kalori dari lemak jenuh kurang dari 10%), berolahraga secara teratur, dan bila perlu ditambah obat tertentu misalnya statin.

F. Stenosis Arteri Karotis

Apabila diameter arteri karotis berkurang sampai lebih dari 70% karena terbentuknya plaque aterosklerosis maka individu akan memiliki resiko stroke yang tinggi. Penyempitan arteri karotis, dapat bersifat simtomatik yang dikenal dengan terjadinya stroke atau transient ischaemic attack (TIA), atau asimtomatik (tidak menunjukkan gejala klinis apapun). Hal ini bergantung pada keutuhan permukaan plaque (robek atau tidak), peningkatan terbentuknya trombus (sebagai sumber emboli), atau apakah ada sistem kolateral yang efektif. Apabila diameter arteri karotis menyempit lebih dari 70% maka disarankan untuk dilakukan operasi. Apabila penyempitannya kurang dari 30% maka cukup diberi obat tertentu, misalnya statin dan antiplatelet.

Penyebab Stroke (Bagian 1) | Penyebab Stroke (Bagian 3)

 

This entry was posted in Stroke. Bookmark the permalink.