Penyebab Stroke (Bagian 3)

Penyebab Stroke – Merokok dan Kurang Olahraga

G. Merokok

Merokok meningkatkan resiko stroke sebesar 1.5 kali sesudah faktor resiko lainnya dikendalikan. Resiko pada perokok berat lebih tinggi daripada perokok ringan. Penelitian secara cohort menunjukkan bukti bahwa merokok merupakan faktor resiko independen untuk terjadinya stroke iskemik. Resiko pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Asap rokok mengandung karbon monoksida dan nikotin serta berbagai bahan toksik lainnya. Asap rokok meningkatkan terjadinya aterosklerosis terutama di arteri karotis. Ada dugaan bahwa karbon monoksida berperan penting dalam terjadinya kerusakan endotel arteri. Asap rokok juga menyebabkan beberapa perubahan di dalam darah, misalnya peningkatan perlengketan platelet, memendeknya umur platelet, mempercepat pembekuan darah, dan peningkatan viskositas darah. Perokok memiliki resiko stroke iskemik maupun perdarahan. Telah banyak bukti bahwa penghentian merokok sangat bermanfaat untuk pencegahan stroke. Setelah berhenti merokok maka resiko terkena stroke menurun dalam waktu 2 – 5 tahun.

Menghentikan kebiasaan merokok memang tidak mudah, diperlukan kesadaran dan pemahaman yang baik tentang bahaya asap rokok terhadap kesehatan dari masing-masing individu. Di samping mengganggu kesehatan perokok, asap rokok juga mengganggu kesehatan perokok pasif, yaitu individu yang tidak merokok tetapi hidup bersama-sama dengan perokok dalam ruangan yang terbatas. Kampanye anti rokok masih bersifat terbatas, belum menyeluruh. Apabila dilakukan secara menyeluruh maka akar yang harus dicabut adalah pelarangan penanaman tembakau dan penutupan pabrik rokok. Apabila hal ini dilakukan maka kita dapat memperkirakan akibat yang terjadi.

Pada pasien perokok, kerusakan yang diakibatkan stroke jauh lebih parah karena dinding bagian dalam (endothelial) pada sistem pembuluh darah otak (serebrovaskular) biasanya sudah menjadi lemah sehingga menyebabkan kerusakan yang lebih besar lagi pada otak sebagai akibat bila terjadi stroke tahap kedua.

1. Bahaya Merokok

Rokok mengandung kurang lebih 4000 zat dan setidaknya 200 diantaranya dinyatakan berbahaya. Racun utama yang terkandung di dalam rokok adalahtar, nikotin, dan karbon monoksida. Tar adalah substansia hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru. Nikotin merupakan zat adiktif yang memengaruhi saraf dan peredaran darah. Karbon monoksida adalah zat yang mengikat hemoglobin dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen.

Berbagai penelitian di bidang kesehatan telah membuktikan bahaya rokok bagi kesehatan. Rokok meningkatkan resiko kanker paru-paru dan mulut sebanyak 14 kali lipat. Rokok meningkatkan pula resiko terkena penyakit jantung dan stroke sebesar 2 kali lipat. Resiko ini dialami secara hampir sama antara perokok aktif dan perokok pasif. Tidak ada batas yang aman bagi orang yang merokok dan terpapar oleh asap rokok.

2. Ketagihan Rokok

Lebih dari 95% perokok tahu bahaya merokok. Bahaya merokok telah secara masif dikampanyekan di berbagai media. Beberapa penelitian terakhir mengonfirmasi bahwa nikotin bertanggung jawab pada efek ketagihan akibat rokok. Nikotin sebagai suatu zat yang ada di dalam rokok memiliki efek untuk membuat ketagihan bagi sang perokok.

Efek ketagihan diperantarai oleh dopamin  dalam otak. Dopamin merupakan zat di dalam otak yang terpacu keluar akibat paparan nikotin. Pada keadaan normal dopamin berfungsi untuk gerakan otot, proses memori, dan emosi. Nikotin yang terisap diteruskan ke dalam otak dan berikatan dengan reseptor a4b2. Ikatan ini akan memacu pengeluaran dopamin di otak. Dopamin akan memberikan rasa nyaman dan tenang bagi orang yang mengisap rokok. Bila ikatan nikotin dan reseptor telah menurun, kadar dopamin akan menurun pula. Hal tersebut akan menyebabkan orang tergerak kembali untuk merokok.

Demikianlah orang menjadi ketagihan untuk terus merokok. Bila kadar nikotin menurun, maka pacuan dopamin akan menurun pula. Hal tersebut menyebabkan seseorang mengalami craving (suatu kondisi pusing, gangguan konsentrasi, dan mood yang buruk). Penurunan kadar dopamin menyebabkan pula berkurangnya reward (suatu kondisi rasa nyaman akibat merokok). Kedua hal tersebut menyebabkan seseorang menjadi sangat sulit untuk berhenti merokok. Seorang perokok akan mudah tergoda untuk merokok kembali.

3. Tips Berhenti Merokok

Langkah pertama untuk berhenti merokok adalah dengan membangun komitmen. Bila perlu carilah motivasi atau inspirasi yang tepat untuk berhenti merokok. Seorang calon ayah dapat berhenti merokok karena termotivasi untuk memberikan lingkungan yang sehat bagi istri dan calon bayinya. Motivasi dan inspirasi yang tepat akan selalu menjadi pengingat bila si perokok tergoda untuk merokok kembali.

Langkah berikutnya adalah meminta dukungan pada lingkungan sekitar untuk program berhenti merokok. Seseorang akan sulit berhenti merokok bila lingkungan sekitarnya tetap penuh dengan rokok. Setelah yakin dengan program berhenti merokok, si perokok harus menetapkan tanggal kapan ia akan mulai berhenti merokok. Langkah tersebut harus diikuti dengan kegiatan-kegiatan lain yang mendukung (misalnya berolahraga) dan menyingkirkan segala sesuatu yang berhubungan dengan rokok (misalnya asbak).

Di antara berbagai langkah tersebut, komitmen dan motivasi merupakan hal yang sangat penting. Banyak cerita sukses berhenti merokok yang dilandasi oleh komitmen dan motivasi yang kuat. Pada beberapa kasus, efek craving (perasaan tidak enak, mood yang buruk, dan konsentrasi yang buruk) sedemikian kuatnya bagi sang perokok. Penelitian terbaru menemukan sebuah obat yang dapat membantu mengurangi efek craving ini.

4. Harapan Baru Bagi Perokok

Efek yang tidak menyenangkan di awal berhenti merokok dapat dikurangi dengan obat baru yang disebut Varenicline Tartrate. Obat ini akan membantu mengurangi efek craving. Obat yang dipasarkan dengan merk dagang Champix ini telah tersedia di Indonesia. Varenicline akan berikatan pada reseptor dopamin untuk mengurangi efek penurunan dopamin di otak yang bersifat mendadak.

Rokok adalah hal yang berbahaya. Bahaya rokok tidak saja mengenai orang yang merokok, namun juga orang lain di sekitar perokok (sebagai perokok pasif). Banyak penelitian secara konsisten menghubungkan rokok dengan berbagai penyakit.

H. Kurang Olahraga / Aktivitas Fisik

Kurang olahraga merupakan faktor resiko independen untuk terjadinya stroke dan penyakit jantung. Olahraga secara cukup (jalan cepat, berkebun, berenang, aerobik) rata-rata 30 menit / hari dapat menurunkan resiko stroke. Olahraga dapat mengendalikan obesitas dan diabetes melitus, meningkatkan kadar kolesterol HDL, dan pada sekelompok individu dapat menurunkan tekanan darah. Inaktivitas fisik lebih banyak terjadi pada perempuan daripada laki-laki, orang kulit hitam daripada kulit putih, individu senior daripada dewasa muda, dan pada kelompok masyarakat dengan status sosio-ekonomi yang rendah.

Hubungan antara aktivitas fisik dan stroke telah diteliti secara longitudinal dan dilaporkan 38 tahun silam. Alumni Universitas Harvard yang aktif sebagai atlet pada saat kuliah mempunyai resiko stroke fatal sebesar kurang dari setengahnya resiko para alumni yang tidak aktif sebagai atlet ketika masih kuliah. Kelompok terakhir ini cenderung menjadi perokok berat dan peminum alkohol. Dengan demikian, ketidakaktifan itu sendiri tampaknya mempunyai kaitan dengan faktor resiko stroke yang lain, yaitu merokok dan minum alkohol secara berlebihan.

Data lain menunjukkan bahwa aktivitas fisik di masyarakat industri maju rendah. Di Inggris, hanya kurang dari seperempat warganya yang mempunyai program aerobik 30 menit secara teratur (misalnya jalan cepat lebih dari 5 kali setiap minggu). Perilaku seperti ini dapat diubah atau diperbaiki dengan cara pendidikan olahraga yang lebih terarah di setiap jenjang sekolah, aktivitas rekreasional (di taman atau area terbuka lainnya), dan penyediaan jalur lambat khusus untuk pengendara sepeda. Olahraga aerobik secara teratur berpengaruh positif terhadap pencegahan stroke melalui mekanisme pengendalian berat badan, tekanan darah, dan kadar kolesterol dalam darah.

Penyebab Stroke (Bagian 2) | Penyebab Stroke (Bagian 4)

This entry was posted in Stroke. Bookmark the permalink.