Penyebab Stroke (Bagian 4)

Penyebab Stroke – Obesitas, Infeksi dan Inflamasi, Homositin, Life Style

I. Obesitas

Obesitas adalah suatu keadaan ketika body mass index (BMI) menunjukkan angka 30.0 atau lebih. Obesitas memberi resiko stroke dua kali lipat. Obesitas memberi beban berat kepada jantung, dan merupakan predisposisi untuk meningkatnya kadar kolesterol total dan trigliserid, hipertensi, menurunnya kadar kolesterol HDL, dan diabetes melitus.

Obesitas dapat dikontrol dengan diet dan olahraga secara teratur dengan disiplin tinggi. Sementara itu memang ada obesitas yang didasari oleh faktor genetik sehingga dengan upaya apa pun, berat badan tidak dapat diturunkan secara bermakna.

4 Jenis Makanan Pembakar Lemak di Perut

Lemak di bagian perut memang sangatlah mengganggu. Selain mengganggu penampilan, ternyata lemak tebal yang menutupi daerah perut juga lebih mengancam kesehatan. Lemak ini bisa menimbulkan penyakit seperti diabetes melitus tipe 2, penyakit jantung, dan bahkan kanker payudara. Dengan olahraga pun lemak di bagian perut ini sangat susah dilawan.

Jika olahraga tak mampu mengatasi lemak di perut, cobalah mengonsumsi makanan yang mampu membakar lemak di perut. Untuk menyusutkan lemak di perut setidaknya ada 4 macam makanan kunci yang bisa membantu anda untuk menyusutkan lemak di perut tersebut. Inilah makanan yang mampu membakar lemak lebih cepat.

* Serat

Makanan seperti oatmeal dan buncis mengandung serat yang tinggi sehingga mampu membantu menyusutkan lemak perut dengan berbagai cara. Makanan ini membuat Anda merasa lebih cepat kenyang daripada makanan rendah serat dan membutuhkan waktu mencerna lebih lama untuk membuat Anda merasa kenyang.

* Protein

Fungsi protein kurang lebih sama dengan serat, yaitu dapat memperpanjang rasa kenyang. Hal ini karena protein membutuhkan lebih banyak kalori untuk dicerna daripada buah-buahan dan sayuran. Salah satu sumber protein yang juga mengandung vitamin B12 adalah telur. Makanan ini penting untuk memecah sel-sel lemak.

Buncis dan kacang-kacangan (kacang merah, kacang panjang, kacang polong, dan lain-lain) juga merupakan sumber protein yang baik dan memiliki manfaat ekstra karena juga diperkaya dengan serat. Meskipun demikian, Anda perlu memilih jenisnya karena kacang yang digoreng lagi juga mengandung lemak jenuh yang tinggi. Sementara itu, kacang yang dipanggang juga mengandung gula.

* Enzim

Buah-buahan seperti pepaya dan nanas diperkaya dengan enzim yang dapat membantu memecah protein agar dapat dicerna dengan lebih baik. Makanan yang mengandung enzim, seperti buah segar dan sayuran, memberikan peluang bagi hati dan pankreas untuk mengeluarkan lebih banyak racun. Selain itu, buah-buahan tersebut juga mengubah lemak yang tersimpan di perut menjadi tenaga bagi tubuh.

* Lemak Sehat

Makanan berlemak tidak selalu menyebabkan perut jadi buncit. Hal ini tergantung dari jenis lemak yang dikonsumsi. Lemak tak jenuh tunggal, misalnya, mampu meningkatkan metabolisme dan mengubah lemak perut menjadi energi.

Makanan yang kaya dengan lemak sehat ini antara lain minyak zaitun dan avokad. Minyak zaitun secara khusus tidak hanya membantu membakar lemak, tetapi juga membantu menjaga kadar kolesterol tetap dalam batas normal. Kemilan seperti kacang almond tidak hanya kaya lemak tak jenuh tunggal, tetapi juga menjadi sumber protein yang memberikan efek membakar lemak. Almond juga membantu mencegah sakit perut akibat lapar.

J. Infeksi dan Inflamasi

Sejak 5 – 10 tahun terakhir infeksi akut dan kronik serta inflamasi makin memperoleh perhatian yang serius dari para peneliti sehubungan dengan kemampuannya untuk mengubah faktor resiko independen menjadi lebih potensial untuk menimbulkan stroke. Banyak bukti mendukung konsep awal bahwa migrasi sel-sel radang (makrofag, limfosit T) ke dinding arteri sangat erat kaitannya dengan perubahan vaskular yang menuju ke arah terjadinya aterosklerosis.

Beberapa faktor resiko penyakit vaskular berkaitan dengan perubahan praradang, termasuk aktivasi leukosit, dan mendorong terjadinya trombogenesis pembuluh darah serebral. Akumulasi sel-sel radang, terutama monosit / makrofag, di dalam dinding arteri merupakan awal aterogenesis. Apabila proses infeksi berlanjut maka aktivasi leukosit akan menyebabkan pecahnya plaque dan pembentukan trombus; hal ini meningkatkan resiko terjadinya stroke. Pertanda infeksi (leukosit, fibrinogen, C-reactive protein) merupakan prediktor independen untuk stroke iskemik. Infeksi kronik (misalnya Chlamydia pneumoniae atau Helicobacter pylori) meningkatkan resiko terjadinya stroke. Sementara itu, infeksi akut dalam minggu pertama merupakan faktor pencetus untuk terjadinya stroke iskemik.

K. Homositin

Homosistin (homocysteine) dideskripsikan untuk pertama kalinya oleh Butz dan Vigneaud pada 1932. Mereka menemukan homosistin dengan cara mereaksikan metionin dengan asam pekat. Di dalam plasma homosistin terikat oleh albumin (70%). Kenaikan kadar homosistin disebabkan oleh gaya hidup (merokok, minum alkohol, nutrisi tidak cukup), perubahan hormonal terutama pada perempuan menopause, penyakit yang memengaruhi metabolisme homosistin (gangguan pencernaan, gagal ginjal, diabetes melitus, hipotiroidisme, penyakit oto-imun, HIV/AIDS), dan obat-obatan tertentu yang meningkatkan kadar homosistin (metotreksat, antikonvulsan, antidiabetika oral, levodopa, obat penurun lipid, siklosporin, teofilin).

Homosistin merupakan faktor resiko independen untuk terjadinya stroke. Individu yang memiliki kadar homosistin sebesar 15uM/L atau lebih mempunyai resiko dua kali lipat daripada individu dengan kadar homosistin kurang dari 15uM/L.

Kadar homosistin cenderung meningkat pada lanjut usia, laki-laki, gangguan ginjal, massa otot yang meningkat, merokok, minum kopi, defisiensi folat, defisiensi vitamin B12, dan defisiensi vitamin B6. Kadar homosistin akan menurun pada aktivitas fisik, minum vitamin, dan terapi hormon / kontrasepsi. Sementara itu, beberapa keadaan berikut ini perlu dicurigai (dan diantisipasi untuk pemberian terapi) adanya kenaikan kadar homosistin dalam plasma :
a. lanjut usia dengan keluhan vertigo, perasaan lemah, penurunan berat badan dan gangguan memori
b. gejala / tanda gangguan neurologi, antara lain perasaan baal di tangan dan kaki, ataksia, refleks menurun, bingung, gangguan konsentrasi
c. demensia
d. depresi
e. kekurangan nutrisi
f. vegetarian
g. anestesi umum dengan NO
h. luksasi lensa mata
i. rambut rontok dan tanda-tanda anemia (mudah lelah, apatis, sesak napas pada saat aktif).

Hal diatas menunjukkan perubahan pola hidup dapat mengendalikan sebagian besar faktor resiko stroke.

L. Life Style

Usia merupakan faktor resiko stroke, semkain tua usia maka resiko terkena strokenya pun semakin tinggi. Namun, sekarang kaum usia produktif perlu waspada terhadap ancaman stroke. Pada usia produktif, stroke dapat menyerang terutama pada mereka yang gemar mengonsumsi makanan berlemak dan narkoba (walau belum memiliki angka yang pasti).

Life style alias gaya hidup selalu menjadi kambing hitam berbagai penyakit yang menyerang usia produktif. Generasi muda sering menerapkan pola makan yang tidak sehat dengan seringnya mengonsumsi makanan siap saji yang sarat dengan lemak dan kolesterol, tetapi rendah serat.

Generasi muda yang perjalanan hidupnya masih panjang diharapkan untuk mampu berkiprah dan bersaing dengan sumber daya manusia lain dari luar negeri. Kecacatan yang mereka sandang akibat serangan stroke bukan hanya menjadi beban keluarga, tetapi juga beban masyarakat secara umum.

Penyebab Stroke (Bagian 3) | Gejala Stroke

This entry was posted in Stroke. Bookmark the permalink.