Persepsi Masyarakat terhadap Obat

Banyak orang yang kebingungan karena banyaknya obat yang beredar di pasaran sehingga membuat mereka sedikit berpikir atau justru tidak peduli sama sekali terhadap kualitas obat yang ada. Seiring derasnya arus iklan yang menggempur khalayak, baik di media visual, audio, maupun tekstual, maka semakin membuat mereka selalu bertanya, obat seperti apakah yang berkualitas dan aman untuk dikonsumsi ?

Tugas utama BPOM adalah melindungi masyarakat, bukan industri farmasi atau obat. Saat ini, banyak obat paten yang menyalahi aturan karena banyak obat dari luar negeri yang dibuang ke Indonesia dan di sini dianggap paten sehingga masyarakat tidak hanya kebingungan, bahkan menjadi korban. Sebaiknya, iklan obat dikemas secara umum dan memberi informasi yang berguna bagi masyarakat, seperti bahan aktif, efek samping, dan lain sebagainya sehingga masyarakat paham seputar penggunaan obat, walaupun dengan merek yang berbeda.

Sejatinya, dunia medis sendiri pun sedang ditantang untuk menganalisa banyak ragam pengobatan dan penyembuhan nonmedis yang membingungkan pasien. Harus diakui pula pengetahuan dokter tentang phytopharmaca, tumbuhan berkhasiat, dan jamu, tidak seluruhnya dikuasai.

Di mata medis pun, tidak semua obat tradisional aman dikonsumsi. Belum lagi menghadapi banjirnya pengobatan dan penyembuhan tradisional yang berkedok terapi alternatif. Namun, harus diakui bahwa ada pula terapi dan penyembuhan alternatif yang masuk akal medis.

Selama pengetahuan dan wawasan kesehatan konsumen belum tinggi, berbahaya jika iklan obat, terapi alternatif, dan obat tradisional yang menipu masyarakat belum juga ditindak. Dalam keseharian, masih banyak orang yang pergi ke orang pintar / dukun karena mereka sudah mencoba berbagai macam obat, baik medis maupun nonmedis yang belum mampu menyembuhkan penyakit mereka.

Di Amerika Serikat, yang masyarakatnya sudah sadar kesehatan pun, badan pengawasan obat Amerika (FDA) cukup diresahkan oleh iklan obat. Dalam setahun, FDA harus mengirimi tidak kurang 100 surat kepada perusahaan farmasi nakal. Mereka dihimbau untuk tidak memasang iklan obat yang menyesatkan, baik di TV, majalah, maupun koran. Rata-rata iklan obat menjanjikan klaim efektivitas obat secara berlebihan dan tidak seimbang (balance) dengan efek samping yang timbul atas penggunaan obat tersebut.

Bagi masyarakat kita yang masih belum semua “melek sehat”, pembuat iklan obat yang belum paham sepenuhnya tentang obat perlu diajak berunding. Media massa yang memuat iklan obat dan pengobatan nonmedis juga perlu diajak mempertajam nalar medis agar masyarakat tidak salah dalam memilih obat.

Sebagai gambaran, iklan obat tetes mata yang menjanjikan rabun jauh tak perlu pakai kacamata sukar diterima nalar medis, begitu pula dengan iklan obat kuat oles dari China, teknik memperbesar kemaluan, dan jamu sehat lelaki. Selain terkecoh boleh jadi membahayakan bagi penggunanya.

Kemudian, jika iklan obat kulit berisi bahan berbahaya mercury dibiarkan, konsumen berisiko terkena kanker kulit. Selain bahan berbahaya, mungkin akibat salah cara pakai karena tidak semua konsumen bisa baca aturan pakai dalam bahasa asing sehingga semakin memperburuk efek sampingnya.

Oleh karena itu, dalam berswamedikasi, masyarakat perlu kritis ketika memilih obat sehingga tidak membahayakan bagi diri mereka. Selain itu, pemasang iklan obat, biro iklan, dan siapa pun yang menawarkan pengobatan dan penyembuhan nonmedis, serta pemerintah perlu diajak bekerja sama dalam mendidik masyarakat agar sadar terhadap penggunaan obat.

Permasalahan Seputar ObatPengawasan dan Perlindungan Pemerintah terhadap Konsumen

This entry was posted in Hidup Sehat Tanpa Obat. Bookmark the permalink.