Plus Minus Obat-obatan

Obat Bagaikan Pisau Bermata Dua

Segala sesuatu pasti memiliki dua perbedaan yang sangat mencolok, baik positif maupun negatif, begitu juga dengan pengobatan. Pengobatan yang sedang Anda jalani bisa menyembuhkan atau justru memperparah kesehatan Anda. Berobat seakan menjadi percobaan, pindah ke rumah sakit satu ke rumah sakit lainnya ataupun dari pengobatan satu ke pengobatan lainnya.

Memang, tidak ada salahnya bagi Anda untuk selalu berusaha. Tetapi setidaknya, Anda sebagai pasien bisa memilih pengobatan yang lebih tepat, baik tempat pengobatan maupun jenis obat yang Anda konsumsi. Apalagi seiring dengan perkembangan industri obat yang semakin kompetitif, membuat pelaku industri mengindahkan etika bisnis. Hal ini terbukti dengan maraknya obat.

Pemerintah, khususnya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah melakukan banyak tugas, seperti inspeksi mendadak (sidak), penarikan obat terlarang, maupun penutupan usaha pembuat obat palsu. Namun, semua itu belum cukup karena begitu banyaknya pelanggaran yang tersebar di masyarakat luas.

Sebaiknya, Anda jangan hanya mengandalkan peran pemerintah saja. Anda pun harus lebih kritis terhadap obat itu sendiri sebagai langkah awal untuk lebih mengenal obat. Anda harus mengetahui seperti apa sejarah obat, permasalahan-permasalahan yang berkembang dalam masyarakat, dan siapa saja yang berperan di dalam pembuatannya.

Sejarah Obat

Pada mulanya, penggunaan obat dilakukan hanya berdasarkan pengalaman atau secara empiris. Selanjutnya, Paracelsus (1541 – 1493 SM) mengungkapkan bahwa untuk membuat sediaan obat, perlu adanya pengetahuan yang memadai mengenai kandungan zat aktif sehingga dia pun membuat obat dari bahan yang sudah diketahui zat aktifnya.

Hippocrates (459 – 370 SM) yang dikenal sebagai bapak kedokteran dalam praktik pengobatannya telah menggunakan lebih dari 200 jenis tumbuhan, sedangkan Claudius Galen (200 -129 SM) menghubungkan penyembuhan penyakit dengan teori kerja obat yang merupakan bidang ilmu farmakologi.

Sementara itu, Ibnu Sina (980 – 1037) telah menulis beberapa buku tentang metode pengumpulan dan penyimpanan tumbuhan obat serta cara pembuatan sediaan obat, seperti pil, supositoria, dan sirup. Dia pun menggabungkan beberapa pengetahuan seputar pengobatan dari berbagai negara, yaitu Yunani, India, Persia, dan Arab untuk menghasilkan pengobatan yang lebih baik.

Selanjutnya, Johann Jakob Wepfer (1620 – 1695) berhasil melakukan verifikasi efek farmakologi dan toksikologi obat pada hewan percobaan. Dia berkata, “I pondered at length, finally I resolved to clarity the matter by experiment”. Dia adalah orang pertama yang melakukan penelitian farmakologi dan toksikologi pada hewan percobaan. Percobaan pada hewan merupakan uji praklinik yang sampai sekarang merupakan persyaratan sebelum obat diuji coba secara klinis pada manusia. Dalam hal ini institut farmakologi pertama didirikan pada tahun 1847 oleh Rudolf Buchheim (1820 – 1879) di Universitas Dorpat, Estonia.

Di sisi lain, Oswald Schiedeberg (1838 – 1921) bersama dengan pakar disiplin ilmu lain menghasilkan konsep fundamental dalam kerja obat meliputi reseptor obat, hubungan struktur dengan aktivitas, dan toksisitas selektif.

Konsep tersebut juga diperkuat oleh T. Frazer (1852 – 1921) di Skotlandia, J. Langley (1852 – 1925) di Inggris, dan P. Ehrlich (1854 – 1915) di Jerman. Obat merupakan produk organik atau anorganik yang berasal dari tumbuhan yang dikeringkan atau segar, maupun bahan hewani ataupun mineral yang aktif dalam penyembuhan penyakit, tetapi dapat juga menimbulkan efek toksik bila dosisnya terlalu tinggi atau pada kondisi tertentu berakibat fatal terhadap si penderita.

Untuk menjamin tersedianya obat agar tidak tergantung kepada musim, maka tumbuhan obat diawetkan dengan cara pengeringan. Contoh tumbuhan yang dikeringkan pada saat itu adalah getah papaver somniferum (opium mentah) yang sering dikaitkan dengan obat penyebab ketergantungan dan ketagihan. Dengan mengekstraksi getah opium mentah, dihasilkan dengan senyawa, yaitu morfin, kodein, narkotin (noskapin), papaverin, dan lain sebagainya, yang ternyata memiliki efek yang berbeda satu sama lain, walaupun dari sumber yang sama. Dosis tumbuhan kering dalam pengobatan ternyata sangat bervariasi tergantung pada tempat asal tumbuhan, waktu panen, kondisi dan lama penyimpanan.

Oleh karena itu, untuk menghindari variasi dosis, F.W. Sertuerner, pada tahun 1804, memelopori isolasi zat aktif dan memurnikannya, dan melakukan sintesis secara kimia. Sejak itu, berkembang obat sintesis untuk berbagai jenis penyakit. Dalam sebuah perjalanan kehidupan, perubahan telah menjadi suatu keniscayaan. Selama perkembangan sejarah obat hingga kini, orang awam beranggapan bahwa seakan-akan obat terbagi dalam dua kubu, yaitu antara obat sintesis dan obat herbal. Apakah anggapan mereka terhadap keberadaan obat tersebut benar? Untuk lebih jelasnya, berikut adalah penjelasan seputar obat-obatan.

PurtierDefinisi dan Jenis Obat

This entry was posted in Hidup Sehat Tanpa Obat. Bookmark the permalink.