Polusi Penyebab Menurunnya Produksi Hormon Estrogen

Faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap menurunnya produksi hormon estrogen adalah polusi, terutama pencemaran logam-logam berat. Contoh, emisi gas dari knalpot kendaraan bermotor. Kadar gas buang kendaraan bermotor ini sangat tinggi di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Jogja, atau Surabaya. Akibatnya logam-logam berat, seperti merkuri, timbal, atau arsen banyak terhirup oleh penduduk. Dan bagi wanita, logam berat tersebut akan menurunkan sintesis hormon estrogen sehingga kadar hormon menjadi kacau.

Pencemaran logam berat ini memang sulit dihindari. Caranya, harus melakukan program detoksifikasi, yaitu pembuangan racun-racun yang ada dalam tubuh. Anda bisa minum beberapa suplemen, seperti magnesium dan seng yang mampu mengikat timbal maupun merkuri. Demikian juga kalsium dan vitamin C. Untuk mendapatkan vitamin dan mineral yang dapat mengikat logam-logam berat kemudian membuangnya, perlu mengkonsumsi makanan sehat yang mengandung berbagai vitamin, antioksidan, dan mineral. Contohnya, sayuran segar dan buah-buahan. Kurangi protein hewani, terutama daging merah, lemak (termasuk minyak goreng, mentega), minuman beralkohol dan berkarbonasi, rokok. Tak kalah pentingnya adalah melakukan olahraga teratur, minimal tiga kali seminggu. Dengan demikian, hormon-hormon kewanitaan Anda akan kembali seimbang, dan dengan demikian keluhan pramenopause akibat pencemaran logam berat bisa dikurangi.

Ada empat hormon yang berurusan dengan alat reproduksi wanita, yaitu estrogen, progesteron, FSH (follicle stimulating hormone), dan LH (luteinizing hormone). Estrogen dan progesteron berfungsi meregulasi menstruasi karena itu keluhan pramenopause dan perimenopause berhubungan dengan kedua hormon ini. Sedangkan FSH dan LH berperan dalam pembuahan.

Gejala pada pramenopause dan perimenopause bervariasi bergantung pada jenis hormon yang terganggu. Hot flashes, sakit kepala, uring-uringan, gatal-gatal di kulit misalnya, merupakan indikasi adanya gangguan pada hormon estrogen, yaitu penurunan kadar estrogen. Intervensi menggunakan bahan makanan dan suplemen, dapat mengurangi gejala perimenopause yang tidak nyaman tersebut. Namun jika Anda merokok, sebaiknya dihentikan; demikian juga hindari minuman keras dan minuman berkarbonasi. Konsumsi kedelai atau produk-produknya (tempe, tahu, susu kedelai) karena kedelai mengandung fitoestrogen (yaitu estrogen alami yang terdapat dalam tanaman). Sedangkan kekurangan progesteron mencetuskan gejala haid yang kacau dan sakit saat haid. Penanganannya lebih sulit, namun dapat dicoba dengan konsumsi suplemen atau makanan yang mengandung mineral magnesium, seng, selenium. Salah satu bahan makanan yang baik untuk meningkatkan progesteron adalah singkong.

Menurunnya kadar progesteron juga berakibat kacau balaunya jadwal pendarahan menstruasi, yang biasanya tujuh hari misalnya menjadi lima hari atau kurang. Dan satu hal yang juga penting dan patut mendapat perhatian, bahwa salah satu tugas progesteron adalah menghambat pertumbuhan sel-sel endometrium. Dengan menurunnya kadar progesteron, maka pertumbuhan sel-sel endometrium tidak lagi terhambat. Akibatnya bisa saja pertumbuhan sel-sel tersebut menjadi tidak terkendali sehingga menjadi endometrium hiperplasia yang memicu kanker rahim.

Jika kondisi hormonal berubah, maka tanpa disadari perasaan pun berubah menjadi mudah tersinggung, sering merasa sedih atau depresi tanpa sebab. Tidak diproduksinya lagi hormon estrogen akan menyebabkan banyak kerentanan kesehatan. Hormon estrogen bermanfaat antara lain menjaga kelangsungan sel-sel vagina agar dalam kondisi normal. Dengan berkurangnya atau menghilangnya estrogen, maka vagina akan menyusut dan kekurangan cairan. Akibatnya, hubungan seksual tidak lagi nyaman, terasa pedih bahkan nyeri karena tak ada lagi cairan vagina. Vagina kering juga mudah kena infeksi.

Kekurangan estrogen juga menyebabkan inkontinensia atau sulit menahan kencing alias ngompol, terutama jika pada saat yang sama ada infeksi pada saluran kemih. Hilangnya hormon-hormon perempuan juga berakibat mudahnya timbul penyakit-penyakit degeneratif, seperti jantung, hipertensi, diabetes, kanker, stroke, osteoporosis. Selain itu meningkatkan kadar kolesterol ‘jahat’ LDL, kadra gula darah, tekanan darah, dan berkurangnya elastisitas kulit.

Estrogen ternyata juga meningkatkan produksi neurotransmitter acetylcholine yang mengatur ingatan, pembelajaran, dan fungsi-fungsi kognitif lainnya. Dengan berkurangnya estrogen, maka daya ingat akan juga berkurang.

Berkurangnya dan kemudian menghilangnya hormon-hormon wanta tersebut juga berarti hilangnya perlindungan terhadap kesehatan jantung. Sebelum menopause, penderita penyakit jantung atau serangan jantung lebih banyak terjadi pada pria, namun keadaan menjadi terbalik dibanding dengan wanita yang telah menopause, yaitu serangan jantung jauh lebih tinggi dibandingkan pada pria. Demikian juga yang terjadi dengan penyakit osteoporosis, lebih banyak penderita wanita dibanding pria.

Tahapan Menopause | Masalah Menopause

This entry was posted in Menopause. Bookmark the permalink.