Stroke pada Usia Muda

Prognosis Stroke pada Usia Muda

Prognosis stroke pada usia muda merupakan isu yang sangat menarik untuk dibahas, terutama untuk melihat dampak stroke pada berbagai aspek kehidupan penyandangnya. Sebuah penelitian prospektif mengamati 30 pasien stroke usia muda (15 – 44 tahun) dengan masa follow up 96 bulan. Angka mortalitas pasien stroke secara bermakna lebih tinggi daripada populasi pada umumnya (standardized mortality ratio [SMR] 14.5, P<0.0001). Angka mortalitas pasien stroke secara bermakna lebih tinggi daripada tahun-tahun berikutnya (3.94%, 95% Cl 1.84 to 6.04). Luaran yang buruk terkait dengan jenis kelamin laki-laki, usia > 35 tahun, stroke pada saat masuk RS, dan adanya penyakit jantung (Marini, dkk, 1999).

Hasil penelitian Marini dkk (2001) menunjukkan bahwa angka fatalitas kasus dalam waktu 30 hari (30-day case-fatality rate) adalah 11.2% (95%Cl, 6.2-19.4). Pasien dengan perdarahan subarachnoid memiliki proporsi tertinggi untuk pulih sempurna, pasien dengan perdarahan intra celebral memiliki tingkat mortalitas yang paling tinggi (47%).

Penelitian prospektif selama 3 tahun dilakukan oleh Leys dkk (2002) pada 287 pasien stroke iskemik usia muda (15 sampai dengan 45 tahun). Hasil penelitian menunjukkan angka mortalitas tahun pertama adalah 4.5%, rekurensi di tahun pertama 1.4%, angka infark miokard 0.2%, epilepsi terjadi pada 6.6% kasus, 4.2% kasus kehilangan pekerjaannya, 7% bercerai, tetapi hanya 22.2% yang berhenti merokok.

Nedeltchev dkk (2005) melakukan penelitian pada 203 pasien stroke. Hasil pengamatan dalam waktu 3 bulan menunjukkan bahwa luaran klinik (clinical outcome) baik ada pada 68% kasus, tidak baik pada 29% kasus, dan kematian pada 3% kasus. Selama periode follow up rata-rata 26 bulan, didapatkan 13 kasus serangan stroke non fatal ulang, 2 kasus stroke yang fatal, dan 6 kasus serangan otak sepintas (transient ischaemic attack).

Faktor prediktor prognosis yang buruk adalah disabilitas yang berat, stroke sirkulasi anterior total, dan diabetes melitus. Stroke pada usia muda memiliki kekhasan tersendiri dalam faktor resikonya dibanding dengan stroke pada umumnya. Prognosis stroke pada usia muda juga merupakan isu tersendiri, mengingat dampak stroke pada kehidupan penderita dan keluarganya. Stroke merupakan penyebab kematian ketiga, namun penyebab kecacatan yang paling utama.

Stroke dapat menyerang segala usia. Penelitian WHO MONICA menunjukkan bahwa insidensi stroke bervariasi antara 48 sampai 240 per 100.000 per tahun pada populasi usia 45 sampai 54 tahun. Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan insidensi stroke pada usia di bawah 55 tahun adalah 113.8 per 100.000 orang per tahun. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan kurang lebih 10% stroke terjadi pada usia kurang dari 55 tahun. Stroke pada usia muda memiliki dampak yang sangat luas dan menimbulkan beban sakit yang panjang bagi penderita, keluarga, dan masyarakat.

Insidensi stroke pada wanita muda berkisar antara 4.3 sampai 8.9 per 100.000 per tahun di Amerika Serikat dan Eropa. Insidensi akan meningkat seiring dengan peningkatan usia. Stroke iskemik tanpa faktor resiko yang bermakna pada wanita usia 20 – 44 tahun adalah 0.9 per 100.000 per tahun.

Penelitian Marini dkk (2001) pada 4353 pasien stroke, 89 diantaranya berusia di bawah 45 tahun (55 laki-laki dan 34 perempuan) (2%). Usia rata-rata adalah 36.1 +- 8.1 tahun. Dua puluh pasien (22.5%) dengan perdarahan subarachnoid, 18 (20.2%) dengan perdarahan intra serebral, dan 51 (57.3%) dengan infark serebral. Proporsi ini sedikit berbeda dengan pasien yang berusia > 45 tahun, perdarahan subarachnoid hanya dijumpai pada 2.4% pasien. Hasil pencitraan memperlihatkan bahwa aneurisma intra kranial dan malformasi arteriovenosa didapatkan pada 20 dari 38 pasien (52.6%). Angka insidensi stroke usia muda adalah 10.18 per 100.000 (95% Cl 8.14 – 12.57).

Penelitian Nedeltchev dkk (2005) pada 203 pasien stroke usia muda (16 sampai 45 tahun) menunjukkan bahwa penyakit atherosklerotik arteri besar ada pada 4% kasus, kardioembolisme pada 24% kasus, penyakit pembuluh darah kecil 9%, penyebab lain 30%, dan tidak diketahui penyebabnya pada 33% kasus.

Faktor resiko stroke pada usia muda adalah hipertensi, penyakit jantung, dan diabetes melitus. Faktor resiko lain yang dilaporkan meningkatkan resiko stroke pada usia muda (terutama wanita) adalah merokok, sakit kepala migren (terutama tipe migren klasik), antibodi antiphospholipid, penggunaan kontrasepsi hormonal, dan konsumsi alkohol yang berlebihan.

Penelitian Nightingale dan Farmer (2004) menunjukkan bahwa insidensi stroke pada wanita usia muda (5 – 49 tahun) adalah 3.56 per 100.000 per tahun. Faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan resiko stroke pada usia muda adalah penyakit jantung (OR=10.5), konsumsi alkohol yang berlebih (OR=8.5), riwayat thromboembolisme vena (OR=6.2), diabetes melitus (OR=4.7), hipertensi (OR=4.6), migren (OR=2.3), dan penggunaan kontrasepsi oral (OR=2.3).

Penelitian You dkk (1997) pada 201 pasien stroke usia muda (15-55 tahun) menunjukkan bahwa faktor resiko yang signifikan adalah diabetes (OR=11.6, 95% Cl 1.2-115.2), hipertensi (OR=6.8, 95% Cl 3.3-13.9), penyakit jantung (OR=2.7, 95% Cl 1.1-6.4), merokok sigaret (OR=2.5, 95% Cl 1.3-5.0), dan konsumsi alkohol dalam jumlah banyak (60 g/d) (OR=15.3, 95% 1.0-232).

Permasalahan yang muncul adalah transisi epidemiologi dalam berbagai faktor resiko stroke (misalnya hipertensi dan diabetes) akan semakin meningkatkan angka kejadian stroke pada usia muda. Pemahaman tentang berbagai faktor resiko lain yang spesifik pada usia muda mutlak diperlukan.

Walaupun anak-anak usia muda menunjukkan kesembuhan yang jauh lebih baik atau defisit motorik dan artikulasi setelah stroke dibandingkan orang usia lanjut dan dewasa, banyak anak-anak mengalami gejala sisa defisit neurologis yang jelas. Salah satu yang menjadi masalah utama adalah epilepsi dan hampir semua anak dengan hemiplegia disertai dengan kejang-kejang saat onset akan mengalami serangan epilepsi berikutnya. Banyak anak dengan defisit motorik juga mengalami gangguan intelektual dan perilaku hiperkinetik.

Proses penyembuhan stroke di usia muda lebih cepat dibandingkan jika terkena stroke pada usia lanjut. Apapun penyebabnya, stroke pada usia muda cenderung lebih ‘menguntungkan’ karena penderitanya lebih muda dan jenis lakuner (ringan dan tidak berdarah) jika ditangani dengan benar akan sembuh, mandiri, dan pulihnya lebih cepat serta lebih baik. Stroke pada orang muda karena faktor hipertensi relatif lebih mudah diatasi karena keadaan organnya rata-rata masih bagus. Secara umum, daya tahan tubuh mereka pun lebih baik. Paling penting adalah bahwa selain faktor genetik, kejadian resiko terkena stroke dapat dicegah dengan mengikuti gaya hidup sehat dan pemeriksaan laboraturium secara teratur.

Pada usia muda dan wanita muda, stroke sering disebabkan oleh cacat pembuluh darah bawah (malformasi arteria vena, eneurisma) dan cacat jantung bawaan, sindrom antibodi antikardiolipid, stres, alkohol, faktor keturunan (gen), penyalahgunaan narkoba, pola makan yang salah, merokok, riwayat stroke keluarga, defisiensi protein darah dan kelainan gen, keguguran yang berulang tanpa sebab, migren, kontrasepsi oral, kurang olahraga, dan gaya hidup yang tidak sehat.

Pengertian Stroke (Bagian 2) | Penyebab Stroke (Bagian 1)

This entry was posted in Stroke. Bookmark the permalink.