Suntikan Alergi

Pemberian suntikan alergi, lebih tepat disebut “i-munoterapi alergen spesifik” atau “terapi vaksin alergen”, adalah salah satu bentuk pengobatan kuno untuk rinitis alergi dan konjungtivitas. Pada abad ke 20, ditemukan bahwa penyuntikan alergen rumput dengan peningkatan dosis bertahap kepada pasien yang mengidap hay fever di musim semi menghasilkan perbaikan gejala mata dan hidung musiman yang signifikan. Sekarang dikenali bahwa, penyuntikan ekstrak alergenik dalam jumlah besar, meliputi tepung sari rumput-rumputan, tepung sari pohon, tepung sari alang-alang, tungau debu rumah, serpih kulit mati kucing dan anjing, kecoa, dan jamur, dapat menurunkan gejala rinitis musiman atau sepanjang tahun pada sampai 80% pasien.

Imunoterapi alergi biasanya diberikan pada pasien yang (1) tidak memperlihatkan respons yang memadai terhadap obat-obatan; (2) mengalami efek samping yang nyata terhadap obat-obatan; (3) mulai mengalami gangguan pada bagian saluran pernapasan yang lain pada penyakit alergi mereka, seperti asma, sinusitis, atau penyakit telinga bagian tengah; dan (4) memerlukan obat dalam jumlah besar yang mengakibatkan biaya tinggi bagi pasien. Imunoterapi diberikan satu sampai dua kali setiap minggu sedangkan dosis alergen dinaikkan selama periode 4 sampai 6 bulan (fase peningkatan). Setelah pasien mencapai dosis ekstrak alergen yang maksimal, jarak waktu pemberian dinaikkan menjadi 4 minggu, yang terus berlanjut kira-kira 3 sampai 4 tahun (fase pemeliharaan), tergantung respons pasien. Manfaat klinis dapat terlihat segera setelah 3 bulan penyuntikan awal, tetapi tidak nyata terlihat sampai pasien mencapai dosis penuh pemeliharaan paling sedikit selama 3 bulan (imunoterapi biasanya 9 sampai 12 bulan). Sebagian besar penelitian jangka panjang memperlihatkan nilai rata-rata perbaikan 50% dibandingkan dengan nilai dasar dan manfaat ini akan bertahan paling sedikit 2 sampai 3 tahun setelah terapi dihentikan. Banyak pasien merasakan perbaikan gejala alergi untuk selama-lamanya, sedangkan beberapa orang membutuhkan suntikan ulang setelah 1 tahun imunoterapi dihentikan.

Efek samping yang paling umum dari terapi vaksin alergi adalah kemerahan lokal yang luas, hangat, dan gatal pada kulit di tempat suntikan, yang terjadi dalam waktu beberapa menit sampai jam setelah disuntik. Reaksi ini terjadi paling sedikit pada 10% pasien selama program penyuntikan alerginya dan jarang mencegah pasien untuk mencapai dosis penuh pemeliharaan dari kestrak alergenik. Pengobatan reaksi secaralangsung meliputi kompres dingin dan antihistamin oral. Jika reaksi lokal ini menjadi berulang dan mengganggu, pemberian antihistamin H1 oral, seperti cetirizine (10 mg) atau loratadine (10 mg), 2 jam sebelum penyuntikan mungkin menolong. Jika pengobatan tersebut tidak menolong, maka dokter dapat menambahkan antihistamine H2 yaitu ranitidine (150 mg) atau blokade leukotriene yaitu montelukast (10 mg), yang dapat memberikan manfaat tambahan.

Yang lebih mengkhawatirkan daripada reaksi kulit lokal yang luas adalah kemungkinan reaksi sistemik. Reaksi ini biasanya terjadi dalam 20 sampai 30 menit setelah penyuntikan, dan reaksi sistemik ringan meliputi biduran/kaligata, kulit memerah dan kulit gatal, dan hidung berair. Kejadian yang lebih serius biasanya adalah mengi, pembengkakan tenggorok, dan/atau tekanan darah turun. Reaksi yang lebih hebat berkaitan dengan anafilaksis, dan disertai dengan penurunan tekanan darah yang signifikan (>90/60 mm Hg) disebut sebagai syok anafilaktik. Survei populasi besar suntikan alergi memperlihatkan kira-kira 1 dari 200 suntikan akan menimbulkan beberapa tipe reaksi sistemik; jadi sebagian besar pasien yang mendapatkan suntikan alergi tidak mengalami reaksi sistemik. Kontra indikasi untuk memulai suntikan alergi meliputi kehamilan, penyakit jantung iskemik, asma yang tidak terkontrol, dan penyakit autoimun yang aktif, seperti sistemik lupus eritematosus.

Obat suntik omalizumab (Xolair) adalah obat baru yang telah disetujui untuk pengobatan asma alergi sepanjang tahun. Obat ini mengandung antibodi terhadap IgE, yang disuntikkan sekali sampai dua kali per bulan. Karena mahal, obat ini umumnya disimpan untuk pasien dengan asma alergi sangat berat. Setelah pengobatan beberapa bulan, serangan asma menjadi jarang secara signifikan, kebutuhan obat asma menurun, dan kualitas hidup pasien meningkat. Bersamaan dengan semua perbaikan pada asma, gejala hidung juga memperlihatkan perbaikan signifikan. Ketika obat digunakan untuk pasien dengan hay fever musiman, gejala hidung dan mata alergi menurun dengan cepat dan tetap ringan pada waktu pasien diobati dengan obat itu. Hal yang sama, pada pasien alergi sepanjang tahun yang disebabkan tungau debu dan serpih kulit mati binatang, gejala menjadi lebih baik setelah beberapa minggu, dan kebutuhan obat oral antihistamin menurun. Oleh sebab itu, jika pasien menderita asma dan rinitis alergi, Xolair dapat berguna.

Gejala Mata pada Alergi Hidung | Akupunktur dan Produk Herbal

This entry was posted in Alergi. Bookmark the permalink.